Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stasiun pengisian kendaraan listrik untuk umum. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Stasiun pengisian kendaraan listrik untuk umum. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Indonesia Battery Corporation

Minggu, 28 Maret 2021 | 05:09 WIB
Investor Daily

Hanya dalam tempo kurang dari satu tahun, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mampu mewujudkan pendirian Indonesia Battery Corporation (IBC) atau holding BUMN untuk industri baterai kendaraan listrik. Pendirian IBC ini sebagai langkah berani untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain global dalam bisnis baterai kendaraan listrik dan baterai stabilisator untuk kebutuhan rumah serta energi terbarukan.

Pembentukan IBC ditandai dengan penandatanganan perjanjian pemegang saham (shareholders agreement) pada 16 Maret 2021 oleh empat perusahaan BUMN sektor pertambangan dan energi, yakni holding industri pertambangan Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).

Sedangkan peresmian pendirian IBC dilakukan oleh Menteri BUMN Erick Thohir, Jumat (26/3).

Konsorsium BUMN ini mendapat mandat mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (baterai electric vehicle/EV) secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Komposisi kepemilikan saham setara atau masing-masing 25%. Setiap BUMN memiliki keleluasaan untuk dapat berpartisipasi langsung dalam usaha patungan (joint venture/ JV) yang dibentuk bersama calon mitra.

Untuk bisa menjadi pemain global, IBC tidak jalan sendirian. IBC akan bermitra dengan dua produsen baterai kendaraan listrik kelas dunia, yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) asal Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan.

Selain dengan kedua perusahaan tersebut, IBC akan membentuk sinergitas dengan beberapa perusahaan global lainnya. IBC tidak memonopoli bermitra dengan satu atau dua pihak saja, namun bisa bermitra dengan banyak pihak.

Dalam kemitraan dengan CATL dan LG Chem, IBC akan terlibat dalam pengembangan proyek baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu hingga hilir senilai US$ 17 miliar secara bertahap. IBC dan mitranya akan menanamkam modal di sektor hulu seperti tambang nikel, lalu di smelter, dan setelah itu melanjutkan investasi di hilir untuk memproduksi battery cell serta produk turunan lainnya.

Untuk saat ini, keberadaan IBC memang masih di atas kertas. Hasil kerja konsorsium BUMN ini akan terlihat setelah memproduksi battery cell pada 2022-2023. Pada tahap awal, produksi baterai ditargetkan mencapai 10-30 gigawatt hour (GWh). Produksi ini akan terus ditingkatkan hingga bisa mencapai 140 GWh pada 2030.

Selain digunakan untuk produksi kendaraan listrik di dalam negeri, sekitar 50 GWh dari produksi batter y cell ini akan diekspor untuk memasok produsen kendaraan listrik skala global.

Untuk membangun pabrik baterai, dibutuhkan pasokan bahan baku dari baterai tersebut yakni bisa berupa Mix Hydroxide Precipitate (MHP) maupun Mix Sulphide Precipitate (MSP). Produk ini merupakan cikal bakal nickel sulphate atau cobalt sulphate yang menjadi bahan baku komponen baterai.

Adapun produk MHP atau MSP tersebut merupakan hasil dari smelter nikel dengan metode High Pressure Acid Leach (HPAL). IBC dan mitranya akan melakukan studi dan pengembangan di sisi tambang dan pengembangan fasilitas smelter.

Dalam roadmap pengembangan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi (energy storage system/ ESS), rencananya dibangun smelter nikel dengan metode HPAL oleh Antam, serta pabrik prekursor dan katoda oleh PT Pertamina (Persero) dan MIND ID yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2024.

Sedangkan pabrik battery pack oleh Pertamina dan PLN direncanakan mulai beroperasi pada 2025.

Pembentukan IBC merupakan langkah pemerintah untuk memanfaatkan momentum menjadi pemain global baterai kendaraan listrik berbasis nikel, agar tidak lagi tertinggal dari negara-negara besar lain, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Kehadiran industri baterai kendaraan listrik ini akan membuat Indonesia menjadi lebih bersahabat dengan ekonomi hijau.

Pembentukan IBC sangat strategis karena Indonesia memiliki 24% kekayaan nikel dunia. Indonesia memiliki cadangan nikel sebanyak 21 juta MT.

Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan produksi nikel terbesar di dunia. Berdasarkan data Survei Geologi AS dan data Badan Geologi Kementerian ESDM, dari total 2,67 juta metrik ton (MT) produksi nikel di seluruh dunia pada 2019, Indonesia memproduksi 800.000 MT, jauh mengungguli Filipina (420.000 MT), Rusia (270.000 MT), dan Kaledonia Baru (220.000 MT).

Seiring popularitas kendaraan listrik, masa depan produksi nikel semakin cerah. Semakin besarnya penetrasi kendaraan listrik akan meningkatkan permintaan nikel, sehingga mendorong perusahaan dan Negara penghasilnya bersemangat untuk menggenjot produksi logam dasar ini.

Kini, Indonesia pun menjadi tolok ukur bagi banyak pihak mengenai keseriusan sebuah ne gara untuk terjun ke bisnis pengembang an nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik yang sedang menjadi tren dunia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN