Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mobil Tesla sedang dipamerkan di showroom di Aventura Mall pada 19 Maret 2021 di Miami, Florida. Foto ilustrasi: JOE RAEDLE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP

Mobil Tesla sedang dipamerkan di showroom di Aventura Mall pada 19 Maret 2021 di Miami, Florida. Foto ilustrasi: JOE RAEDLE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP

Insentif untuk Mobil Listrik

Senin, 29 Maret 2021 | 10:41 WIB
Investor Daily

Merespons bumi yang semakin panas dan perubahan iklim yang kian ekstrem, berbagai negara kini mulai memproduksi mobil listrik. Tesla, perusahaan otomotif asal AS, kini menjadi perhatian dunia.

Pada tahun 2020, perusahaan dengan kapitalisasi pasar Rp 8.500 triliun itu menjual sekitar 500.000 unit mobil listrik ke seluruh dunia. Tesla menjadi perusahaan terdepan dalam memproduksi mobil listrik.

Mobil listrik mulai digandrungi penduduk dunia karena dinilai sebagai kendaraan ramah lingkungan. Negara-negara di Eropa yang semula menargetkan tahun 2050 bebas energi fosil, kini mempercepat target menjadi tahun 2040. Pada tahun 2050, semua jenis kendaraan bermotor yang melintas di jalanjalan di Eropa tidak boleh lagi mengeluarkan emisi karbon. Bagaimana Indonesia?

Sebagai bagian dari penghuni bumi yang satu dan sama, Indonesia tidak bisa berbuat lain. Negara yang tidak mendukung terwujudnya bumi yang bersih akan disingkirkan dari pergaulan dan persekutuan dunia. Ekspor negara yang abai terhadap lingkungan bersih akan dihambat. Di berbagai belahan dunia kini bergema kampanye “green industry, green economy, green tourism, and green car”.

Indonesia sudah ber komitmen meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil dan beralih ke mobil listrik. Ada perusahaan otomotif yang langsung memproduksi mobil listrik, namun ada pula yang mengembangkan mobil transisi dari mobil BBM ke mobil listrik, yakni hybrid car. Di hybrid car tersedia dua bahan bakar, yakni baterai listrik dan mesin BBM.Jika baterai bermasalah, mobil tetap melaju berkat BBM.

Pada tahun 2021, pemerintah menargetkan sekitar 125.000 unit mobil listrik beredar di Indonesia. Sepeda motor lebih banyak, yakni 1.344 juta unit karena lebih sederhana disbanding mobil. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan, pada 2030, penggunaan mobil listrik di Indonesia bakal menembus 2,2 juta unit dan sepeda motor listrik sekitar 13 juta unit.

Setidaknya ada tiga faktor yang menentukan peningkatan penggunaan mobil listrik di Indonesia.

Pertama, harga mobil listrik untuk penumpang kategori kendaraan niaga harus lebih murah dari saat ini, yakni masih di atas Rp 650 juta per unit. Harga mobil yang relatif masih terjangkau oleh konsumen Indonesia adalah di bawah Rp 300 juta per unit.

Untuk menurunkan harga jual mobil listrik dibutuhkan insentif dari pemerintah berupa pembebasan atau minimal keringanan pajak penjualan barang mewah (PPn-BM) dan pajak kendaraan bermotor.

Kedua, penggunaan kendaraan listrik harus mudah, easy handling, minimal sama dengan kendaraan BBM. Keandalan mobil listrik juga tidak boleh kalah dari mobil fosil. Di jalan, kecepatan mobil listrik mudah diakselerasi. Baterai mobil listrik yang sudah terisi penuh harus bertahan minimal 150 km.

Ketiga, ekosistem harus mendukung. Agar mobil listrik bisa digunakan masif diperlukan ketersediaan listrik di berbagai lokasi untuk mengisi baterai, baik di rumah, kantor, SPBU, maupun di tempat umum. Pasokan baterai harus cukup agar tidak terjadi kelangkaan.

Kalangan pengamat menyarankan agar pemerintah fokus pada pengembangan mobil battery electric vehicle (BEV) dan tidak lagi menyubsidi dan memberikan berbagai kemudahan pada mobil berbahan bakar minyak (BBM), termasuk mobil hybrid, baik mobil hybrid electric vehicle (HEV) maupun plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), yakni mobil hybrid dengan colokan. Tiongkok diketahui sudah menghentikan subsidi terhadap mobil mobil hybrid sejak 2013, baik HEV maupun PHEV. Pemerintah India juga menerapkan kebijakan serupa pada 2017.

Sebelumnya, subsidi untuk kendaraan ramah lingkungan di India diberikan kepada mobil HEV maupun PHEV. Pemerintah bertekad menjadikan Indonesia sebagai sentra produksi baterai terbesar di dunia. Namun, jika ingin industri baterai nasional cepat besar, sebaiknya pemerintah berpihak pada BEV. Pemberian subsidi BEV akan mengakselerasi penggunaan mobil listrik dan mempercepat produksi beterai dan mobil listrik. Mobil BEV menggunakan baterai 50 kali lipat lebih banyak dari HEV dan PHEV.

Keberpihakan pemerintah pada BEV akan mengakselerasi penggunaan mobil listrik dan sekaligus memperkuat pabrik baterai nasional. Namun, jika subsidi tetap diberikan kepada HEV dan PHEV, transisi menuju mobil listrik akan panjang dan bisa jadi Indonesia bakal tertinggal.

Untuk mendukung mobil listrik, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendirikan industri baterai kendaraan listrik dengan nilai investasi US$ 17 miliar atau setara Rp 238 triliun. Pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC) ditandai dengan penandatanganan perjanjian pemegang saham pada 16 Maret 2021 oleh empat perusahaan BUMN sektor pertambangan dan energi, yakni holding industri pertambangan, Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).

Pada hari yang sama, pendirian IBC diresmikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Konsorsium BUMN ini diberikan mandat untuk mengembangkan ekosis tem industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi, dari hulu ke hilir.

Untuk menjadi pemain global, IBC berencana bermitra dengan dua produsen baterai kendaraan listrik kelas dunia, yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) asal Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan. BEV akan menciptakan ekosistem dan bisnis baru dari hulu ke hilir, dari pertambangan dan smelter hingga perakitan mobil listrik serta bisnis daur ulang baterai. Infrastruktur mobil HEV relatif sama dengan mobil BBM biasa, sehingga tidak efektif menciptakan ekosistem baru.

Kita mengakui, mobil listrik di Indonesia tidak seratus persen ramah lingkungan. Karena baterai untuk kendaraan listrik masih harus diisi dengan tenaga listrik yang diambil dari pembangkit listrik PT PLN. Sedang mayoritas pembangkit listrik, sekitar 90%, masih mengandalkan energi fosil, baik PLTU (batu bara), PLTG (gas alam), maupun PLTGU (batu bara dan gas alam).

Pembangkit listrik yang mengandalkan energy terbarukan masih minim. Kontribusi PLTA, pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga matahari, dan pembangkit listrik biofuel masih minim.Namun, fakta ini tidak boleh menyurutkan program mobil listrik.

Kita lebih fokus pada mobil listrik karena sepeda motor listrik lebih mudah direalisasikan. Sambil mengurangi dominasi pembangkit listrik tenaga batu bara dan gas alam, pemerintah perlu memberikan insentif bagi mobil BEV dan membantu menciptakan ekosistem yang mendukung. Jika ada insentif, sehingga harga lebih murah, andal di jalan, dan ekosistem mendukung, permintaan terhadap mobil listrik akan meningkat. Indonesia akan cepat mewujudkan kendaraan listrik di jalan sebelum tahun 2040.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN