Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembeli menunjukan emas batangan. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pembeli menunjukan emas batangan. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kilau Emas Meredup

Jumat, 5 Maret 2021 | 06:56 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Kilau emas makin meredup tersapu oleh kenaikan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), emas memperpanjang penurunannya untuk hari kedua berturut-turut, setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan tidak ada langkah segera untuk mengatasi lonjakan imbal hasil obligasi.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange, turun lagi US$ 15,10 atau 0,88% menjadi US$ 1.700,70 per ounce, terendah sejak Juni, setelah menyentuh level terendah di level US$ 1.693,90 per ounce.

"Harga emas sekali lagi berada di bawah tekanan karena imbal hasil riil telah melonjak menyusul kekecewaan pasar atas pernyataan Ketua Fed Powell," kata analis Standard Chartered, Suki Cooper.

Ketua Federal Reserve mengatakan di webinar Wall Street Journal pada Kamis (4/3/2021) bahwa dia akan prihatin tentang pergerakan tidak teratur di pasar obligasi yang mendorong dolar AS menguat, tetapi menyatakan itu belum berdampak material pada kondisi keuangan.

Kenaikan imbal hasil AS baru-baru ini telah mengikis daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi karena meningkatkan potensi kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun naik melewati 1,5% pada Kamis (4/3/2021).

Sementara itu, dolar mencapai puncaknya sejak Desember 2020. Emas kemungkinan akan bergerak lebih rendah dari sini, kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago mengatakan, likuiditas ETF (Exchange Traded Funds) - reksa dana terbuka berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa- juga masih sangat kuat. "Terlalu banyak orang yang membelinya di tingkat yang lebih tinggi ini ," tambah Streible.

Kepemilikan ETF berbasis emas terbesar di dunia, SPDR Gold Trust, turun ke level terendah sejak Mei 2020 pada Rabu (3/3/2021).

Sementara itu, data ekonomi yang dirilis pada Kamis (4/3/2021) beragam. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa 745.000 mengajukan klaim pengangguran awal pada pekan yang berakhir 27 Februari, lebih tinggi dari 736.000 klaim yang diajukan pada pekan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa ekonomi AS masih jauh dari pemulihan.

Departemen Perdagangan AS juga melaporkan pesanan pabrik melonjak 2,6% pada Januari, setelah naik 1,6% pada Desember. Investor juga menunggu laporan pekerjaan bulanan Februari yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei turun 92,6 sen atau 3,51% menjadi US$ 25,461 per ounce. Platinum untuk pengiriman April anjlok US$ 46,5 atau 3,93% menjadi US$ 1.135,30 per ounce.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN