Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Adrianto P Adhi, presiden direktur PT Summarecon Agung Tbk

Adrianto P Adhi, presiden direktur PT Summarecon Agung Tbk

Penanganan Covid-19

Summarecon Gulirkan Karantina Sehat di Proyek Properti

Rabu, 6 Mei 2020 | 13:59 WIB
Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Jakarta, Investor.id  – PT Summarecon Agung Tbk (Summarecon) meyakini bahwa jika pandemi corona virus disease (Covid-19) cepat selesai, kian cepat pula kehidupan sosial ekonomi kembali normal, termasuk di bisnis properti. Karena itu, pengembang properti ini fokus memutus mata rantai penyebaran pandemi, selain menjaga kinerja perusahaan.

“Salah satu yang kami lakukan dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan apa yang kami sebut karantina sehat bagi para pekerja proyek Summarecon yang tersebar di berbagai kota,” jelas President Director PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P Adhi, kepada Investor Daily, dalam teleconference dari Jakarta, Selasa (5/5).

Dia menambahkan, saat ini, ada sekitar 1.700 pekerja proyek properti Summarecon yang tersebar di Serpong, Bekasi, Karawang, Bandung, Bogor, dan Makassar. Para pekerja diberi tempat tinggal di lingkungan proyek, termasuk makan pagi dan makan malam. Selain itu, menerapkan protokol kesehatan sesuai standar pemerintah. “Tujuannya agar para pekerja tetap sehat dan proyek tetap berjalan. Kami ingin memutus mata rantai penyebaran virus. Semakin cepat selesai, pemulihan dunia usaha juga makin cepat,” ujarnya.

Upaya lainnya, tambah Adrianto, kepada konsumen yang sudah membeli hunian dan tinggal di lingkungan proyek Summarecon, pihaknya bersama town management, menerapkan protokol kesehatan. “Para town management juga membantu jika ada warga yang melakukan isolasi mandiri serta bergotong royong membantu warga yang terdampak Covid-19,” tutur dia.

Di lingkungan kantor, selain menerapkan bekerja dari rumah (work from home/WFH) juga senantiasa menerapkan protokol kesehatan. Pusat perbelanjaan atau mal yang dimiliki Summarecon juga ditutup sementara, kecuali untuk pedagang kebutuhan sehari-hari dan kesehatan. “Kami juga melakukan corporate social responsibility (CSR) mendonasikan alat perlindungan diri (APD) bagi para tenaga medis dan petugas keamanan. Sudah lebih 12 ribu unit APD yang kami sumbangkan,” urai Adrianto.

Selain itu, tambahnya, Summarecon juga membagikan kebutuhan pokok bagi warga yang terdampak, terutama mereka yang berada di lingkungan proyek perseroan. Aksi sosial bagi warga terdampak ini termasuk membuat dapur umum di kawasan Jurangmanggu, Tangerang Selatan. “Sekitar 20 ribu paket sembako dan 2.500 paket di dapur umum yang kami gulirkan,” ujar dia.

 

Bisnis Properti

Sementara itu, jelas Adrianto, pihaknya memaksimalkan pemasaran digital guna mendukung program jaga jarak (physical distancing). Konsumen dapat melihat produk yang ingin dibeli secara virtual. “Kami juga memaksimalkan pemakaian media sosial untuk memasarkan produk,” paparnya.

Di sisi lain, tambah dia, pihaknya juga membantu keringanan cara bayar calon konsumen maupun pembeli yang sedang dalam tahap mengangsur. “Terkait produk properti, kami juga mengantisipasi kebutuhan masa depan konsumen. Covid-19 mengubah perilaku dan sikap calon konsumen properti. Salah satu produk yang kami siapkan adalah hunian yang bersahabat dengan konsep bekerja dari rumah,” ujar Adrianto.

Dia mengaku, Summarecon belum merevisi target marketing sales tahun 2020 yang sebesar Rp 4,5 triliun. Dalam kondisi normal, target tersebut dinilai sangat optimistis mengingat torehan 2019 yang mencapai Rp 4,1 triliun. “Kami belum merevisi target, walau tidak tertutup kemungkinan ada revisi. Hal itu tergantung kapan selesainya wabah Covid-19,” katanya.

Adrianto menilai, para pengembang properti membutuhkan relaksasi guna mengatasi dampak Covid-19. Relaksasi yang digulirkan pemerintah seperti perpajakan dan kredit perbankan, dapat meringankan dunia usaha.

Sementara itu, DPP Real Estat Indonesia (REI) meminta relaksasi untuk sektor properti diperluas guna keluar dari keterpurukan akibat didera Covid-19. Sektor real estat mencakup 13 bidang usaha dan memiliki linkage terhadap 174 industri turunan serta menaungi 20 juta tenaga kerja yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Dibutuhkan relaksasi kebijakan yang lebih luas lagi, sehingga dunia usaha mampu survive dan bertahan di masa-masa sulit ini termasuk agar tetap bisa memutar roda usaha dan meminimalisasi terjadinya PHK (pemutusan hubungan kerja) di industri properti,” ujar Ketua Umum DPP REI Paulus Totok Lusida, dalam siaran pers di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menegaskan, hampir dapat dipastikan seluruh bidang usaha real estat merugi, padahal kontribusi sektor real estat sangat besar terhadap perekonomian nasional. Sektor real estat mencakup 13 bidang usaha dan memiliki linkage terhadap 174 industri turunan serta menaungi 20 juta tenaga kerja yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu, pukulan terhadap bisnis properti tentunya akan berdampak besar juga terhadap ekonomi nasional.

Menurut Totok, REI meminta adanya restrukturisasi kredit tanpa mengurangi peringkat kolektabilitas. Kelangsungan bisnis real estat saat ini sangat bergantung terhadap kebijakan perbankan sehingga REI meminta dapat dilakukan penghapusan bunga kredit selama enam bulan. “Atau dilakukan penangguhan pembayaran bunga dan angsuran pokok selama 12 bulan,” kata dia.

 

Editor : Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN