Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bupati Tapanuli Tengah dan BNI berikan KUR pertanian kepada 20 orang petani yang mendapat fasilitas pembiayaan kredit usaha rakyat (KUR) Pertanian, di Gelanggang Olahraga (GOR) Tapanuli Tengah di Pandan, Selasa (24/8/2021).

Bupati Tapanuli Tengah dan BNI berikan KUR pertanian kepada 20 orang petani yang mendapat fasilitas pembiayaan kredit usaha rakyat (KUR) Pertanian, di Gelanggang Olahraga (GOR) Tapanuli Tengah di Pandan, Selasa (24/8/2021).

KUR dan Ekspor Pertanian

Kamis, 26 Agustus 2021 | 12:46 WIB
Investor Daily

Belakangan ini, perhatian Presiden Joko Widodo terhadap sektor pertanian semakin besar. Maklum, sektor ini merupakan penyerap tenaga kerja terbanyak, yakni 29,59%, dibanding sektor industri pengolahan yang hanya menyerap 13,61% dari total angkatan kerja nasional. Lagi pula, jumlah penduduk miskin terbanyak juga berada di sektor pertanian, baik petani maupun buruh tani.

Dalam Rakornas Pengendalian Inflasi Tahun 2021 di Istana Negara Jakarta, Rabu (25/8), Presiden menegaskan bahwa sektor pertanian dapat memiliki kontribusi yang semakin besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dia meminta sektor pertanian dikembangkan lebih serius oleh lintas kementerian dan lembaga.

Bukan sekadar untuk meningkatkan nilai tukar petani dan kesejahteraan petani, tetapi untuk menghasilkan sebuah lompatan, sehingga sektor pertanian memiliki kontribusi yang semakin besar dalam mengerakkan mesin pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini termasuk bagaimana memacu ekspor produk-produk pertanian yang selama ini menjadi keunggulan Indonesia.

Sebelumnya, menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-76 lalu, Presiden juga menekankan pentingnya ekspor produk pertanian. Hal itu ditandai dengan pelepasan serentak ekspor komoditas pertanian dari 17 pelabuhan/bandara di 17 provinsi di Indonesia dengan total senilai Rp 7,29 triliun. Kepala Negara meminta para gubernur dan bupati/walikota untuk menggali potensi ekspor di daerahnya masing-masing dan segera mengembangkan komoditas pertanian potensial.

Sektor pertanian terbukti memiliki resiliensi tinggi di tengah hantaman pandemi Covid. Nilai Tukar Petani (NTP) Indonesia terus membaik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh tertinggi, sebesar 12,93% secara kuartalan. Sedangkan secara tahunan (year on year), sektor ini tumbuh 0,38%.

Sektor ini juga memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada kuartal II-2021, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan andil sebesar 14,27% terhadap PDB, di bawah industri pengolahan sebesar 19,29%.

Ekspor pertanian sepanjang 2020 mencapai Rp 451,80 triliun atau naik 15,79% (yoy) dan pada Januari-Juli 2021 telah mencapai Rp 282,86 triliun atau naik 14,05% (yoy). Selain ekspor sawit yang menjadi primadona, pemerintah juga mendorong ekspor komoditas potensial lain, seperti hortikultura, porang, dan sarang burung walet, yang permintaannya saat ini sedang tinggi.

Kita sependapat bahwa sektor pertanian harus didorong agar memiliki nilai tambah yang tinggi. Itulah sebabnya, selain menggenjot ekspor produk pertanian, pengembangan industrialisasi berbasis produk pertanian dan hilirisasi sektor pertanian menjadi aspek yang strategis untuk terus digenjot. Agro industri diyakini memiliki daya saing tinggi karena kita memiliki sumber daya yang berlimpah.

Persoalannya, secara umum kondisi petani masih sangat memprihatinkan dan memiliki sejumlah kelemahan. Selain kepemilikan lahan yang rendah, petani selama ini dihimpit berbagai persoalan struktural. Antara lain, harga sarana produksi yang kian tak terjangkau, minim insentif pemerintah, harga kerap anjlok saat panen raya, dan kelemahan penanganan pasca-panen.

Petani juga menghadapi keterbatasan modal dan rendahnya akses ke sumber pembiayaan. Sektor pertanian yang dianggap berisiko kerap dihindari oleh perbankan. Lemahnya kemampuan pemasaran petani juga membuat mereka menjadi bulan-bulanan para tengkulak serta menjadi korban mafia produk pertanian.

Karena itu, ada beberapa solusi untuk membantu persoalan yang dihadapi petani. Di antaranya adalah memperkuat pendampingan bagi petani dalam pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas petani serta pemasaran, sehingga dapat memotong panjangnya mata rantai pemasaran produk-produk pertanian.

Selain itu, perlu diciptakan kelembagaan petani dalam model klaster guna memperkuat bargaining power mereka. Penguatan aspek pemasaran perlu dilakukan melalui sinergi dan kolaborasi dengan industri serta BUMN dan BUMD lewat program kemitraan yang saling menguntungkan.

Dalam hal pembiayaan, kredit usaha rakyat (KUR) terbukti sangat membantu para petani, peternak, dan nelayan. Skema penyaluran KUR pertanian perlu diperluas untuk berbagai aspek yang dapat menaikkan nilai tambah. Persyaratannya perlu dipermudah tanpa mengorbankan aspek kehati-hatian. Tahun ini, kuota KUR pertanian ditetapkan sebesar Rp 70 triliun dari total KUR nasional sebesar Rp 253 triliun. Jumlah itu perlu ditingkatkan untuk mendorong kenaikan produktivitas petani.

Yang lebih penting lagi, penyaluran KUR pertanian bakal lebih efektif apabila didesain melalui skema klasterisasi dan berbasis ekosistem. Sebab, penyaluran KUR pertanian berbasis klaster dan ekosistem akan meningkatkan kepercayaan bank untuk menyalurkan kredit kepada para petani, yang selama ini menjadi hambatan kedua pihak.

Berbagai upaya tersebut diyakini bakal mampu meningkatkan peran sektor pertanian sebagai motor penting perekonomian. Kenaikan produktivitas, perbaikan teknologi, dan penciptaan produk-produk yang bernilai tambah juga mampu mendorong ekspor produk pertanian yang menjadi andalan kita.

Pada akhirnya, semua itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, yang mayoritas masih berada di bawah garis kemiskinan. Kita tahu bahwa sektor pertanian terbukti menjadi penyangga dan benteng yang tangguh dalam setiap terjadinya krisis.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN