Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para penerima penghargaan Asuransi Terbaik mengungkapkan pernyataan secara bersamaan di akhir Acara Insurance Awards 2020,  Selasa (22/9/2020)

Para penerima penghargaan Asuransi Terbaik mengungkapkan pernyataan secara bersamaan di akhir Acara Insurance Awards 2020, Selasa (22/9/2020)

Jangan Menutup Asuransi

Jumat, 25 September 2020 | 11:59 WIB
Investor Daily

Di tengah masih berlangsungnya pandemi, return investasi memang turun di mana-mana, termasuk unit linked yang menjadi andalan industri asuransi jiwa. Unit linked ini merupakan primadona, karena memberi fungsi proteksi atas resiko dalam kehidupan sekaligus investasi.

Asuransi dan investasi ini merupakan dua hal yang wajib dilakukan dalam perencanaan kita, guna memindahkan risiko keuangan dalam hidup yang dipenuhi ketidakpastian seperti sakit atau meninggal, serta membangun kemakmuran untuk pribadi maupun keluarga.

Itulah sebabnya, meski kini return atau imbal hasil turun, kita jangan menutup polis asuransi tersebut. Jika punya asuransi, maka ketika terjadi risiko, perusahaan asuransi akan menanggung risiko finansialnya. Artinya, keluarga juga tidak makin terpukul akibat beban keuangan karena kematian, kecelakaan, cacat, atau sakit.

Meski kini polis asuransi unit linked imbal hasilnya turun, Anda juga justru makin rugi jika buru-buru menutup polis asuransi. Jika polis unit linked tersebut mengenakan biaya akuisisi di awal, maka biaya akuisisi itu berarti akan hilang sia-sia kalau polis asuransi ditutup. Pasalnya, ada polis asuransi yang membebani biaya akuisisi 200% dari premi yang dibayarkan bertahap, antara dua tahun hingga lima tahun pertama.

Jika memang kinerja investasi pada unit linked buruk, Anda masih bisa memperbaiki kinerja investasi, tanpa perlu menutup polis asuransi.

Caranya dengan menukar portofolio investasi yang ada pada unit linked. Kemudian, untuk memastikan nilai tunai Anda cukup untuk membayar biaya asuransi di masa mendatang, Anda bisa melakukan top up investasi.

Jika kini menghadapi masalah keuangan dan sulit membayar premi asuransi, Anda juga bisa memanfaatkan insentif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan relaksasi untuk yang terdampak pandemi Covid-19.

Penerapan relaksasi penundaan pembayaran premi yang jatuh tempo (grace period) selama 4 bulan untuk nasabah perorangan/ritel atau nasabah korporasi, wajib dilakukan apabila perusahaan asuransi telah mengakui tagihan premi yang berusia hingga 4 bulan sebagai aset yang diperkenankan dalam perhitungan tingkat solvabilitas.

Di sisi lain, tentu saja, nasabah juga harus mempelajari ketentuan-ketentuan dalam polis mereka, termasuk mempertimbangkan apakah langkah untuk menunda pembayaran premi akan berpengaruh pada elemen-elemen investasi yang telah diperhitungkan dalam perencanaan keuangannya. Nasabah juga harus menghubungi perusahaan asuransi untuk memastikan agar perlindungan asuransi jiwa yang dimiliki tetap aktif, atau untuk mendapatkan penjelasan atau polis yang dimiliki.

Sedangkan untuk pihak asuransi tetap harus merekrut tenaga pemasar baru agar masyarakat tetap mendapatkan layanan untuk proteksi kesehatan dan finansial mereka. Apalagi, pasar Indonesia masih besar yang belum digarap.

Penetrasi atau rasio pendapatan premi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia cuma 3%, jauh di bawah negara tetangga seperti Singapura yang sudah mencapai 7%. Demikian pula dari sisi densitas atau pendapatan premi per penduduk hanya Rp 1,7 juta, dibanding Negara Kota Kepala Singa itu yang menembus Rp 64,66 juta.

Industri asuransi perlu maksimal memanfaatkan relaksasi yang diberikan OJK untuk memasarkan Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI) dengan memanfaatkan teknologi dalam penjualannya, tanpa melalui tatap muka (face to face).

Dengan pertemuan langsung antara tenaga pemasar dan calon nasabah dapat digantikan dengan penggunaan teknologi komunikasi atau secara gital, ini berarti kewajiban tanda tangan basah pun bisa digantikan dengan tanda tangan dalam bentuk digital atau elektronik.

Industri maupun OJK juga perlu meningkatkan edukasi agar masyarakat lebih mengerti asuransi. Apalagi di masa sulit ini, masyarakat juga perlu diberi pemahaman agar tidak menyimpan uang terlalu banyak, tetapi juga harus kembali diinvestasikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini, peran penasihat keuangan sangat penting untuk berbicara apa adanya bahwa return satu atau dua tahun mendatang memang akan turun, namun nasabah bisa berorientasi jangka panjang 10 tahun.

Kalau mereka membayar rutin, asuransi akan memberi manfaat besar, seiring ekonomi pulih dan kembali tumbuh ke depan. Perusahaan asuransi juga harus mengikuti arahan OJK, untuk memperbaiki dan menjaga tata kelola yang baik. Pengelolaan investasinya juga harus lebih prudent dan transparan. Untuk produk asuransi seperti saving plan yang menggaransi tingkat imbal hasil tertentu memang diizinkan OJK, namun perusahaan asuransi perlu makin berhati-hati.

Selain itu, OJK perlu melakukan pengawasan yang lebih detail dan mendalam. Agar lebih prudent, dalam masa pandemi Covid-19 dan dampaknya yang mungkin masih terasa hingga 2021, investasi asuransi juga perlu mulai mengurangi portofolio saham dan reksa dana, khususnya pada PAYDI dengan tingkat bunga bergaransi. Misalnya, mulai beralih ke instrumen seperti surat berharga negara (SBN), obligasi korporasi yang berkualitas atau berperingkat tinggi, deposito, maupun instrumen investasi yang lebih konservatif lainnya. Ini perlu disertai penjelasan yang baik sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Dengan demikian, asuransi bisa segera pulih seiring pemulihan ekonomi dan berikutnya tumbuh kencang. Penetrasi dan densitas asuransi di Indonesia yang masih rendah pun bisa didongkrak, mengingat masyarakat juga sudah belajar bahwa perlu ada proteksi untuk melindungi diri, keluarga, dan bisnisnya dari risiko buruk yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN