Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Jakarta 2019

Sabtu, 16 September 2017 | 09:26 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Dalam beberapa bulan ini masyarakat yang melintasi Ibu Kota Jakarta harus bermacet- macet lebih dari biasanya karena pembangunan infrastruktur di berbagai tempat. Jalanan banyak yang menyempit sehingga memicu bottleneck. Sebagian jalan juga tidak mulus karena harus dijebol sana-sini. Namun, dalam satu-dua tahun ke depan, masyarakat Jakarta akan menikmati lalu lintas yang lebih nyaman.

 

Pembangunan infrastruktur transportasi yang terus dikebut di wilayah Jakarta dan sekitarnya, menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, diyakini dapat mengurangi tingkat kemacetan hingga 50% di Ibu Kota. Sebab, seluruh moda transportasi dirancang secara terintegrasi satu dengan yang lainnya, sehingga menarik minat masyarakat, termasuk pemilik kendaraan pribadi, untuk menggunakannya.

 

Hal itu sejalan dengan selesainya pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek tahap 1, Mass Rapid Transit (MRT Jakarta fase 1, KA Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), dan sistem persinyalan moving block Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek pada 2019. Ada sekitar 2 juta penumpang yang bakal menggunakan moda transportasi berbasis perkeretaapian di wilayah Jabodetabek pada 2019.

 

Proyek MRT Jakarta fase 1 lintas Lebak Bulus-Bundaran HI ditargetkan beroperasi pada Maret 2019. Saat ini, konstruksi sudah mencapai 76%. Jumlah penumpang MRT Jakarta fase1 diprediksi sekitar 175.000 orang per hari. Sedangkan progres pengerjaan LRT Jabodebek tahap 1 mencapai 17%. Adapun KA Bandara Soekarno-Hatta mulai beroperasi pada November 2017, yang dapat melayani 33.000 penumpang. Pembangunan MRT akan dilanjutkan dengan tahap kedua koridor Bundaran HI-Ancol sepanjang 13,5 km. Proyek ini direncanakan beroperasi komersial tahun 2020. Setelah itu, koridor timur-barat sepanjang 87 km Cikarang-Tangerang bakal menyusul dan ditargetkan rampung antara tahun 2024-2027, tergantung studi kelayakan dan hasil tender.

 

Kehadiran berbagai sarana transportasi modern tersebut bukan hanya mengurangi kemacetan, tapi juga menurunkan polusi akibat emisi kendaraan bermotor secara signifikan. Terlebih lagi apabila MRT mulai beroperasi, jalur lambat sepanjang Jalan Sudirman akan diubah menjadi trotoar buat para pejalan kaki. Kemacetan di putaran Semanggi kini juga jauh berkurang dengan beroperasinya simpang susun Semanggi.

 

Dengan jumlah kendaraan dan penduduk yang terus bertambah, DKI Jakarta memang harus terus membenahi sistem transportasi. Selain transportasi berbasis rel, jaringan busway harus diperluas dengan armada yang mesti ditambah, karena kapasitas angkut armada yang ada tak mampu menampung animo penumpang yang berlimpah.

 

Integrasi tidak hanya dilakukan pada antarmoda transportasi, tapi juga dengan lahan parkir di tempat-tempat sekitar stasiun dan jaringan busway. Dalam hal ini, Pemprov DKI mesti bekerja sama dengan mal-mal di Jakarta yang memiliki lahan parkir luas. Kita mengapresiasi sejumlah pengembang yang kini membangun apartemen terintegrasi di sekitar stasiun kereta dan terminal bus dengan konsep transit oriented development (TOD).

 

Integrasi antarmoda akan membuat transportasi jauh lebih efisien dan mendorong para pemilik kendaraan pribadi untuk beralih ke angkutan umum. Sebab, saat ini peralihan kendaraan pribadi ke armada transportasi massal baru mencapai 13%. Padahal Pemprov DKI Jakarta menargetkan sebanyak 60% pemilik kendaraan pribadi beralih ke transportasi massal Jika semua sudah terintegrasi, kerugian akibat kemacetan yang diderita warganya bakal berkurang.

 

Menurut sebuah studi, kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 150 triliun per tahun. Hal itu terjadi lantaran banyak biaya sosial yang dihabiskan masyarakat selama terjebak kemacetan di jalan, mulai dari biaya bahan bakar kendaraan hingga biaya kesehatan yang diakibatkan oleh polusi udara.

 

Kita berharap bahwa kehadiran sarana transportasi modern akan menampilkan Jakar ta yang lebih bersih, tertib, nyaman, dan bersahabat. Itu berarti akan mengurangi stres penduduk dan warga yang sehari-harinya melintas di Jakarta. Jakar ta yang bersih dan nyaman tentu akan lebih banyak lagi memikat wisatawan asing.

 

Meski demikian, sarana transportasi yang modern dan nyaman harus dibarengi dengan ketertiban dan kedisiplinan warga, baik dalam berlalu lintas maupun ketika menggunakan sarana transportasi umum. Sebab, jika pengguna jalan tetap tidak disiplin, lalu lintas tetap akan semrawut.

 

Demikian pula para pengguna moda transportasi umum yang modern tersebut, harus disiplin, tertib, dan beretika. Dalam konteks itu, pemerintah sebaiknya membuat regulasi guna mendukung dan melindungi keberadaan sarana transportasi umum tersebut.

 

Selain itu, beleid tentang pembatasan penggunaan kendaraan pribadi di wilayah dan jam-jam tertentu perlu diperluas. Hanya dengan cara demikian wajah Jakarta ke depan dapat lebih nyaman, bersahabat, dan ramah lingkungan. (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN