Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bank. Foto: Laporan tahunan PT Bank Jago Tbk.

Ilustrasi bank. Foto: Laporan tahunan PT Bank Jago Tbk.

Demam Bank Digital

Senin, 1 Maret 2021 | 11:10 WIB
Investor Daily

Label sebagai bank digital mendongkrak harga saham PT Bank Jago Tbk ke level Rp 10.000 dalam rentang waktu dua bulan, melesat 132,6%. Kegiatan perbankan yang serba digital dipersepsikan investor publik sebagai langkah tepat yang bakal menekan biaya operasional dan mendongkrak laba. Dari sebuah bank kecil, Bank Jago kini menjadi bank dengan nilai kapitalisasi Rp 107,5 triliun dan masuk jajaran elite saham big cap di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pandemi Covid-19 mempercepat transformasi digital. Kewajiban untuk menjaga jarak fisik, belajar, bekerja, dan menjalankan berbagai beraktivitas dari rumah mendorong percepatan penggunaan digital. Di bidang keuangan, financial technology (fintech) berkembang pesat. Berbagai transaksi, pembayaran, aktivitas layanan di bidang keuangan dilakukan secara elektronik atau digital.

Jauh sebelum pandemi Covid-19, fintech sudah berkembang cukup luas. Tapi, di saat pandemi, fintech mendapatkan momentum untuk berakselerasi untuk bertumbuh masif. Bukan hanya perusahaan fintech yang bertumbuh, melainkan juga penggunaan fintech oleh perbankan. Bank yang sudah memiliki fintech memanfaatkan pandemi sebagai momentum untuk mengembangkan dan menyempurnakan layanan digital.

Selain mengembangkan layanan digital yang dimiliki, sejumlah bank bekerja sama dengan fintech independen untuk menjangkau lebih banyak nasabah. Hingga akhir Desember 2020, penetrasi layanan perbankan baru 49% dari total penduduk Indonesia. Separuh penduduk Indonesia belum memliki rekening bank sebagai penabung. Jauh di bawah Tiongkok yang sudah mencapai 80% dan Malaysia 85%.

Teknologi finansial menjadi andalan untuk menjangkau penduduk Indonesia yang belum tersentuh layanan perbankan. Saat ini, penetrasi internet sudah mencapai 67%. Kondisi ini mendorong perbankan untuk mempercepat layanan digital. Tidak ada satu pun bank yang kini tidak mengembangkan fintech. Semua bank ”go digital”. Di samping memiliki sendiri layanan digital, sejumlah bank bekerja sama dengan fintech independen.

Perbankan melihat perusahaan fintech independen bukan sebagai kompetitor, melainkan pelengkap dan mitra untuk berkolaborasi. Namun, di tengah upaya perbankan mengembangkan layanan digital dan berkolaborasi dengan fintech, mencuat isu bank digital. Diam-diam, sejumlah bank mengembangkan diri dan bertransformasi menjadi bank digital, di antaranya PT Bank Jago Tbk.

Tak pelak lagi, Bank Jago adalah bank digital yang paling membetot perhatian publik. Didirikan di Bandung, 1992, dengan nama PT Bank Artos Indonesia Tbk (Bank Artos), bank yang selama 28 tahun tidak hanyak kedengaran tiba-tiba menjadi buah bibir. Pada 2019, Bank Artos bermetamorfosis menjadi bank digital seiring dengan masuknya PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) dan PT Wealth Track Technology Limited (WTT) sebagai pemegang saham pengendali baru. PT MEI menguasai 37,6% dan PT WTT memiliki 13,35% saham dan namanya diubah menjadi PT Bank Jago Tbk.

Daya pikat Bank Jago kian besar setelah bank itu menarik minat PT Dompet Karya Anak Bangsa (Go-pay) menjadi pemegang 22,16% saham, Desember 2020. Cerita berlanjut. Perusahaan investasi pemerintah Singapura, Government of Singapore Investment Corporation Pte Ltd (GIC), bersiap menjadi pemegang saham baru Bank Jago pada kuartal I-2021. GIC berkomitmen menyerap sebagian saham baru Bank Jago yang akan diterbitkan melalui Penawaran Umum Terbatas (PUT) II atau rights issue. Bank Jago menargetkan dana segar Rp 7 triliun agar bisa menjadi bank umum kegiatan usaha (BUKU) III. GIC berencana menyuntikkan dana sekitar Rp 3,15 triliun.

Selain Bank Jago, sejumlah bank siap beroperasi penuh sebagai bank digital. PT Bank BCA Tbk memiliki Bank Digital BCA yang akan diluncurkan semester pertama tahun ini. PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) akan dikembangkan menjadi bank digital. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI), PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK), dan PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA) juga dalam proses menjadi bank digital.

Disebut juga neobank, bank digital adalah bank yang menjalankan seluruh bisnisnya secara digital, tidak mempunyai kantor cabang atau branchless. Karena tidak memiliki kantor cabang, bank digital dinilai lebih efisien. Banyak investor kini mengajukan permohonan untuk mendapakan izin mendirikan bank digital.

Tidak semua bank digital adalah bank yang baru didirikan. Ada juga bank konvensional yang mengembangkan diri menjadi bank digital. Untuk mendapatkan izin, bank digital yang baru didirikan minimal memiliki modal Rp 10 triliun dan satu kantor pusat. Persyaratan lengkap mendirikan bank digital akan diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di semester pertama tahun ini. OJK saat ini sedang mempersiapkan Peraturan OJK (POJK) tentang bank digital.

Menempati peringkat ke-4 setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang sebagai negara yang paling banyak melakukan transaksi jual-beli secara online, Indonesia dinilai memiliki prospek cerah untuk mengembangkan bank digital. Pihak OJK mengakui, selama pandemi Covid-19 banyak investor mengakukan permohonan mendirikan bank digital.

Bank digital merupakan satu dari lima isu hangat tahun tahun 2021 di bidang fintech menurut Indonesia Fintech Society (IFSoc). Selain bank digital, ada isu elektronifikasi transaksi pemerintah daerah (pemda), Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi, distribusi bansos, dan kebijakan baru P2P Lending. IFSoc berpendapat, bank digital akan mengubah landscape industri perbankan. Sekitar 51% masyarakat yang belum memiliki akses penuh terhadap layanan perbankan merupakan peluang besar bagi bank digital.

Kita mengapresiasi sikap OJK yang dengan hati-hati mempersiapkan peraturan tentang bank digital. Kita berharap, kehadiran bank digital mampu meningkatkan literasi dan inklusi keuangan hingga ke perdesaan. Setiap rumah tangga dan setiap orang dewasa, 17 tahun ke atas memiliki simpanan di bank dan mendapatkan akses untuk mendapatkan pinjaman. Usaha ultra-mikro, mikro, dan kecil tidak lagi kesulitan mendapatkan layanan keuangan.

Demam bank digital diharapkan tidak berlangsung lama. Masyarakat harus kembali rasional melihat eksistensi sebuah bank, baik bank digital maupun bank konvensional. Bank konvensional yang mengembangkan layanan digital, meningkatkan efisiensi, menekan kredit bermasalah, dan meningkatkan pendapatan, baik pendapatan bunga dan maupun fee based income, patut pula dicermati. Ujung-ujungnya, bank yang baik adalah bank yang efisien, menerapkan prudential banking dengan baik, memilki kredibilitas, dan meraih profitabilitas tinggi.

 

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN