Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik kaca. Foto: olx.co.id

Pabrik kaca. Foto: olx.co.id

Semester I, Pertumbuhan Industri Kaca Lembaran Tak Capai Target

Sabtu, 3 Agustus 2019 | 13:10 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA - Industri kaca lembaran hanya mencatatkan pertumbuhan penjualan sekitar 4,5% pada semester I-2019 menjadi 370 ribu ton, di bawah target yang ditetapkan sebanyak 5%. Pencapaian itu juga masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang diyakini menembus 5%.

"Pertumbuhan masih di bawah harapan, karena memang permintaan di sektor properti dan otomotif juga sepertinya belum marak. Padahal dua sektor itu merupakan pangsa pasar utama produk kaca lembaran," kata Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengamanan Indonesia (AKLP) Yustinus H Gunawan kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Yustinus mengungkapkan, penjualan kaca dari sektor otomotif mengontribusi sekitar 20%, sementara sektor properti mencapai 75%. Dia berharap, permintaan kaca lembaran di semester II mulai meningkat. "Kami sangat berharap daya saing juga meningkat, karena di dalam negeri kita juga harus melawan produk impor," ujar dia.

Penjualan kaca lembaran, kata Yustinus, masih didominasi untuk pasar domestik sekitar 65-70%. Sementara sisanya dipasarkan untuk ekspor.

Yustinus mengakui, pihaknya kesulitan untuk menggenjot ekspor, karena tidak bisa bersaing dengan produk sejenis dari negara lain. Lemahnya daya saing produk kaca lokal karena besarnya biaya produksi akibat harga gas yang tinggi, sehingga dari sisi harga jual produk sulit untuk bersaing.

Sebagai gambaran, menurut dia, industri kaca lembaran harus membeli gas dengan harga US$ 8-9 MMBTU, sementara negara kompetitor seperti Malaysia hanya US$ 6-7 MMBTU.

"Kompetitor utama masih Tiongkok, tapi belakangan ini kita juga harus menghadapi Malaysia yang semakin ekspansif," ujar dia.

Yustinus menekankan, industri harus mengalokasikan sebagian produk ke pasar ekspor untuk mendapatkan penjualan dalam dolar Amerika Serikat. "Kita memang harus ekspor untuk bisa belanja bahan baku yang belum bisa diproduksi di dalam negeri," terang dia.

Yustinus masih berharap, target pertumbuhan industri kaca lembaran bisa mencapai 5% pada tahun ini. Meski, itu berarti industri harus mengejar penjualan yang cukup besar di semester II untuk menutup kekurangan di semester I.

"Kami tetap mengejar pertumbuhan 5% hingga akhir tahun," tegas dia.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN