Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja IHSG awal sesi I Jumat pagi (29/5/2020). Sumber: BSTV

Kinerja IHSG awal sesi I Jumat pagi (29/5/2020). Sumber: BSTV

Kepercayaan Asing

Investor Daily, (totok_id)  Jumat, 29 Mei 2020 | 14:05 WIB

Ketergantungan pasar modal Indonesia terhadap eksistensi investor asing hingga kini masih tinggi. Kepemilikan asing, baik di saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun di Surat Berharga Negara (SBN) masih cukup dominan.

Di pasar saham, berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia, asing masih menggenggam sekitar 51% saham. Adapun di Surat Berharga Negara (SBN), asing yang selama ini rata-rata menguasai 38-40%, sejak wabah pandemi Covid-19 merosot tinggal 30,5%.

Dengan penguasaannya yang cukup dominan, tidak mengherankan apabila sepak terjang asing di pasar modal, baik pasar saham maupun pasar obligasi (SBN) menjadi kiblat atau acuan investor domestik. Ketika asing melakukan aksi jual, termasuk aksi jual besar-besaran selama wabah Covid-19 melanda Indonesia pada Maret-April, investor domestik pun ikut-ikutan. Mental kawanan (herd mentality) masih melanda sebagai investor lokal. Meskipun dalam beberapa kesempatan, investor domestik mampu menjadi bemper penahan kejatuhan indeks saham maupun harga SBN.

Kepanikan global akibat pandemi Covid-19 memang membuat investor asing hengkang dari pasar portofolio, terutama SBN. Sepanjang Maret, net outflow asing di SBN mencapai Rp 121 triliun. Asing yang sebelum Maret masih memiliki SBN sebesar Rp 1.048 triliun, saat ini tinggal Rp 929 triliun. Di pasar saham, asing mencatat net sell sekitar Rp 11,2 triliun sejak awal tahun (year to date).

Belakangan, seiring meredanya kepanikan global dan rendahnya indeks volatilitas global, investor asing berangsur-angsur kembali ke Indonesia. Terutama masuk lagi ke SBN. Dalam dua pekan pertama Mei, net inflow asing di SBN telah mencapai sekitar Rp 9 triliun. Bersamaan dengan itu, imbal hasil (yield) SBN pun turun di bawah level 8%.

Arus balik investor asing ke pasar portofolio Indonesia hanyalah soal waktu. Dengan selisih imbal hasil antara SBN dan obligasi AS bertenor 10 tahun sekitar 6,7%, siapa yang tidak tertarik dengan hasil investasi yang menggiurkan seperti itu. Apalagi surat berharga Indonesia bukanlah kelas ecek-ecek, mengingat Indonesia mendapat peringkat layak investasi (investment grade) dan merupakan salah satu negara emerging markets yang menjadi incaran investor global.

Demikian juga di pasar saham, sudah terbukti banyak emiten yang memiliki kinerja dan fundamental yang solid. Profitabilitas mereka cukup tinggi, terutama saham perbankan dan sektor konsumsi. Dengan kata lain, saham-saham emiten tersebut diyakini bakal memberikan hasil yang menjanjikan dalam jangka menengah-panjang.

Maka, menjadi tugas bersama, terutama otoritas fiskal, moneter, dan keuangan untuk dapat menjaga kepercayaan asing. Sejauh ini investor, baik domestik maupun asing, mengapresiasi langkah-langkah pemerintah dan otoritas terkait dalam menangani wabah Covid-19. Mereka juga mendukung berbagai program stimulus ekonomi yang didesain untuk membantu dunia usaha, sektor perbankan, serta menjaga daya beli masyarakat.

Investor asing akan selalu melihat konsistensi dan kredibilitas kebijakan pemerintah. Selain itu, mereka juga fokus pada fundamental perekonomian kita. Harus diakui, fundamental ekonomi Indonesia saat ini relatif solid. Hal itu tercermin pada beberapa parameter utama, yang pada umumnya sangat aman.

Defisit anggaran, misalnya, meski diperlebar menjadi 6,27% dari produk domestik bruto (PDB) untuk tahun ini, level ini masih tergolong aman dibanding banyak negara lain yang rasionya sangat tinggi. Rasio utang terhadap PDB juga berada di sekitar 30%, jauh lebih rendah dibanding banyak negara lain. Walaupun, secara nominal utang kita tergolong cukup besar.

Defisit transaksi berjalan yang selama ini menjadi momok utama perekonomian, belakangan terjaga di level yang rendah. Laju inflasi terkendali di sekitar 3%. Stabilitas sistem keuangan juga terjaga, terutama perbankan yang rasio-rasio tingkat kesehatannya masih bagus. Premi risiko yang naik, yakni Credit Default Swap (CDS) yang sempat memuncak pada pandemi di level 245, kini sudah menurun ke posisi 160.

Yang menjadi tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana Indonesia dapat menarik investasi langsung sebanyak-banyaknya, baik domestik maupun asing. Karena itu, perbaikan iklim bisnis menjadi prioritas mendesak, terutama penyederhanaan perizinan, perbaikan sistem perpajakan, suku bunga yang bersaing, biaya logistik yang murah, serta berbagai insentif dan unsur-unsur lain yang menjadi penentu daya saing perekonomian.

Dengan fundamental ekonomi yang solid, diperkuat dengan desain kebijakan yang konsisten dan kredibel, niscaya kepercayaan asing akan terus meningkat. Alhasil, aliran modal asing di masa mendatang bakal semakin deras, terutama ke portofolio yang menjanjikan imbal hasil atraktif. Fase berikutnya, tentu kita mendamba derasnya investasi asing langsung (FDI) ke sektor-sektor produktif di Tanah Air.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN