Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat pergerakan indeks melalui ponselnya Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Investor melihat pergerakan indeks melalui ponselnya Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Saham Properti Segera Bangkit

Senin, 18 Oktober 2021 | 11:03 WIB
Investor Daily

Mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) rebound hingga mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 6.633 di akhir pekan lalu, Jumat (15/10/2021). Sentimen positif yang kini masih menyelimuti para pelaku pasar bakal mendongkrak indeks hingga menembus level 7.000 di akhir tahun 2021.

Hampir semua sektor di BEI mengalami kenaikan indeks, kecuali industri dasar, konsumen nonsiklus, dan properti. Indeks Sektor Properti selama Januari hingga 15 Oktober 2021 minus 8,95%. Pada periode yang sama, IHSG naik 10,94% dan saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam LQ-45 meningkat 3,99%. Lonjakan tertinggi terjadi pada saham-sama big tech. Indeks Teknologi melonjak 710,64%.

Kapan saham-saham properti bangkit? Inilah pertanyaan para investor yang selama ini mengoleksi saham properti. Untuk menjawabnya, kita perlu mengetahui siklus ekonomi. Ketika terjadi krisis ekonomi, sektor yang pertama terpukul adalah properti. Saat ekonomi slow down dan terjadi resesi, cicilan rumah menjadi tidak lancar. Hunian perkantoran menurun. Penjualan rumah baru, rumah tapak, maupun apartemen sepi peminat. Ketika ekonomi berangsur pulih, properti menjadi sektor yang paling akhir bangkit.

Larisnya penjualan rumah tapak yang dialami PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) bukan sebuah gambaran umum. Membidik segmen khusus dengan rumah tapak berdesain modern, LPKR meraup penjualan nyaris dua kali lipat selama pandemi. Sukses LPKR tidak dialami oleh semua pengembang. Tapi, penjualan rumah tapak LPKR selama kuartal ketiga 2021 boleh disebut sebagai indikasi kebangkitan real estat dan properti Indonesia pada umumnya.

Tahun depan, seiring dengan kebangkitan ekonomi, penjualan apartemen akan kembali mendapatkan peminat. Penjualan apartemen dalam kota akan kembali mendapatkan pembeli. Jenis properti lainnya, seperti gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan akan kembali marak sejalan dengan ekspansi ekonomi. Karena itu, harga saham properti akan mendapat giliran naik di akhir tahun ini.

Ada sejumlah faktor yang membuat sektor properti bangkit. Pertama, penanganan pandemi Covid-19 sudah menunjukkan hasil. Sudah lebih dari enam pekan kasus baru Covid melandai. Angka kasus aktif yang sempat di atas 550.000, kini sudah di bawah 20.000 dan positivity rate di bawah 1%. Penduduk Indonesia yang dua kali vaksin sudah mencapai 26%.

Dengan penyebaran Covid yang terkendali, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diperlonggar. Pergerakan manusia meningkat dan aktivitas masyarakat sudah menuju normal. Jalanan mulai macet, transportasi kembali lancar, semua bisnis terkait pariwisata perlahan bangkit. Masyarakat sudah mendapatkan penghasilan dan kembali belanja, termasuk membeli produk properti.

Jika hingga Januari 2022 pandemi terkendali, ekonomi akan ekspansif. Banyak perusahaan yang sejak kuartal ketiga 2021 meningkatkan mobilisasi dana. Mereka yakin, setelah pasang surut selama dua tahun, ekonomi akan mengalami pasang naik signifikan mulai tahun depan.

Kedua, saat ini terdapat 11 juta rumah tangga yang belum memiliki rumah layak huni. Dari jumlah itu, 7,6 juga adalah backlog atau rumah yang belum dibangun. Sisanya, 2,3 juta adalah rumah tidak layak huni. Kepemilikan rumah di Indonesia baru 84%, lebih rendah dibandingkan India yang sudah mencapai 86,6%. Di DKI Jakarta, homeownership justru baru 46%. PDB per kapita India pada tahun 2020 hanya US$ 1.900, sedangkan PDB per kapita Indonesia di tahun yang sama US$ 3.900. Data ini menunjukkan, prospek bisnis properti di Indonesia sangat cerah.

Ketiga, tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sudah cukup rendah, yakni di bawah 6%. Dengan bunga KPR yang sudah menurun jauh dari masa sebelum pandemi, masyarakat dipermudah untuk mendapatkan rumah. Perbankan kini berlomba memberikan KPR.

Keempat, pemerintah terus mendorong kemajuan properti. Selain kontribusinya yang mencapai 15% terhadap PDB, pembangunan properti memengaruhi sekitar 170 jenis industri. Setiap pembangunan properti membutuhkan semen, kawat, baja, cat, kaca, dan sebagainya. Untuk menggerakkan ekonomi, sektor properti akan dipacu dengan sejumlah insentif oleh pemerintah.

Kinerja perusahaan sektor properti mulai membaik dan akan terus membaik pada tahun 2022. Sebagai leading indicator, harga saham sektor properti akan terangkat mulai kuartal keempat tahun ini.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN