Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan bongkar muat di terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kegiatan bongkar muat di terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Hambatan Ekspor

Sabtu, 16 Januari 2021 | 10:17 WIB
Investor Daily

Bayangan buruk tentang pertumbuhan ekonomi mulai terkikis oleh berita menggembirakan tentang kinerja neraca perdagangan kita. Sepanjang 2020, neraca perdagangan Indonesia mencapai surplus US$ 21,74 miliar, level tertinggi sejak 2011, ketika periode tersebut kita mampu menikmati surplus perdagangan sebesar US$ 26,06 miliar. Pencapaian tahun lalu juga terasa sebagai obat setelah dua tahun sebelumnya

Indonesia menderita defisit perdagangan. Tahun 2018, defisit perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$ 8,7 miliar, kemudian pada 2019 defisit tersebut sedikit membaik di angka US$ 3,59 miliar.

Surplus yang besar tahun lalu bukan semata karena impor yang anjlok tajam, hingga minus 17,34% dari tahun lalu. Adapun ekspor hanya terpangkas 2,61%. Tapi lebih dari itu, performa ekspor nasional ini melebihi ekspektasi, tidak seburuk yang semula dibayangkan. Pencapaian ini juga lebih baik dibanding yang dialami banyak negara.

Dari semua komponen pertumbuhan ekonomi, semula diperkirakan hanya pengeluaran atau konsumsi pemerintah yang mencatat kinerja baik akibat terpukul oleh dampak pandemic Covid-19. Komponen lain, seperti konsumsi r umah tangga, investasi, dan ekspor yang berkontribusi paling besar diduga bakal tergerus hebat. Nyatanya, kinerja ekspor cukup menumbuhkan optimisme.

Ada sejumlah catatan positif yang layak dicermati dari kinerja ekspor sepanjang tahun lalu. Dari 12 bulan, 10 bulan tercatat surplus dan hanya dua bulan defisit, yakni Januari dan Maret. Industri pengolahan yang mendominasi eks por sekitar 75% dari total ekspor nonmigas juga mampu tumbuh 2,95% dibanding tahun 2019 (year on year/ yoy). Sektor pertanian bahkan melonjak hampir 14%.

Sedangkan pencapaian yang kurang menggembirakan adalah ekspor migas yang anjlok 29,52% karena rendahnya harga minyak mentah. Sektor pertambangan juga merosot 20,7% meski harga komoditas ini terus melesat sepanjang tahun lalu, akibat turunnya konsumsi sejumlah negara tujuan ekspor.

Sementara itu, impor barang konsumsi turun 10,93%, bahan baku penolong terpangkas 18,32%, dan barang modal tergerus hingga 16,73%. Turunnya impor bahan baku penolong dan barang modal merupakan sinyal buruk, karena kedua kelompok barang tersebut sangat dibutuhkan untuk kegiatan investasi.

Tahun ini dan ke depan, Indonesia bakal menghadapi tantangan yang tidak ringan dari sisi ekspor. Pertama, tendensi negara-negara untuk lebih proteksionistis, terutama pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Bahkan Filipina, yang saat ini menjadi pasar ekspor menggiurkan produk mobil kita, baru saja menerapkan bea masuk tambahan atau safeguard.

Eropa juga masih tetap mengancam produk minyak sawit berikut turunannya, dengan berbagai tuduhan dan kampanye hitam. Padahal, produk sawit merupakan penghasil devisa terbesar, senilai lebih dari US$ 20 miliar.

Selain itu, sikap proteksionisme juga akan diikuti dengan upaya-upaya mempersoalkan mata dagangan ekspor kita yang bernilai strategis. Contoh paling hangat adalah Uni Eropa yang memprotes kebijakan larangan ekspor mentah produk nikel kita yang mulai berlaku 1 Januari 2021 ini. Uni Eropa membawa masalah ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Sangat aneh, negara lain mau ikut campur tangan dengan kebijakan domestik. Larangan kebijakan ekspor nikel mentah justru merupakan kebijakan yang tertunda, karena ke baikan hati pemerintah terhadap perusahaan pertambangan mineral yang berusaha mengulur-ulur pembangunan smelter.

Indonesia tidak boleh gentar menghadapi gertakan Uni Eropa untuk membawa masalah larangan ekspor nikel ke WTO. Sebab, kebijakan larangan ekspor bahan mentah itu merupakan komitmen nasional untuk mendorong program hilirisasi guna menciptakan nilai tambah.

Selama ini Indonesia banyak mengekspor produk komoditas mentah. Banyak negara maju yang keenakan menikmati harga rendah komoditas bahan mentah kita. Bahkan mereka mendikte harga komoditas ekspor Indonesia. Ke depan, ancaman seperti Uni Eropa sangat mungkin diikuti oleh Negara lain, dengan alasan yang berbeda-beda.

Ingat bahwa program hilirisasi akan memperkuat struktur industri nasional, selain mampu mendongkrak nilai ekspor produk manufaktur. Pemerintah jangan mau dipecundangi korporasi yang selalu merengek untuk menunda larangan ekspor bahan tambang mentah.

Berkali- kali pemerintah kalah menghadapi mereka. Hilirisasi juga harus didorong untuk komoditas- komoditas di luar bahan tambang dan mineral. Utamanya adalah produk pertanian dan perkebunan. Hilirisasi produk sawit saat ini relatif sukses, namun perlu diakselerasi dan butuh inovasi-inovasi yang menciptakan produk bernilai tambah tinggi. Upaya penting lain adalah mendiversifikasi pasar ekspor, dengan mengintensifkan pasar yang belum banyak tergarap seperti Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika.

Selain berbagai upaya menggenjot ekspor di atas, kita juga mesti mengerem impor. Upaya mengerem impor migas selama ini relatif berhasil. Program percampuran minyak nabati ke dalam BBM harus terus digenjot un tuk mengurangi impor minyak.

Sejalan dengan itu, Pertamina harus terus menaikkan kapasitas kilang yang dimiliki dan konsisten membangun kilang baru. Sedangkan untuk jangka menengah- panjang, Indonesia wajib membenahi struktur industri nasional, baik di hulu, antara atau intermediate, hingga hilir. Reformasi struktural dan reindustrialisasi ini hanya bisa ditempuh lewat investasi besar-besaran.

Itulah sebabnya, kita harus mengundang investor asing dan memberdayakan investor domestik. Berbagai upaya dan strategi di atas apabila dijalankan secara konsisten dan simultan, niscaya akan mampu mendongkrak ekspor nasio nal dan melambungkan surplus per dagangan.Tak peduli betapapun makin besarnya hambatan ekspor yang kita hadapi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN