Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri Manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri Manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Fase Ekspansi Industri

Kamis, 14 Januari 2021 | 11:02 WIB
Investor Daily

Ekonomi Indonesia sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Indikator ke arah itu dapat dilihat dari hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia mengenai kegiatan dunia usa ha dan membaiknya kinerja sektor industri pengolahan yang tercermin dari peningkatan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) pada kuartal IV- 2020, serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada akhir tahun lalu.

Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mengindikasikan bahwa kegiatan dunia usaha membaik pada kuartal IV-2020, meskipun masih dalam fase kontraksi. Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal IV-2020 sebesar -3,90%, membaik dari -5,97% pada kuartal III-2020.

Perbaikan kegiatan usaha didorong oleh kinerja sejumlah sektor yang tumbuh positif, yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi, keuangan, real estat dan jasa perusahaan, listrik, gas dan air bersih, serta jasa-jasa. Selain itu, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi terindikasi membaik.

Pada kuartal I-2021, responden yang disurvei BI memprakirakan kegiatan usaha akan mencatat kinerja positif dengan SBT sebesar 7,68%. Berdasarkan sektor ekonomi, peningkatan diperkirakan ter jadi pada seluruh sektor ekonomi, terutama sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan, serta sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan.

Kinerja sektor industri pengolahan pada kuartal IV-2020 diperkirakan membaik walaupun masih dalam fase kontraksi. Hal itu tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) sebesar 47,29%, meningkat dari 44,91% pada kuartal III-2020 dan 28,55% pada kuartal II- 2020.

Perbaikan terjadi pada hampir seluruh kom ponen pembentuk PMI-BI, terutama volume produksi ditopang oleh penerimaan barang input yang lebih cepat, serta jumlah tenaga kerja.

Secara sektoral, mayoritas subsektor mencatat perbaikan kinerja pada kuartal IV-2020, terutama subsektor logam dasar besi dan baja, serta subsektor pupuk, kimia dan barang dari karet dan subsektor kertas dan barang cetakan yang sudah berada pada fase ekspansi.

Pada kuartal I-2021, kinerja sektor industri pengolahan diprakirakan meningkat dan berada dalam fase ekspansi. PMI-BI pada kuartal I-2021 diprakirakan sebesar 51,14%, meningkat dari kuartal sebelumnya. Peningkatan PMI-BI didorong oleh komponen volume total pesanan, volume persediaan barang jadi, dan volume produksi yang berada pada fase ekspansi. Beberapa subsektor diprakirakan akan berada pada fase ekspansi, yaitu subsektor makanan, minuman dan tembakau, semen dan barang galian non logam, pupuk, kimia dan barang dari karet, dan subsektor kertas dan barang cetakan.

Aktivitas industri manufaktur di Tanah Air juga menunjukkan semakin ekspansif pada akhir tahun 2020. Survei yang dilakukan IHS Markit menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2020 yang tercatat di level 51,3 atau naik disbanding capaian bulan sebelumnya yang berada di posisi 50,6. PMI Indonesia naik hampir 3 indeks pada November dari posisi Oktober 2020 di level 47,8.

PMI Indonesia telah menembus level 50,0 atau level ekspansi sebanyak dua kali selama pandemi, yakni Agustus dan November. Per Agustus, angka PMI nasional berada di level 50,8 atau naik 390 basis poin (bps) dari realisasi Juli 2020 di level 46,9. Secara tahunan, realisasi PMI Agustus 2020 naik 180 bps dari posisi Agustus 2019 di level 49,0.

Dalam catatan IHS Markit, kebijakan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat menjadi PSBB transisi memberikan dorongan bagi sektor manufaktur Indonesia pada pertengahan kuartal keempat.

Kenaikan itu sebagian besar didorong oleh kenaikan rekor tertinggi produksi di tengah laporan meluas tentang pembukaan kembali pabrik dan peningkatan permintaan. Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk bisa memasuki tahap pemulihan ekonomi. Indikasi menuju pemulihan pada tahun ini bisa terlihat dari perjalanan perekonomian nasional selama tahun lalu. Perekonomian Indonesia pernah mengalami titik terendahnya atau rock bottom di kuartal II-2020 dengan tumbuh minus 5,32% (yoy). Namun, pada kuartal III-2020 mulai mengalami perbaikan meski masih kontraksi 3,4% (yoy), dan pada kuartal IV-202 diperkirakan di kisaran -2,0 hingga 0,6%.

Kondisi makro ekonomi lainnya yang mendukung adalah permintaan domestic dan keyakinan konsumen yang membaik. Hal tersebut diyakini akan mendorong produksi atau supply side. Lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang terus menguat dan kembali ke level sebelum Covid-19.

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Desember 2020 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi menguat, mendekati zona optimistis. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2020 sebesar 96,5, meningkat dari 92,0 pada November 2020. Keyakinan konsumen yang membaik pa da Desember 2020 didorong oleh menguatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan. Persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini membaik didukung oleh aspek ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.

Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap kondisi eko nomi ke depan meningkat, utamanya terhadap ketersediaan lapangan kerja.

Selain perbaikan keyakinan konsumen, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang telah dimulai pada Rabu (13/1) kemarin bakal mendorong optimisme masyarakat untuk memulai kegiatan bisnis. Vaksinasi bisa menjadi game changer atau titik balik dalam penanganan pandemi d Indonesia, tapi tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya solusi mengatasi penyebaran virus Covid-19.

Vaksinasi harus diposisikan sama penting dengan penerapan praktik 3T, yakni tracing (penelusuran), testing (pengujian), dan treatment (perlakuan), serta disiplin penerapan perilaku 3M, yakni menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Apalagi, proses vaksinasi cukup panjang, bisa memakan waktu lebih dari satu tahun.

Disiplin dalam penerapan praktik 3T dan perilaku 3M tidak boleh surut se lama proses vaksinasi agar jumlah kasus Covid-19 tidak terus melonjak signifikan seperti terjadi belakangan ini. Sepanjang dua pekan pertama Januari 2021, penambahan harian kasus positif setidaknya sudah 4 kali mencetak rekor. Bahkan kemarin, kasus positif kembali mencetak rekor baru, yakni bertambah 11.278 orang. Jika lonjakan kasus positif Covid-19 tidak bisa dikendalikan, bukan tidak mungkin optimisme yang sudah terbangun akan pupus.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN