Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Minyak

Ilustrasi Minyak

Potensi Tambahan Pasokan Venezuela Bebani Pergerakan Minyak

Rabu, 18 Mei 2022 | 10:48 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut, harga minyak pagi ini terpantau bergerak terkonsolidasi dipicu oleh potensi tambahan pasokan dari Venezuela serta terhambatnya rencana UE untuk mengembargo minyak Rusia. Meski demikian, di saat yang sama laporan terbaru dari OPEC+ serta data stok minyak dari API mendukung pergerakan harga minyak.

Pemerintahan Biden memberi wewenang kepada perusahaan minyak asal AS, Chevron Corp, untuk membuka pembicaraan dengan pemerintah Maduro, dan sementara mencabut larangan diskusi semacam itu, kata pejabat senior AS pada hari Selasa.

“Sinyal AS meringankan beberapa sanksi pada Venezuela memicu harapan akan dilanjutkannya kembali kontak antara Chevron dan PDVSA, yang sekaligus berpotensi memulihkan produksi minyak Venezuela yang merupakan negara pemilik cadangan minyak mentah terbesar pertama dunia,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya, Rabu (18/5/2022).

Baca juga: Musk Tidak Beli Twitter Tanpa Kejelasan Soal Akun Spam

Tim riset ICDX menyebut, turut membebani pergerakan harga minyak, Hungaria belum menunjukkan isyarat mendukung usulan embargo minyak Rusia, yang membuat rencana Uni Eropa (UE) tersebut berpotensi terhambat lebih lanjut. Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban menekankan bahwa dibutuhkan biaya setidaknya 770 juta Euro atau setara US$ 810 juta jika Hungaria turut menyepakati embargi tersebut, dimana 550 juta Euro diperlukan untuk merombak kilangnya, dan 220 juta Euro lagi untuk jaringan pipa dari Kroasia.

UE diperkirakan akan mengusulkan beberapa investasi minggu ini untuk membantu negara-negara yang paling bergantung pada pasokan Rusia, termasuk kelonggaran bagi Hongaria dan Slovakia hingga akhir 2024 untuk berpartisipasi dalam embargo, dan Republik Ceko hingga Juni tahun yang sama.

Sementara itu, dalam laporan yang dirilis hari Selasa oleh OPEC+ menunjukkan bahwa produksi minyak mentah Rusia pada bulan April mencapai 9,16 juta bph atau turun sekitar 860 ribu bph dari produksi bulan Maret, dan hampir 1,2 juta bph di bawah output Arab Saudi. Penurunan produksi tersebut merupakan yang paling tajam sejak tahun 1990-an saat runtuhnya Uni Soviet.

Baca juga: Pastikan Layanan Haji Siap, Menag Yaqut Bertolak ke Saudi

Selain Rusia, produsen Afrika Barat Nigeria dan Angola, juga memproduksi masing-masing 413 ribu bph dan 290 ribu bph di bawah target, sehingga secara keseluruhan menyebabkan output OPEC+ turun 2,6 juta bph di bawah komitmen produksi yang disepakati untuk bulan April.

Dari AS, Tim riset ICDX menyebut, persediaan minyak mentah dalam sepekan dilaporkan merosot turun sebesar 2,45 juta barel, ungkap data dari grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 13 Mei. Laporan API tersebut mengindikasikan laju permintaan yang positif di pasar energi AS. Meski demikian, pasar masih menantikan rilis angka resmi versi pemerintah yang akan dirilis malam nanti oleh Energy Information Administration (EIA).

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 115 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 105 per barel,” tutup tim riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN