Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.  Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Serap 16 Juta Pekerja, Airlangga Hartarto: Industri Kelapa Sawit Perlu Dikawal

Sabtu, 6 Februari 2021 | 19:01 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri kelapa sawit nasional telah berkontribusi untuk menuntaskan kemiskinan dan menciptakan lapang kerja terhadap 16 juta pekerja. Oleh karena itu  industri kelapa sawit merupakan sektor strategis yang perlu dikawal tidak hanya oleh pemerintah namun oleh seluruh komponen masyakat.

Saat banyak sektor ekonomi terdampak akibat pandemi Covid-19 industri sawit menjadi satu dari sedikit industri nasional yang tidak terkena dampak pandemi Covid-19.

“Kegiatan operasional perkebunan tetap berjalan dan tetap memberlakukan protokol kesehatan yang ketat sehingga 16 juta pekerja di sektor sawit tettap terjaga kesejahteraannya di tengah kelesuan ekonomi sepanjang tahun 2020 lalu,” ucap Airlangga dalam Webinar Nasional “Peran Kelapa Sawit Terhadap Pembangunan Ekonomi Nasional”, Sabtu (6/2)

Airlangga mengatakan Indonesia merupakan produsen minyak sawit utama yang menguasai 55% pangsa pasar dunia dan komoditas ini berkonstribusi terhadap 3,5% pertumbuhan ekonomi nasional. Keunggulan kelapa sawit dibandingkan komoditas kelapa sawit lainnya adalah produktivitas yang lebih tinggi. Sehingga tidak membutuhkan luas lahan yang banyak.

“Untuk menghasilkan satu ton minyak sawit hanya membutuhkan lahan 0,3 hektar sementara rapseed oil cukup butuh 1,3 hektar dan sunflower membutuhkan 1,5 hektar, dan soya bean membutuhkan 2,2 hektar,” ucap Airlangga.

Namun perdagangan komoditas minyak kelapa sawit masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kampanye negatif dari negara lain. pemerintah bersama stakeholder kelapa sawit telah melakukan upaya diplomasi, advokasi, dan kampanye positif terhadap kampanya negatif yang ditunjukkan kepada kelapa sawit.

“Pemerintah. Indonesia secara resmi telah melakukan gugatan di WTO terkait kebijakan diskriminasi terhadap kelapa sawit, penyamaan persepsi antara narasi bersama antara kelapa sawit Indonesia berbasis scientific evidence dikembangkan oleh pemerintah,” ucap Airlangga.

Sementara itu Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman mengatakan  dari sisi perekonomian regional keberadaan perkebunan kelapa sawit yang tersebar di 190 kabupaten di Indonesia telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah sentra.

“Berdasarkan perhitungan statistik peningkatan produksi CPO sebgai produk utama kelapa sawit berpengaruh positif dan signifikan terhadap perekonomian di daerah daerah sentra perkebunan kelapa sawit,” ucapnya.

Eddy mengatakan sawit sebagai komoditas yang paling produktif menyumbang 42% dari total suplai minyak nabati dunia, pertumbuhan permintaan minyak nabati dunia meningkat 8,5 juta metrik ton setiap tahun.  Dalam kondisi pandemi Covid-19 sawit masih memperlihatkan kinerja ekspor yang baik. Walaupun ekspor sawit tahun 2020 sedikit menurun namun hal ini  terjadi karena dampak kekeringan yang terjadi tahun 2019.

“Hal ini membuktikan ketahanan industri sawit Indonesia terhadap krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Petani terjamin kesejahteraannya di tengah kelesuan ekonomi. Operasional di perkebunan sawit tetap berjalan normal dengan protokol kesehatan ketat,” ucapnya.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN