Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perolehan dana IPO tahun ini tertinggi sepanjang sejarah

Perolehan dana IPO tahun ini tertinggi sepanjang sejarah

Berebut Dana di Pengujung Tahun

Senin, 29 November 2021 | 23:42 WIB
Investor Daily

Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan minat perusahaan untuk go public dan mencatatkan sahamnya di bursa saham. Hingga 26 November 2021, sudah 43 emiten baru yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam pada itu, masih ada 29 perusahaan sedang antre untuk masuk BEI melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dalam sebulan ke depan.

Dari jumlah itu, 12 emiten sudah melewati proses IPO dan tengah book building atau penentuan harga perdana. Jika 29 emiten bisa mencatatkan sahamnya dalam sebulan terakhir jelang tutup tahun, total emiten baru tahun 2021 bakal mencapai 72. Dari sisi jumlah emiten dan nilai IPO, tahun ini jauh melebihi tahun lalu. Pada tahun 2020, terdapat 48 emiten baru dengan nilai IPO Rp 6,1 triliun.

Sedangkan per 16 September lalu, nilai IPO saham sudah mencapai Rp 32,14 triliun. Jika nanti 29 emiten baru masuk BEI tahun ini, total dana IPO bakal lebih besar lagi. Dibandingkan dengan tahun 2019, sebelum pandemi pun, total nilai IPO tahun ini jauh lebih besar. Pada tahun 2019, terdapat 59 emiten baru dengan nilai IPO lebih dari Rp 14,78 triliun.

Total dana yang dihimpun emiten dari pa sar modal tahun ini lewat IPO, rights issue, dan penjualan obligasi mencapai Rp 306,9 triliun, jauh melebihi tahun 2020. Tahun lalu, total dana yang dihimpun dari pasar modal sebesar Rp 118,7 triliun. Lonjakan dana yang dihimpun tahun ini dipicu oleh IPO PT Bukalapak Tbk dan rights issue PT BRI Tbk.

Hingga Jumat  (26/11/2021), indeks harga saham gabungan (IHSG) naik 9,74%, year to date (ytd). Pada periode yang sama, nilai kapitalisasi saham 764 emiten di BEI mencapai Rp 8.123 triliun. Nilai transaksi saham per hari di BEI rata-rata di atas Rp 13 triliun. Pembelian bersih oleh asing, ytd, mencapai Rp 38,68 triliun.

Tingginya minat emiten yang berusaha meraup dana dari pasar modal dan kenaikan IHSG menunjukkan optimisme para pelaku bisnis akan masa depan ekonomi Indonesia. Keberhasilan pemerintah dan rakyat Indonesia menurunkan penyebaran pandemi Covid-19 membangkitkan sentimen positif.

Meski dibayangi sejumlah isu negatif, para pelaku bisnis optimistis, tahun 2022 lebih baik dari tahun ini. Pelonggaran PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) akan menggerakkan aktivitas ekonomi yang berujung pada kenaikan laju pertumbuhan ekonomi.

Isu negatif yang paling besar penga ruhnya terhadap bisnis adalah merebaknya va rian omicron (B.1.1.525) yang berasal dari Afrika. Varian baru ini dikabarkan le bih cepat menular empat-lima kali lipat di banding varian delta. Ketika isu vari an baru ini merebak akhir pekan lalu, indeks harga saham di berbagai negara terjungkal. Isu negatif kedua adalah api inflasi global tahun depan.

Seiring dengan meredanya lonjakan kasus pandemi, kegiatan ekonomi meningkat. Tingginya tarikan permintaan tidak diimbangi oleh pasokan yang mencukupi. Karena selama pandemi, kegiatan pabrik terhenti dan kalau pun dijalankan, hanya separuh kapasitas.

Lonjakan inflasi AS akan menyundul suku bunga yang selama ini berada di level paling rendah. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) akan ber dampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia.

Setelah melakukan tapering off atau mengurangi pembelian surat utang, mulai awal 2022, bank sentral AS akan menaikkan suku bunga. Isu negatif ketiga adalah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Ciptaker). MK meminta pemerintah dan DPR segera memperbaiki UU tersebut dalam tempo dua tahun. UU ini dinyatakan cacat formil.

Merespons varian baru Covid-19, peme rintah memperketat masuknya orang ke Indonesia, baik warga asing maupun warga negara Indonesia yang datang dari luar negeri. Setiap orang yang masuk ke Indonesia wajib karantina, minimal tujuh hari. Pemerintah menutup sementara masuknya WNA dari 11 negara, yakni Afrika Selatan, Botswana, Hong Kong, Angola, Zambia, Zimbabwe, Malawi, Mo zambique, Namibia, Eswatini, dan Lesotho.

Selain mempercepat vaksinasi, pemerintah memperketat penerapan protokol kesehatan. Masker wajib dikenakan. Testing, tracing, dan isolation ditingkatkan. Penyebaran pandemi yang sudah cukup terkendali harus dipertahankan.

Pada akhir pekan lalu, kasus baru sudah di bawah 500 dan positivity rate di bawah 0,3%. Untuk merespons inflasi dan ancaman lonjakan suku bunga, produksi barang dan jasa ditingkatkan. Pemerintah mengurangi berbagai kebijakan yang berdampak pada lonjakan harga barang dan jasa.

Sedangkan merespons keputusan MK, pe merintah dan DPR akan segera melakukan perbaikan. Dalam waktu dekat, perbaikan yang diminta akan dise lesaikan. Tapi, satu hal pasti, UU Ciptaker tetap sah hingga dua tahun ke depan.

Ada sejumlah kabar gembira yang di nanti-nantikan selama ini. Pertama, saat ini, ekspor nonmigas Indonesia tidak lagi didominasi ekspor komoditas, melainkan ekspor produk manufaktur. Program hilirisasi, yang merupakan bagian dari transformasi ekonomi, sudah menunjukkan hasil.

Kedua, untuk pertama kali, neraca tran saksi berjalan Indonesia positif. Bertahun-tahun Indonesia didera current account deficit (CAD). Tapi, kini, mitos difisit abadi itu dapat dipatahkan. Pada kuartal III-2021, neraca transaksi berjalan Indonesia positif US$ 4,5 miliar. Pada periode yang sama, neraca pembayaran Indonesia surplus US$ 10,7 miliar.

Kondisi ini ditopang oleh surplus perdagangan barang yang selama Januari- Oktober 2021 mencapai US$ 30,8 miliar. Pada akhir September 2021, cadangan devisa yang dikuasai Bank Indonesia mencapai US$ 146,9 miliar. Sentimen positif pelaku bisnis juga bisa terbaca pada Purchasing Managers Index (PMI) yang pada bulan Oktober 2021 mencapai 57,2 atau tertinggi dalam satu dekade terakhir. Pada periode yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen mencapai 113,4, meningkat dari 95,5 pada bulan September 2021.

Perebutan dana di pengujung tahun menunjukkan optimisme pelaku bisnis akan ekonomi Indonesia tahun 2022. Para pelaku bisnis yakin, setelah wait and see dalam dua tahun terakhir, mereka mulai melakukan ekspansi usaha tahun 2022.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN