Menu
Sign in
@ Contact
Search
Petani di kebun sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Petani di kebun sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Jangan Lupakan Petani Sawit

Jumat, 27 Desember 2019 | 10:08 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Setelah sukses menjalankan program mandatori pencampuran solar dengan 20% minyak sawit atau B20, pemerintah mulai 1 Januari 2020 menggulirkan program B30. Program biodiesel ini tak hanya berlaku bagi kendaraan, tapi juga pembangkit listrik dan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Bahkan, pencampuran minyak sawit mulai diterapkan pada bahan bakar pesawat (avtur).

Komitmen pemerintah dalam menggalakkan program biodiesel patut diapresiasi. Melalui program ini, tampak jelas bahwa pemerintah ingin ‘menyelam sambil minum air’. Begitu banyak manfaat yang bisa dipetik lewat program penggunaan biodiesel atau bahan bakar nabati (BBN), baik dari sisi ketahanan ekonomi nasional, ketahanan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), maupun ketahanan energi.

Dari sisi ketahanan ekonomi, program biodiesel dapat memangkas impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM), sehingga rupiah lebih kuat dan stabil. Rupiah yang kuat dan tidak berfluktuasi memungkinkan perekonomian domestic lebih kebal terhadap inflasi barang impor (imported inflation).

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Dunia usaha juga dapat membuat kalkulasi bisnis yang lebih terprediksi (predictable) dan terhindar dari tambahan biaya akibat selisih kurs. Impor minyak mentah dan hasil minyak (BBM) terus membayang-bayangi neraca perdagangan Indonesia. Pada Januari-November 2019, impor minyak dan BBM masing-masing mencapai US$ 3,40 miliar dan US$ 10,67 miliar. Akibat besarnya impor minyak dan BBM, neraca perdagangan defisit US$ 3,10 miliar.

Dengan neraca perdagangan yang masih jomplang, neraca transaksi berjalan (current account) tahun ini diperkirakan masih defisit 2,7% terhadap produk domestic bruto (PDB).

Dari sisi ketahanan APBN, progam biodiesel bisa mengurangi anggaran subsidi solar. Tahun ini saja, subsidi solar diperkirakan tembus Rp 33,83 triliun. Memperluas dan memperbesar porsi penggunaan biodiesel berarti menekan konsumsi solar.

Dengan begitu, anggaran subsidi solar bisa dialihkan ke program lain yang lebih penting dan mendesak. Dengan berkurangnya konsumsi solar, APBN akan lebih sehat dan tahan guncangan, terutama saat harga minyak mentah melonjak atau dolar AS menguat, yang akan memicu kenaikan harga solar di dalam negeri.

Dari sisi ketahanan energi nasional, program pemanfaatan biodiesel sangat efektif mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil, khususnya solar. Apalagi cadangan minyak terbukti Indonesia disebut-sebut tinggal 3,17 miliar barel lagi atau hanya cukup untuk satu dekade bila tidak ada eksplorasi baru. Bila konsumsi solar turun, cadangan minyak nasional bisa dihemat.

Mobil tanki avtur Pertamina. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana
Mobil tanki avtur Pertamina. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana

Terlebih bila konsumsi BBM jenis lainnya, seperti Pertamax, Premium, Dexlite, Dex, dan Pertalite, ikut berkurang. Sebagai energi terbarukan, minyak sawit bisa dijadikan energi masa depan Indonesia. Kecuali ramah lingkungan karena emisinya lebih rendah, minyak sawit adalah komoditas andalan Indonesia. Dengan volume produksi sekitar 50 juta ton per tahun, Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit di dunia. Maka menjadikan minyak sawit sebagai pengganti minyak bumi adalah keniscayaan.

Harapan menjadikan minyak sawit sebagai energi masa depan Indonesia, bukan harapan semu. Dalam program B20 tahun ini, penggunaan minyak sawit diprediksi mencapai 6,4 juta ton. Angka itu diperkirakan meningkat menjadi 10 juta ton dalam program B30 tahun depan. Yang sering terlupakan, ketika tren proteksionisme meningkat seperti saat ini, di mana minyak sawit Indonesia ditolak atau dibatasi di negara-negara tujuan ekspor akibat persaingan bisnis yang dikemas dalam isu lingkungan, program biodiesel sungguh membantu. Para produsen sawit tak perlu takut produknya tidak laku di pasar karena pasar domestic siap menyerap.

Karena itu, kita mendorong pemerintah memperbesar porsi pencampuran BBN dalam solar. Bila tahun depan program pencampuran minyak sawit dengan solar baru mencapai 30% maka pada tahun-tahun berikutnya harus ditingkatkan menjadi 50%, bahkan 100%. Pertamina sudah menyatakan kesiapannya secara teknologi, untuk memproduksi 100% BBN berbasis sawit bagi berbagai jenis kendaraan, termasuk pesawat terbang.

Agar program biodiesel berjalan sesuai harapan, pemerintah dari sekarang perlu meminta pabrikan otomotif memproduksi kendaraan berbahan bakar minyak sawit. Supaya kebijakan ini dapat diimplementasikan, pemerintah harus menyiapkan insentif bagi mereka, terutama insentif pajak. Program ini bisa disinergikan dengan pemberian insentif fiskal untuk kendaraan berbasis listrik.

Di sisi lain, demi mengoptimalkan program B30, pemerintah harus berupaya menjaga keseimbangan antara pasokan minyak sawit untuk pasar domestik dan pasar ekspor. Saat ini, sekitar 70% minyak sawit diekspor. Bagaimana pun, ekspor tetap dibutuhkan untuk meningkatkan cadangan devisa.

Produk CPO
Produk CPO

Keseimbangan pasokan dibutuhkan agar harga minyak sawit di dalam negeri dan di pasar ekspor tetap terjaga. Jangan sampai produsen minyak sawit menjual seluruh produknya ke pasar domestic saat harga ekspor anjlok. Sebaliknya, jangan pula semua minyak sawit diekspor ketika harga di pasar internasional melejit.

Keseimbangan pasokan juga diperlukan untuk menjadikan harga BBN berbasis sawit lebih ekonomis, sehingga terjangkau oleh masyarakat luas. Dalam konteks ini, pemerintah bisa memberlakukan aturan tentang kewajiban memasok pasar domestik (domestic market obligation/DMO).

Tak kalah penting, pemerintah perlu memperbesar anggaran subsidi BBN. Dengan nilai subsidi BBN saat ini Rp 2.764 per liter, harga biodiesel di pasaran masih cukup mahal, Rp 5.150 per liter. Ke depan, angka subsidi harus diperbesar agar harga biodiesel lebih murah. Bahkan pemerintah bisa mengalihkan seluruh subsidi solar untuk program BBN.

Di luar itu semua, kita juga mengingatkan pemerintah bahwa sawit tidak bisa dilepaskan dari para petani. Dari sekitar 14,3 juta ha perkebunan sawit nasional saat ini, sekitar 5,8 juta ha atau 41%-nya merupakan perkebunan rakyat.

Alhasil, kebijakan apa pun yang dikeluarkan pemerintah pasti akan berpengaruh kepada para petani sawit. Itu sebabnya, pemerintah tidak boleh gegabah mengeluarkan kebijakan di bidang persawitan.

Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana

Terlebih industri sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Kontribusi sawit terhadap devisa juga lumayan besar, rata-rata mencapai US$ 20 miliar per tahun. Belum lagi sumbangannya terhadap penerimaan negara di sektor perpajakan.

Berkaca pada fakta-fakta tersebut, kita secara tegas menyatakan bahwa membangun industri sawit memiliki hubungan tegak lurus dengan upaya mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Oleh sebab itu, dalam menjalankan program BBN, pemerintah harus jeli dan cermat. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam program B30 (atau B100 kelak), tidak boleh melupakan petani sawit dan harus tetap dalam kerangka menyejahterakan mereka.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com