Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Foto: Perseroan.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Foto: Perseroan.

Kas Jumbo, Chandra Asri Tetap Berhati-hati dalam Ekspansi

Kamis, 4 Maret 2021 | 17:14 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) tetap menerapkan strategi ekspansi yang berhati-hati pada 2021, meskipun memiliki kas dan setara kas bernilai jumbo. Tahun ini, perseroan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) minimal sebesar US$ 65 juta.

Adapun total likuiditas Chandra Asri per 31 Desember 2020 mencapai US$ 1,19 miliar, yang terdiri atas kas dan setara kas US$ 918,9 juta, revolving credit facility sebesar US$ 226 juta, dan surat-surat berharga senilai US$ 50,7 juta. Sementara itu, kas bersih sebanyak US$ 74,7 juta atau membaik dibandingkan per 31 Desember 2019 yang mencatat utang bersih sebesar US$ 127,7 juta.

Direktur Keuangan Chandra Asri Petrochemical Andre Khor mengatakan, pihaknya juga proaktif memperkuat struktur modal dengan mencari sumber-sumber pendanaan yang kompetitif. Hal ini bisa dilakukan dengan memperpanjang tenor atau meraih bunga utang yang lebih rendah.

“Perusahaan berupaya mengelola utang dengan baik, dan ini kami buktikan dengan mengantongi kas bersih per akhir 2020. Tahun ini, kami akan lanjutkan penerbitan obligasi rupiah,” kata Andre saat conference call, Kamis (4/3).

Tahun lalu, Chandra Asri meluncurkan program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III dengan plafon sebesar Rp 5 triliun. Perseroan telah melangsungkan PUB III tahap I dan II pada 2020 dengan menerbitkan obligasi masing-masing sebesar Rp 1 triliun dan Rp 600 miliar. Dengan demikian, perseroan masih menyisakan plafon Rp 3,4 triliun.

Sementara itu, mengenai belanja modal, perseroan akan mengalokasikannya untuk operasional pabrik-pabrik yang sudah ada, serta persiapan menuju proyek CAP II. Belanja modal tersebut bisa bertambah tergantung pada kondisi ekonomi global dan domestik.

Direktur Chandra Asri Petrochemical Suryandi mengatakan, tahun lalu, perseroan memang mengerem belanja modal lantaran pandemi. Adapun tahun ini, meskipun vaksinasi telah berjalan dan diharapkan berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi, pihaknya belum bisa agresif untuk ekspansi baru. “Seluruh proyek yang berjalan sudah kita selesaikan tahun lalu. Jadi, kami berkonsentrasi persiapan CAP II pada tahun ini,” jelas dia.

Tahun lalu, perseroan merealisasikan belanja modal US$ 113,9 juta atau lebih rendah 70,4% dibandingkan realisasi belanja modal 2019 yang sebesar US$ 385,2 juta.

Menurut Suryandi, saat ini proses pemilihan investor strategis untuk CAP II masih berjalan. Pihaknya mengakui, target penetapan investor strategis menjadi mundur lantaran pandemi. Perseroan menargetkan final investment decision (FID) CAP II pada pertengahan 2022 atau bergeser dari rencana semula pada 2021.

Adapun aksi korporasi seperti penerbitan saham baru melalui skema rights issue untuk menopang dana ekspansi juga masih mempertimbangkan kondisi terkini di pasar modal.

Seperti diketahui, saat ini CAP II yang berlokasi di Cilegon, Banten dalam tahap pra-final investment decision (FID). Secara desain, pabrik tersebut akan 15% lebih besar dari CAP I. Proyek ini ditaksir bakal menelan investasi hingga US$ 5 miliar.

Lonjakan Laba

Pada 2020, Chandra Asri Petrochemical merealisasikan laba bersih setelah pajak sebesar US$ 51,5 juta, melonjak 118% dibandingkan 2019 yang sebesar US$ 23,6 juta. Penambahan US$ 28 juta disebabkan oleh manfaat pajak karena penyesuaian pajak yang lebih rendah ditambah dengan program pengurangan biaya struktural perseroan.

Seiring itu, EBITDA perseroan meningkat 3,6% menjadi US$ 186,7 juta pada 2020 dibandingkan 2019 yang sebesar US$ 180,1 juta. Kenaikan didorong oleh peningkatan spread, terutama untuk produk ethylene dan polymer pada kuartal IV-2020. Permintaan petrokimia di regional Asia tetap kuat, sering dengan aktivitas pemulihan ekonomi secara bertahap.

“Ada peningkatan demand dari Tiongkok dan Asia Timur yang lain, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Karena Tiongkok berhasil bangkit kembali dan ini menjadi angin segar bagi industri,” kata Suryandi.

Sementara itu, pendapatan bersih Chandra Asri turun 4% menjadi US$ 1,8 miliar pada 2020 dibandingkan 2019 yang sebesar US$ 1,88 miliar. Penurunan sebagai akibat dari harga jual rata-rata produk petrokimia yang lebih rendah di semua lini produk menjadi US$ 813 per ton dari sebelumnya US$ 968 per ton.

Harga ethylene dan polyethylene masing-masing turun menjadi US$ 720 per ton dan US$ 902 per ton pada 2020 dari US$ 861 per ton dan US$ 1.047 per ton pada 2019. Kendati demikian, volume penjualan Chandra Asri meningkat 14% menjadi 2.222 kilo ton (KT) pada 2020 dibandingkan 1.943 KT pada 2019.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN