Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan IMF

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan IMF

Kontraksi Ekonomi

Sabtu, 20 Juni 2020 | 20:04 WIB
Investor Daily

Pandemi corona virus disease 2019 atau Covid-19 memberi dampak yang dahsyat bagi perekonomian dunia. Laju pertumbuhan ekonomi global diprediksi anjlok hingga ke level negatif tahun ini. Hal yang sama dialami oleh banyak negara termasuk Indonesia. Covid-19 bagaikan badai yang sempurna dalam memporakporandakan perekonomian nasional.

Setelah pada kuartal pertama tumbuh 2,97% atau melambat dibanding capaian kuartal pertama 2019 yang sebesar 5,07%, pemerintah memperkirakan ekonomi nasional akan tumbuh minus 3,8% pada kuartal kedua tahun ini.

Pertumbuhan negatif tersebut disebabkan oleh adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menghambat berbagai kegiatan ekonomi. Pemberlakuan PSBB di berbagai daerah memberikan tekanan sangat besar terhadap ekonomi nasional.

Seluruh sektor perekonomian nasional terdampak, terutama sektor pariwisata yang lebih awal dan paling parah. Tidak hanya ekonomi, PSBB juga memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI
Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI

Pada kuartal pertama, terjadi kontraksi dari sisi konsumsi masyarakat (demand), dari yang biasanya tumbuh di atas 5% (5,3% di kuartal pertama 2019) menjadi 2,84%. Konsumsi r umah tangga menurun drastis lantaran banyak masyarakat yang penghasilannya terdampak karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga usahanya tutup akibat pembatasan sosial.

Kemudian, investasi tumbuh 1,7%, lalu konsumsi pemerintah masih menunjang dalam bentuk belanja negara melalui anggaran yaitu tumbuh 3,74%.

Sementara dari sisi sektor usaha (supply), sektor manufaktur tumbuh 2,06% dan perdagangan 1,6%. Paling anjlok ada di sektor pertanian yakni 0,02%. Perbaikan ekonomi diharapkan akan terjadi pada kuartal ketiga dan keempat seiring dengan mulai dibukanya kegiatan bisnis di era tatanan kehidupan baru atau new normal.

Sepanjang tahun ini, pemerintah memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh di level antara -0,4% sampai 1%. Outlook proyeksi tersebut merupakan revisi batas atasnya dari 2,3% menjadi 1% karena kontraksi yang cukup dalam di kuartal kedua. Perubahan proyeksi ini juga karena ketidakpastian akibat pandemi corona yang belum juga selesai dan bahkan lebih besar.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI dari lembaga internasional, BI, dan Kemenkeu
Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI dari lembaga internasional, BI, dan Kemenkeu

Tidak hanya Indonesia, sejumlah negara juga mengalami kontraksi. Ekonomi sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat (AS) diprediksi minus 9,7%, Inggris minus 15%, Jerman minus 11%, dan Prancis yang minus 17%. Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga, kondisi ekonomi Indonesia relatif lebih baik.

Menurut proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang terbaru, ekonomi Indonesia akan tumbuh 0,5% dan menurut Bank Dunia tidak tumbuh atau 0%.

Sementara itu, OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi 2,8% hingga 3,9% dan ADB minus 1% yang tadinya tumbuh 2,5%. Untuk mengantisipasi penurunan ekonomi, pemerintah sudah merancang program pemulihan ekonomi nasional (PEN) dengan anggaran mencapai Rp 695,2 triliun. Anggaran ini menyasar sektor kesehatan, jaring pengaman sosial alias bantuan sosial (bansos), dan dukungan dunia usaha berupa insentif pajak hingga fasilitas kredit.

Melalui program PEN, pemerintah berharap ekonomi nasional pada semester II atau kuartal III dan IV tahun ini bisa kembali bangkit sehingga laju pertumbuhan ke jalur positif. Namun sayangnya, realisasi program stimulus ekonomi ini masih lamban.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat berbicara pada acara townhall meeting pegawai Kementerian Keuangan seluruh Indonesia secara virtual, Jumat (19/6).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati..

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pencairan stimulus fiskal untuk penanganan pandemi Covid-19 dan program PEN lamban karena ketidaksiapan regulasi, hambatan verifikasi dan administrasi, kurangnya sosialisasi, serta masalah infrastruktur teknologi informasi menjadi kendala.

Dari enam kelompok atau sektor penerima stimulus ekonomi, realisasi stimulus pembiayaan korporasi masih nol persen, sedangkan stimulus untuk UMKM baru terealisasi 0,06%. Hanya stimulus untuk perlindungan sosial yang realisasi pencairannya tinggi, yakni 28,6%.

Sedangkan implementasi pemberian stimulus sektor kesehatan baru 1,54%, penyerapan insentif untuk dunia usaha 6,8%, dan stimulus fiskal kepada sektoral dan pemerintah daerah baru 3,65%.

Outlook Pertumbuhan Ekonomi berbagai negara
Outlook Pertumbuhan Ekonomi berbagai negara

Kita berharap implementasi dana stimulus ekonomi tersebut bisa dipercepat agar roda perekonomian dapat berputar lebih kencang lagi di kuartal ketiga dan keempat.

Pencairan dana stimulus ekonomi akan mendorong konsumsi masyarakat yang memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu mencapai 57%.

Implementasi stimulus fiskal untuk UMKM dan korporasi akan menghidupkan kembali sektor-sektor usaha yang mati selama masa pandemi Covid-19 dan berdampak mengurangi angka pengangguran.

Kita juga berharap beberapa sektor yang tertekan dampak Covid-19 mulai terjadi pembalikan arah seiring dengan pembukaan aktivitas ekonomi, terutama pada sektor-sektor pariwisata, perdagangan, manufaktur, dan properti.

Pemulihan ekonomi harus segera dilakukan agar Indonesia terhindar dari krisis berkepanjangan. Namun demikan, pembukaan kegiatan ekonomi harus tetap mengikuti protokol kesehatan guna mencegah terjadinya gelombang kedua pandemi Covid-19.

Meski tidak lebih dalam dari tahun 1998, krisis ekonomi kali ini lebih parah dari krisis tahun 2008. Tingkat keparahan yang lebih tinggi ini lantaran kinerja seluruh sektor terdampak, tak terkecuali usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Krisis ekonomi kali ini kemungkinan tidak selesai sampai akhir tahun ini, tapi bisa terus bergeser ke tahun 2021 hingga 2022. Kemampuan kita menangani penyebaran virus corona dan percepatan pemulihan ekonomi di semester kedua tahun ini akan sangat menentukan perjalanan ekonomi Indonesia di tahun-tahun berikutnya  (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN