Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kredit Menggeliat

Minggu, 25 Juli 2021 | 04:35 WIB
Investor Daily

Beberapa waktu lalu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau debitur korporasi besar yang baki debet kreditnya terus mengecil. Sebagian dari mereka mempercepat pelunasan kredit mereka ke bank. Alasan yang diungkapkan pada debitur korporasi rata-rata hampir senada.

Kondisi bisnis mereka tengah surut seiring dengan berbagai kebijakan pembatasan mobilitas pemerintah sebagai upaya untuk meredam penularan Covid-19. Daripada harus menanggung bunga yang berpotensi menggerus laba, mereka lebih baik mengurangi posisi pinjaman.

Sebagian dari korporasi tersebut lantas mengandalkan arus kas yang dimiliki. Sebagian lagi menerbitkan obligasi mumpung suku bunga rendah. Baik OJK mau pun Bank Indonesia memang menyebut bah wa kondisi likuiditas korporasi besar umumnya tidak ada masalah, bahkan solid, sehingga belum perlu mengajukan kredit baru. Namun demikian, pada periode Juni kredit perbankan mulai menggeliat. Bank Indonesia mencatat kredit yang disalurkan perbankan pada Juni tumbuh positif, setelah sebelumnya mengalami kontraksi sejak September 2020. Posisi kredit per Juni mencapai Rp 5.572,8 triliun, tumbuh 0,4% secara tahunan (year on year/yoy).

Perbaikan kinerja kredit perbankan ditopang oleh penyaluran kredit kepada debitur korporasi maupun perorangan. Kredit kepada korporasi membaik dari -4,6% (yoy) menjadi -2,5% (yoy) pada Juni 2021 menjadi Rp 2.732,5 triliun.

Sementara itu, kredit kepada debitur perorangan tumbuh sebesar 4,3% (yoy) menjadi Rp 2.658,5 triliun.

Dari analisis uang beredar, berdasarkan jenis penggunaannya, peningkatan penyaluran kredit pada Juni dipengaruhi oleh meningkatnya penyaluran kredit modal kerja (KMK), kredit konsumsi, serta perbaikan kredit investasi. Kredit modal kerja tumbuh positif dari -1,9% (yoy) pada Mei menjadi 0,1% (yoy) pada Juni, terutama di sektor industri pengola han dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR). KMK industri pengolahan juga membaik, terutama terjadi pada industri pemintalan, pertenunan, serta pengolahan akhir tekstil di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedangkan KMK sektor perdagangan, hotel, dan restoran tumbuh 2,1% (yoy).

Data BI juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan kredit konsumsi membaik jadi 1,9% (yoy) per Juni. Hal itu didorong oleh peningkatan penyaluran kredit pemili kan rumah (KPR) yang menjadi penggerak utama dan adanya perbaikan kredit ken daraan bermotor (KKB). KPR tumbuh cukup tinggi, hingga 7,2% (yoy) sedangkan kredit konstruksi meningkat 5,3%.

Menggeliatnya kredit pada akhir semester pertama itu jelas menumbuhkan optimisme. Terlebih lagi indeks manufaktur, Purchasing Manager’s Index yang semula terus meningkat sempat tertahan karena pembatasan mobilitas. Berbagai upaya terus ditempuh pemerintah, OJK, dan BI agar permintaan kredit bisa meningkat.

Pertumbuhan positif pada sejumlah sektor penting, terutama penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, memberikan peluang kembali bagi pekerja yang sempat dirumahkan atau di-PHK.

Selain itu, kenaikan kredit di sektor hotel dan restoran sangat melegakan, karena dua sektor tersebut termasuk yang paling terpukul oleh kebijakan pembatasan mobilitas, di samping transportasi dan pariwisata.

Boleh jadi pertumbuhan kredit akan tertahan sementara selama periode Juli. Hal ini terjadi seiring dengan penetapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat dari 3 Juli hingga 20 Juli, yang kemudian diperpanjang hingga 25 Juli. Namun kita optimistis, setelah PPKM itu dilonggarkan bertahap mulai akhir Juli, kegiatan ekonomi akan mulai bergairah.

Pemerintah memang berada dalam posisi dilematis antara pengendalian Covid dan upaya untuk menggerakkan ekonomi. Itulah sebabnya, pelonggaran PPKM bertahap setelah 25 Juli hendaknya didukung oleh seluruh pemangku kepentingan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kita berharap mulai Agustus kredit perbankan kembali tumbuh. Optimisme tersebut juga terefleksikan pada survei terbaru Bank Indonesia, bahwa Saldo Bersih Tertimbang (SBT) prakiraan penyaluran kredit baru pada kuartal III mencapai 87,1%, lebih tinggi dibandingkan 53,9% pada kuartal II-2021.

Peningkatan tersebut akan didorong oleh kredit modal kerja, diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi. Survei itu juga menunjukkan bahwa standar penyaluran kredit pada kuartal III tidak akan seketat periode sebelumnya. Baik itu menyangkut plafon kredit, jangka waktu kredit, perjanjian kredit, maupun agunan.

Alangkah idealnya jika pertumbuhan kredit tersebut dibarengi de ngan penurunkan suku bunga kredit yang cukup signifi kan. BI maupun OJK selama ini menyerukan agar perbankan lebih agresif menurunkan suku bu nga kredit. Sejauh ini, penurunan suku bunga lebih banyak dilakukan oleh bank-bank pemerintah (Himbara) ketimbang bank swasta. Memang, pada Juni 2021, rata-rata tertimbang suku bunga simpanan berjangka mengalami penurunan pada seluruh jenis tenor. Tenor satu bulan menurun dari 3,57% menjadi 3,49%, sedangkan tenor tiga bulan turun dari 3,75% menjadi 3,64%.

Sayangnya, penurunan suku bunga kredit berjalan lamban. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Juni tercatat hanya turun satu basis poin (bps) pada Juni menjadi 9,49%, dibandingkan Mei sebesar 9,50%.

Di pasar kredit, penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) juga cenderung terbatas. Dalam satu tahun hanya turun sebesar 169 bps pada periode Mei 2020 hingga Mei 2021. Kita berharap penurunkan suku bunga kredit terus berlanjut, diiringi kenaikan permintaan kredit. Selain korporasi, debitur usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terus didorong pemerintah diharapkan tumbuh lebih agresif lagi.

Tentu saja, penggelontoran kredit dilakukan dalam koridor kehati-hatian tinggi, meski OJK memberikan relaksasi terhadap standar prudensial penyaluran kredit. Paralel dengan itu, bank-bank seyogianya tetap menjaga agar rasio kredit bermasalahnya (NPL) dalam batas yang aman.

Bagaimanapun, potensi ledakan NPL tetap membayangi, tercermin pada kenaikan sig nifikan pemupukan cadangan yang ditempuh oleh bank.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN