Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja IHSG awal sesi I Senin (26/7/2021). Sumber BSTV

Kinerja IHSG awal sesi I Senin (26/7/2021). Sumber BSTV

Asing Kembali Masuk Pasar Saham

Senin, 26 Juli 2021 | 12:09 WIB
Investor Daily

Dana investasi asing kembali masuk pasar saham Indonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, dana portofolio asing mengalir kencang. Dana asing itu mengincar saham-saham berfundamental bagus yang harganya sudah jatuh cukup dalam dan sama sekali tidak mencerminkan nilai fundamental. Sebagai investor yang berpengalaman, mereka memiliki pengetahuan bahwa harga saham berkinerja bagus dan berprospek cerah akan kembali terangkat pada waktunya, cepat atau lambat.

Bersamaan dengan dengan masuknya dana investasi asing, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat turun di bawah level 5.900 kembali naik di atas level 6.000. Pemodal asing mengoleksi saham-saham berkinerja bagus dan berprospek cerah. Saham-saham LQ-45 yang dilepas  investor ritel lokal ditampung oleh investor asing. Lebih dari 95% investor lokal adalah pemodal individu yang didominasi para milenial.

Selama Januari hingga 23 Juli 2021, net buying asing di BEI mencapai Rp 18,7 triliun. Dalam sepekan terakhir, net buying asing Rp 1,17 triliun. Pada rentang waktu Januari-Juli 2021, IHSG naik 2% ke level 6.101,69. Dari 36 bursa saham dunia yang dipantau BEI, indeks empat bursa dunia minus, sedang 32 bursa saham lainnya menunjukkan kenaikan, termasuk BEI. Dow Jones Index yang beberapa tahun terakhir meningkat, tahun ini, ytd, naik lagi 13,7%.

Dalam tiga tahun terakhir, IHSG ditutup pada level yang lebih rendah dibanding tahun  2017. Setelah ditutup 6.355,65 akhir tahun 2017,  IHSG tak pernah terangkat lagi terangkat lebih tinggi. Perdagangan saham di BEI akhir tahun 2018 ditutup pada level  6.194,50, dan pada akhir 2019 dan 2020  IHSG masing-masing   ditutup di posisi 6.299,54 dan 5.979,07.  Para analis memperkirakan, tahun ini perdagangan saham di BEI akan ditutup pada IHSG  6.500-2.800. 

Apa alasan para analis memperkirakan kenaikan indeks tahun ini?  Bukankah pandemi Covid-19 masih berkecamuk? Bukankah pandemi Covid-19 terus melahirkan  varian baru yang lebih cepat menyebar dan mematikan? Tidakkah kita ingat, pada awal tahun 2021 ada varian alfa di Inggris dan beta di Afrika? Kemudian, pada bulan April “meledak”  varian delta di India? Penyebaran varian Alfa di Inggris dapat ditekan. Varian delta masih membuat manusia di berbagai negara  hari-hari ini kalang kabut. Tapi, saat  varian alfa sudah tertangani  dan dunia menghadapi varian delta, varian beta kembali mengancam.

WHO mengingatkan warga dunia di berbagai negara untuk tetap mewaspadai penyebaran Covid-19. Karena varian baru masih akan datang silih berganti. Meski ada vaksinasi, protokol kesehatan (prokes) harus dilaksanakan dengan disiplin. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan harus menjadi gaya hidup baru. Dalam pada itu, testing dan tracing dilakukan dengan lebih masif. Obat-obatan, multivitamin, dan tabung oksigen tersedia di mana-mana.

Kapasitas  lokasi untuk isolasi ditingkatkan. Warga yang menjalani isolasi mandiri harus dalam pemantauan pemerintah lewat dinas kesehatan. Sedang pasien positif yang membutuhkan perawatan lebih intensif harus bisa ditampung rumah sakit. Kapasitas medis di berbagai negara sedang ditingkatkan. Wajar saja jika farmasi, alat kesehatan, dan rumah sakit kini menjadi sektor usaha yang bertumbuh dan pada masa akan datang, pertumbuhan lebih cepat lagi. Saham-saham sektor kesehatan diincar investor.

Meski pandemi belum segera berakhir, ekonomi dunia mulai bangkit. Saat ini, laju pertumbuhan ekonomi dunia umumnya sudah  di  jalur positif. Kegiatan dunia usaha  dan masyarakat mulai menyesuaikan diri dengan situasi pandemi. Banyak kegiatan di berbagai  sektor usaha yang bisa dikerjakan  dari mana saja. Sektor usaha yang menuntut kehadiran fisik sudah bisa diatur dengan baik. Kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi, perlahan, mulai melakukan penyesuaian dengan tuntutan pandemi.

Bank Dunia pada laporan terakhir, Juli 2021, memperkirakan, ekonomi dunia tahun ini akan bertumbuh 5,6%. Ekonomi negara maju diprediksi tumbuh 5,4% dan AS menjadi salah satu lokomotif dengan pertumbuhan 6,8%. Sedang laju pertumbuhan ekonomi negara pasar berkembang tahun 2021 diperkirakan tumbuh 6% dengan RRT sebagai lokomotif yang bakal bertumbuh 8,5%. Bank Dunia memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini 4,4%.

Perbaikan ekonomi global menjadi salah satu pemicu sentimen positif para investor. Dalam pada itu, Bank Sentral AS, The Federal Reserve (Fed), diperkirakan belum akan mengurangi pembelian surat berharga korporasi paruh pertama tahun 2022   dengan menggelontorkan dana besar yang disebut quantitative easing (QE). Suku bunga acuan Bank Sentral AS, Fed fund rate (FFR), juga belum akan diturunkan hingga tahun depan.  Kondisi ini mendorong para pengelola dana investasi portofolio mengalihkan perhatiannya ke emerging market, termasuk Indonesia.

Di dalam negeri ada sejumlah faktor yang menarik minat asing. Pertama, harga saham big cap yang tergabung di LQ-45 sudah cukup murah. Harga saham berkapitalisasi besar itu sudah tidak lagi mencerminkan kondisi fundamental.  Umumnya saham-saham big cap itu adalah emiten dengan bisnis yang prospektif. Selama manusia hidup, bisnis yang digeluti emiten big cap itu tetap dibutuhkan.

Kedua, di pasar obligasi negara, kupon bunga yang diberikan cukup menarik. Pada penerbitan SBN jenis saving bond ritel (SBR) dengan tenor tiga bulan diberikan  kupon bunga sebesar 5,1%. Bunga SBN berjangka tiga tahun sekitar 5,5%. Tingkat bunga ini dinilai cukup menarik minat asing.

Ketiga, rights issue PT BRI Tbk cukup menarik minat asing. Dengan menerbitkan 28,677 miliar  saham baru, BRI mengincar dana segar di atas Rp 50 triliun untuk membeli saham PT Permodalan Nasiional  Madani (PNM ) dan PT Pegadaian.  BRI sebagai induk perusahaan akan menjadi bank supermikro terbesar di Indonesia. Sebagaimana BRI, PNM dan Pegadaian memiliki nasabah mikro dan supermikro.

Keempat, rencana IPO sejumlah big-tech, yakni perusahaan teknologi besar, cukup menarik perhatian investor. Selama ini, asing sudah masuk ke sektor riil di Indonesia, antara lain, dengan  membiayai perusahaan startup hingga menjadi unicorn dan decacorn.  Ketika perusahaan rintisan yang sudah menjadi decacorn ini go public, asing juga ikut menambah kepemilikan mereka.

Kelima, investor asing melihat penanganan  pemerintah Indonesia terhadap Covid-19 cukup bagus, baik dari sisi upaya memutus mata rantai penularan Covid-19, peningkatan kapasitas medis, maupun stimulus ekonomi.    Kebijakan fiskal dan meneter on the right track.

Ketika para milenal tertarik membeli saham big-tech, para investor besar lokal dan pemodal asing tetap percaya pada perusahaan konvensional  dengan prospek bagus.  Bank konvensional seperti BRI lebih dipercaya asing karena sudah memiliki basis nasabah yang sangat besar dan tata kelola perusahaan yang prudent.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN