Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan Bank menghitung uang dolar Amerika Serikat saat penukaran mata uang tersebut di Bank BCA Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia, di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan Bank menghitung uang dolar Amerika Serikat saat penukaran mata uang tersebut di Bank BCA Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

ULN Kuartal I Tumbuh Melambat Tercatat US$ 389,3 Miliar

Triyan Pangastuti, Jumat, 15 Mei 2020 | 23:15 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia kuartal I 2020 sebesar US$ 389,3 miliar atau sekitar Rp 5.835 triliun (kurs Rp 15.000/US$). Angka ini melambat hanya tumbuh 0,5% dibanding periode kuartal sebelumnya yang tumbuh 7,8%.

Utang luar negeri terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar US$ 183,8 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$ 205,5 miliar.

"Perlambatan ini terjadi karena penurunan ULN publik dan perlambatan pertumbuhan ULN swasta," tulis BI dalam keterangan resmi, Jumat (15/5).

Secara rinci komposisiutang luar negeri Pemerintah pada kuartal I tercatat US$ 181,0 miliar atau terkontraksi -3,6% yoy, hal ini berbalik dibandingkan kondisi pada kuartal sebelumnya tumbuh sebesar 9,1%.

Penrunan Penurunan posisi ULN Pemerintah tersebut antara lain dipengaruhi oleh arus modal keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pembayaran SBN yang telah jatuh tempo.

Utang luar negeri pemerintah diperuntukkan untuk sektor produktif tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,1% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,3%), sektor jasa pendidikan (16,0%), sektor jasa keuangan dan asuransi (13,3%), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,5%)

“Pengelolaan ULN pemerintah ini dilakukan secara hati-hati dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas pada sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Kemudian ULN swasta tercatat tumbuh 4,5% lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 6,65. Hal ini disebabkan adanya kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan dan melambatnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan. ULN lembaga keuangan minus -2,3% dibandingkan kuartal sebelumnya 3,6%.

BI mencatat untuk ULN perusahaan bukan lembaga keuangan juga tumbuh melambat dari 7,6% pada kuartal IV 2019 menjadi 6,7% pada kuartal I 2020.

Sektor ULN dengan pangsa terbesar yakni jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin, pertambangan dna penggalian serta industri pengolahan.

Menurut BI posisi ULN masih didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa 88,4% dari total ULN. Dengan kondisi ULN ini masih sebesar 34,5% turun dibandingkan rasio pada kuartal sebelumnya 36,2%," tulis keterangan tersebut.

“Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat BI dan pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,”tulis BI. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN