Menu
Sign in
@ Contact
Search
Dubes AS untuk Indonesia, Sung Kim, Co-Founder Pluang Claudia Kolonas, dan Deputi  Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi

Dubes AS untuk Indonesia, Sung Kim, Co-Founder Pluang Claudia Kolonas, dan Deputi Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi

Co-Founder Pluang Sarankan 3 Langkah Tingkatkan Keterlibatan Perempuan di Sektor Fintech

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 18:08 WIB
Majalah Investor (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan financial technology (fintech) sangat pesat belakangan ini. Meski demikian, kesempatan yang setara bagi kaum perempuan untuk berkarier di sektor ini.

Realita tersebut diakui Claudia Kolonas, Co-Founder startup investasi multi-aset Pluang. Claudian menegaskan hal itu saat memberi sambutan pada acara Women in Fintech: Empowering the Next Generation Forum” di Mandarin Oriental Jakarta.

Claudia percaya bahwa industri dan lingkungan kerja yang lebih inklusif terhadap keterlibatan perempuan dapat mengoptimalkan potensinya di bidang profesional. “Pesatnya pertumbuhan Pluang menjadi platform investasi multi-aset tentunya tidak terlepas dari dukungan dan kepercayaan terhadap saya sebagai seorang perempuan pendiri startup,” ujarnya.

Sayangnya, banyak talenta perempuan di sektor fintech yang merasa belum mendapat dukungan ataupun kesetaraan untuk berkarya di bidang ini. Berdasarkan data IMF tahun 2022, hanya sebanyak 10 persen perempuan yang berada di puncak kepemimpinan perusahaan fintech. Maka dari itu, ekosistem fintech perlu lebih mengakomodasi kiprah dan keterlibatan perempuan, khususnya untuk mendorong inovasi dalam era ekonomi digital yang dihadirkan pemimpin perempuan di sektor fintech.”

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menyinggung tentang pandangan Kerjasama Global untuk Inklusi Keuangan (GPFI) G20 terhadap fintech sebagai bentuk digitalisasi yang mampu meningkatkan produktivitas dan inklusi keuangan, terutama untuk perempuan.

“Ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, teknologi digital tetap memungkinkan masyarakat untuk produktif bekerja. Inovasi ini membantu perempuan, yang selama ini memiliki banyak tanggung jawab di rumah, untuk ikut berpartisipasi dalam roda ekonomi dan memperluas jangkauan hasil karya mereka lewat platform digital,” ujar Sri Mulyani.

Senada dengan Sri Mulyani, Friderica Widyasari Dewi, Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyatakan pentingnya fintech untuk menjembatani perbedaan tingkat literasi dan inklusi keuangan antara laki-laki dan perempuan. “Perempuan berperan penting sebagai aktor yang menggerakan ekonomi di Indonesia dan OJK memprioritaskan perluasan akses edukasi finansial terhadap perempuan,” ujar wanita yang biasa disapa Kiki ini.

Sayangnya, menurut Kiki, baru sepertiga populasi perempuan Indonesia yang bekerja di sektor formal dan memiliki pemasukan yang lebih kecil sebesar 25% dibanding laki-laki. Disparitas gender ini dapat diperkecil dengan adanya akses ke layanan fintech yang fleksibel dan terjangkau. Dengan edukasi finansial yang mumpuni dan mudah diakses, akan semakin banyak perempuan yang lebih melek finansial dan terhindar dari skema-skema kredit yang merugikan.

Kesempatan profesional yang setara di industri teknologi bagi perempuan perlu dipastikan berada di setiap jenjang karier. Temuan dari berbagai studi di Asia Tenggara menunjukan bahwa representasi perempuan semakin menurun di jenjang karir senior. Dari sebanyak 32% tenaga kerja perempuan di sektor teknologi, hanya 15% di antaranya yang menempati puncak kepemimpinan.

Bertolak belakang dengan kondisi keterwakilan perempuan di sektor teknologi, studi justru menunjukkan bahwa peran perempuan dapat berkontribusi pada performa bisnis yang lebih baik. Kajian dari McKinsey tahun 2018 menunjukkan bahwa perusahaan dengan komposisi gender yang lebih seimbang memiliki kemungkinan 21 persen lebih besar untuk mencapai pemasukan lebih banyak.

Menurut Claudia, ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam sektor fintech. Pertama, meningkatkan visibilitas pemimpin perempuan di industri fintech melalui partisipasi dalam acara-acara publik, maupun program pelatihan untuk pengusaha perempuan.

Kedua, memperkuat startup yang dirintis oleh perempuan. “Investor perlu peka terhadap gender bias yang dapat mempengaruhi penilaian mereka terhadap ide bisnis dari founder perempuan, terutama di sektor yang didominasi laki-laki seperti fintech,” kata Claudia, yang juga memiliki pengalaman di perusahaan venture capital.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Majalah Investor

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com