Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Erwin Haryono

Erwin Haryono

Utang LN RI Naik 3,9% Jadi US$ 416,6 Miliar

Jumat, 15 Januari 2021 | 11:18 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir November 2020 tercatat sebesar US$ 416,6 miliar atau meningkat 3,9% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (yoy). Peningkatan utang LN tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,3% (yoy).

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono merinci, utang sebesar US$ 416,6 miliar itu terdiri atas ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar US$ 206,5 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$ 210,1 miliar.

“Pertumbuhan ULN Indonesia pada akhir November 2020 terutama disebabkan oleh peningkatan penarikan neto ULN pemerintah. Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada peningkatan nilai ULN berdenominasi rupiah,” ujar Erwin dalam siaran persnya, Jumat (15/1).

Menurut dia, posisi ULN pemerintah pada akhir November 2020 tumbuh 2,5% (yoy) menjadi sebesar US$ 203,7 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Oktober 2020 yang sebesar 0,3% (yoy).

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh kepercayaan investor yang terjaga sehingga mendorong aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta penarikan sebagian komitmen pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan pandemi Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” papar dia.

Erwin menegaskan, ULN pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas, yang di antaranya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,8% dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,6%), sektor jasa pendidikan (16,6%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,8%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (11,2%).

 

Tumbuh Melambat

Sementara itu, pertumbuhan ULN swasta pada akhir November 2020 tercatat 5,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 6,4% (yoy). Perkembangan ini disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) dari 8,3% (yoy) pada Oktober 2020 menjadi sebesar 7,2% (yoy). Bahkan, ULN lembaga keuangan (LK) mencatat kontraksi 1,4% (yoy).

Berdasarkan sektornya, Erwin memaparkan, ULN terbesar dengan pangsa mencapai 77,0% dari total ULN swasta bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi; sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA); sektor industri pengolahan; serta sektor pertambangan dan penggalian.

Erwin menyatakan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir November 2020 sebesar 39,1%, relatif stabil dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 38,8%.

Sementara itu, lanjut dia, struktur ULN Indonesia yang tetap sehat tercermin dari besarnya pangsa ULN berjangka panjang yang mencapai 89,3% dari total ULN. “Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” kata dia.

Selain itu, peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN