Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto ilustrasi; IST

Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto ilustrasi; IST

Ekosistem Baterai Listrik

Jumat, 5 Maret 2021 | 23:49 WIB
Investor Daily

Indonesia tak boleh lagi terlambat melakukan hilirisasi seperti terjadi saat booming komoditas minyak, batu bara, hingga sawit yang hanya diekspor di masa lalu. Itulah sebabnya, perintah Presiden Joko Widodo yang menghentikan ekspor nikel ke Eropa dan berbagai Negara sudah tepat, karena lebih bernilai tambah tinggi bila diolah menjadi baterai listrik di dalam negeri.

Apalagi, ada momentum emas transi si dari penggunaan energi fosil ke energi terbarukan secara global, yang meningkatkan kebutuhan baterai listrik dengan bahan baku terbanyak adalah nikel. Pasal nya, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang tidak banyak dimiliki negara lain. Bahan baku yang sangat strategis ini harus dimanfaatkan untuk benar-benar merealisasikan hilirisasi industri nikel di Tanah Air.

Indonesia juga memiliki banyak cadangan cobalt yang menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Hal ini menjadi modal untuk menjadi pemain kunci industri baterai mobil listrik yang permintaannya akan kian menanjak ke depan, seiring banyaknya negara menerapkan la rangan penjualan mobil baru berbahan bakar fosil, bervariasi mulai 2030.

Dengan dimulai dari pembentukan holding BUMN baterai listrik PT Industri Baterai Indonesia paling lambat Juni nanti, baru inilah pertama kalinya hilirisasi industri di Tanah Air akan menjadi kenyataan.

Dari hulu di pertambangan hingga industri baterai dan mobil listrik akan dibangun di dalam negeri, untuk pasar dalam negeri dan berikutnya ekspor.

Oleh karena itu, semua anak negeri harus memberi support, bahu membahu menyiapkan ekosistem ba terai dan mobil listrik. Sementara di negara-negara lain seperti di Eropa, mereka sudah lama masuk dan memiliki ekosistem renewable energy ini.

Kementerian BUMN kini menyiapkan pembentukan PT Industri Baterai Indonesia, yang sahamnya dimiliki Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Antam Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero). Keempat perusahaan pelat merah itu masing-masing kepemilikannya 25%. Investasi industri baterai dari hulu hingga ke hilir ini bakal mencapai US$ 13 miliar hingga tahun 2030, setara Rp 185 triliun lebih.

Sinergi tersebut sangat strategis untuk menghasilkan produk jadi bernilai tambah tinggi dan memperkokoh ketahanan energi nasional, ditopang kemampuan perusahaan negara menggarap industri terpadu dari hulu hingga hilir .

Di hulu, dua BUMN: Antam dan Inalum menguasai sumber daya mineral tambang bahan baku utama baterai listrik.

Sedangkan Pertamina sebagai perusahaan energi memiliki jaringan distribusi di seluruh Nusantara, dan PLN merupakan perusahaan pemasok listrik hingga ke pelosok-pelosok negeri.

Pembentukan holding baterai yang kuat tersebut memungkinkan dimulainya kontrak-kontrak kerja sama dengan mitra berpengalaman dalam membuat baterai kendaraan listrik.

Dari 11 perusahaan yang menjadi jagonya teknologi baterai dunia, setidaknya sudah ada dua perusahaan: LG Chem dari Korsel dan CATL dari RRT yang serius masuk.

Dengan membentuk joint venture, kerja sama dengan berbagai negara ini akan mewujudkan industri baterai listrik terintegrasi dari hulu ke hilir yang akan menjadi terbesar di dunia. Apalagi Hyundai dari Korsel juga akan membangun pabrik mobil listrik di Indonesia. PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia tercatat sudah membeli lahan Puradelta Lestari di Cikarang, Bekasi, senilai Rp 1,36 triliun.

Oleh karena itu, pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu segera menyusun visi dan aksi bersama untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir. Dalam ekosistem baterai ini ada 7 proses value chain, mulai dari pertambangan nikel, pengolahan nikel di refining, precursor plant, cathode plant, battery cell, battery pack, dan bahkan recycling.

Nantinya, Antam akan menyuplai nikel yang diproses menjadi nikel sulfat, kobalt sulfat, dan diproses lagi menjadi precursor dan katoda. Tahapan selanjutnya katoda diproses menjadi cell dan battery pack. Di rantai nilai ini, Pertamina akan menggarap precursor plant, cathode plant, battery cell, dan battery pack.

Setiap rangkaian proses tersebut memiliki masing- masing pabrik dan membentuk joint venture (JV) sendiri. Pertamina pun sudah mencermati dan aktif mengikuti perkembangan teknologi baterai, pemanfaatan, pemainnya, dan economic of scale sejak 4-5 tahun lalu. Rencana bisnis baterai juga sudah masuk dalam masterplan perusahaan, lantaran dalam 20-30 tahun ke depan praktis semua kendaraan sudah beralih ke penggunaan baterai listrik, tidak lagi menggunakan BBM.

Untuk mengembangkan industri ini, Indonesia pun bisa menegosiasikan potensi pasarnya yang besar, yang mencapai sekitar 8,8 juta kendaraan baru roda dua dan mobil listrik 2 juta hingga 2025.

Setidaknya, kita bisa menegosiasikan supaya kendaraan yang dijual semua baterainya produksi Indonesia. Kendaraan listrik juga perlu dibebaskan dari peraturan pembatasan mobil pelat nomor ganjil-genap di sejumlah kota.

Selain itu, gratis di tempat parkir umum. Yang tak kalah penting, pemerintah memberi insentif seperti bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang saat ini 10%, PPnBM 10-125%, Pajak Kendaraan Bermotor sekitar 2%, dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 10-12,5%.

Dengan demikian akan terbentuk ekosistem yang baik untuk industri strategis ini, di mana negara pun akan diuntungkan dengan penyerapan tenaga kerja, memperkokoh struktur ekonomi, sekaligus memangkas defisit neraca perdagangan migas yang luar biasa besar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN