Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perdagangan kripto.

Ilustrasi perdagangan kripto.

Dibayangi Sentimen Negatif, Investor Aset Kripto Cenderung Gamang

Sabtu, 11 Juni 2022 | 07:04 WIB
Majalah Investor (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Aktivitas pasar  kripto seminggu terakhir masih mengalami tekanan. Meski, sempat rebound pada tengah pekan, tren tersebut tidak berlanjut. Akibatnya investor cenderung gamang untuk terlibat aktif di pasar.

Umumnya selama sepekan ini aset kripto yang masuk kelompok big cap bergerak ke zona merah. Bitcoin misalnya, diperdagangkan dengan pada kisaran $ 30.070 atau turun 1,28% dalam 24 jam, seperti terpantau dari situs CoinMarketCap, Jumat (10/6) pukul 15.00 WIB.

Advertisement

Afid Sugiono dari Tokocrypto mengatakan, perdagangan Bitcoin kemungkinan besar masih akan berada pada kisaran $ 30.000 dalam jangka pendek. Alasannya, investor masih menunggu laporan inflasi ekonomi AS yang dapat memicu ekspektasi pasar.

"Pergerakan nilai Bitcoin kemungkinan besar masih akan sideways di level $ 30.000. Investor sepertinya masih bakal kurang bergairah masuk ke pasar kripto lantaran wait and see data inflasi AS terbaru dan dampak pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa. Jika inflasi AS masih meradang, maka ada kemungkinan The Fed bakal mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin pada bulan ini," kata Afid.

Seperti diketahui, Bank Sentral Eropa telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya yang pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir untuk mengatasi inflasi yang meroket. Kebijakan tersebut bisa jadi sinyal bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Diperkirakan inflasi di AS masih menembus jauh di atas 8%, level tertinggi dalam empat dekade.

"Ketika The Fed mengerek suku bunga acuannya, maka tingkat imbal hasil instrumen berpendapatan tetap bakal meningkat, begitupun dengan nilai dolar AS. Alhasil, aset berisiko jadi dipandang tidak menarik dan menjadi lebih mahal di mata investor," ujar Afid.

Keputusan Bank Dunia yang memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 4,1% menjadi 2,9% di tengah kekhawatiran inflasi memicu kegalauan di pasar. Sementara itu, dampak invasi Rusia ke Ukraina berlanjut pada harga minyak mentah yang melonjak.

Stagnasi pasar kripto juga disebabkan oleh keragu-raguan investor soal titik bottom harga aset kripto, sehingga belum melakukan strategi buy the dip. Meski, aset kripto diperdagangkan di rentang harga yang gitu-gitu aja dalam beberapa waktu terakhir, sebagian investor yakin bahwa titik harga saat ini bukanlah titik terendahnya.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Majalah Investor

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN