Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat pergerakan harga saham menggunakan ponsel di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor melihat pergerakan harga saham menggunakan ponsel di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Prospek Cerah Industri Reksa Dana

Rabu, 23 Maret 2022 | 23:38 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Kinerja industri reksa dana berprospek cerah tahun ini seiring dengan terkendalinya pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Tren positif indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sudah menembus level 7.000 menjadi darah segar bagi industri reksa dana, terutama produk reksa dana berbasis saham.

Kinerja positif reksa dana diprediksi akan terus berlanjut, baik secara nilai aktiva bersih (NAB) dan jumlah investor mengingat potensinya masih sangat besar. Hingga akhir 2021, NAB reksa dana mencapai Rp 578,4 triliun, meningkat dibandingkan 2020 yang sebesar Rp 573,5 triliun. Namun, hingga 18 Februari 2022, NAB reksa dana turun menjadi Rp 577,7 triliun.

Advertisement

Hal ini karena aksi profit taking dan ada produksi reksa dana yang jatuh tempo dan tidak diperpanjang. NAB industri reksa dana tahun ini dipediksi bisa di atas Rp 600 triliun karena didukung bertambahnya jumlah investor.

Masyarakat yang berinvestasi di reksa dana makin banyak, apalagi ditunjang kemudahan transaksi melalui aplikasi sehingga mempercepat peningkatan jumlah investor. Jumlah investor reksa dana hingga akhir 2021 mencapai 6,84 juta, naik tajam dari posisi akhir 2020 sebanyak 3,17 juta.

Sedangkan hingga 18 Februari 2022 sudah mencapai 7,45 juta. Jumlah investor reksa dana diperkirakan akan terus bertambah seiring instrumen investasi ini makin diminati karena potensi imbal hasil (return) yang lebih tinggi dari deposito.

Sepanjang tahun 2021 lalu reksa dana campuran memberikan return tertinggi se besar 4,94% secara year to date (ytd). Di belakangnya adalah reksa dana pasar uang de ngan return 3,26%, reksa dana pendapatan tetap 2,32%, dan reksa dana saham 1,03%.

Hingga 11 Maret 2022, hampir seluruh kinerja reksa dana tercatat positif dipimpin oleh reksa dana campuran yang naik sebesar 2,02% (ytd). Kemudian diikuti kinerja reksa dana saham yang naik 1,81% dan reksa dana pasar uang naik 0,50%. Namun, karena adanya isu kenaikan suku bunga global, kinerja reksa dana pendapatan tetap turun 0,28%.

Tren kenaikan IHSG yang telah menembus level 7.000 pada penutupan perdagangan Selasa (22/3/2022) menjadi katalis positif bagi produk-produk reksa dana berbasis aset saham. Kenaikan IHSG yang secara year to date (ytd) mencapai 6,37% didorong oleh saham-saham blue chip. Berbeda dengan tahun lalu, kenaikan IHSG ditopang oleh sahamsaham teknologi dan bank digital.

Kenaikan kinerja IHSG akan semakin meningkatkan minat investor untuk masuk ke reksa dana berbasis saham. Kondisi ini pun akan mendorong manajer investasi (MI) mengeluarkan produk reksa dana baru. Produk reksa dana berbasis saham, terutama indeks dan exchange traded funds atau ETF, lebih sensitif terhadap pergerakan IHSG.

Sementara, untuk reksa dana campuran, alokasi asetnya bisa sangat bervariasi sehingga korelasi dan sensitivitas kinerjanya dengan IHSG tidak selalu berbanding lurus.

Selain kinerja IHSG yang positif, tren pemulihan ekonomi yang berlanjut akan menjadi katalis positif bagi instrumen reksa dana campuran tahun ini. Pemulihan ekonomi akan berimbas positif pada kinerja emiten-emiten di bursa. Hal ini juga akan berdampak pada kenaikan kinerja reksa dana campuran yang umumnya memiliki aset dasar berupa saham, obligasi, dan deposito.

Dari sisi risiko, reksa dana campuran secara keseluruhan juga lebih moderat dibandingkan dengan reksa dana saham. Sementara produk reksa dana pendapatan tetap diyakini tetap atraktif pascapengumuman kenaikan suku bunga The Fed dan respons Bank Indonesia (BI) yang berdampak positif terhadap kinerja pasar obligasi.

The Fed pada pekan lalu menaikkan fed funds rate (FFR) sebesar 25 bps ke kisaran 0,25- 0,50%. The Fed diperkirakan menaikkan bunga acuan enam kali lagi pada tahun ini, masing-masing 25 bps, hingga di level 1,75-2,00% untuk memerangi inflasi yang sudah mencapai 7,9% ke posisi target 2%. Sementara Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 3,5% pekan lalu.

Meski sentimen negatif membayangi, masih ada sentimen positif yang menopang reksa dana pendapatan tetap, antara lain inflasi di Indonesia masih di level target 3% plus minus 1% atau di kisaran 2-4%. Hal ini menjadi dasar bagi BI belum waktunya menaikkan tingkat suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pemulihan ekonomi di tengah risiko global imbas perang Rusia-Ukraina.

Di samping itu, Indonesia termasuk negara yang sangat diuntungkan dengan booming harga komoditas saat ini. Dengan surplus neraca perdagangan yang besar, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan dapat bertahan di bawah level 15.000.

Sementara itu, produk reksa dana pasar uang masih cerah di tengah potensi kenaikan suku bunga. Kenaikan suku bunga deposito juga berpotensi mengangkat return reksa dana pasar uang.

Reksa dana pasar uang disukai sebagai alternatif tabungan di tengah suku bunga yang masih rendah dan likuiditas yang tinggi. Reksa dana pasar uang merupakan salah satu reksa dana yang paling likuid. Biasanya pembayaran redemption produk reksa dana pasar uang bisa diselesaikan le bih cepat daripada reksa dana jenis lain. Bahkan di beberapa agen penjual, reksa dana pasar uang dapat dicairkan secara realtime.

Untuk reksa dana terproteksi punya tantangan berat tahun ini. Jumlah peminat terhadap produk ini terus turun, yang tercermin dari NAB yang terus tergerus. Begitu juga dari sisi produk, jumlah produk reksa dana terproteksi makin susut. NAB reksa dana terproteksi per 18 Ferbruari 2022 sebesar Rp 100,08 triliun, turun dari posisi akhir 2021 sebesar Rp 103,21 triliun. Padahal, pada akhir tahun 2020, NAB-nya masih sebesar Rp 108,09 triliun. Pajak obligasi dan reksa dana terproteksi yang sama-sama 10% membuat reksa dana terproteksi tak lagi menarik, khususnya bagi investor institusional. Padahal, reksa dana terproteksi selama ini menjadi incaran investor institusional.

Dari sisi supply, penerbitan obligasi korporasi yang masih terbatas juga dinilai membuat manajer investasi kesulitan mencari underlying untuk reksa dana terproteksi. Dari sisi demand, peminat reksa dana terproteksi dari kelompok investor ritel, namun keberadaannya belum tentu bisa menggantikan investor institusional.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN