Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melakukan transaksi melalui aplikasi Mandiri Syariah Mobile di Jakarta, Senin (19/10/2020). Foto ilustrasi:  SP/Ruht Semiono

Karyawan melakukan transaksi melalui aplikasi Mandiri Syariah Mobile di Jakarta, Senin (19/10/2020). Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Manfaatkan Peluang Ekonomi Syariah

Rabu, 21 Oktober 2020 | 22:38 WIB
Investor Daily

Di tengah krisis pandemi Covid-19 yang memukul hampir semua sektor sejak Maret lalu, justru bisnis keuangan syariah di Indonesia menunjukkan keperkasaannya. Kokoh, tumbuh pesat di berbagai sektor.

Meski ekonomi nasional terkontraksi 5,32% year on year triwulan II- 2020 atau akumulatif semester I minus 1,26%, industri keuangan syariah justru merekah. Asetnya melambung 29,2% hingga Juli tahun ini, bahkan jauh lebih tinggi dibanding sebelum pandemi Covid-19 yang tercatat tumbuh 13,84% sepanjang tahun lalu.

Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian Keuangan mencatat, aset industri keuangan syariah menembus Rp 1.639,06 triliun per Juli lalu. Ini terdiri atas aset sektor perbankan syariah Rp 542,82 triliun, industri keuangan non-bank (IKNB) syariah Rp 110,29 triliun, dan pasar modal syariah Rp 985,95 triliun.

Hal ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena potensi ekonomi syariah kita memang luar biasa besar. Di sisi lain, potensi ini juga belum banyak digarap, sehingga sekarang masih tertinggal dengan negara tetangga di Asean yang ekonominya lebih kecil, seperti Malaysia.

Aset keuangan syariah negeri jiran itu sudah menembus US$ 541 miliar atau terbesar ketiga di dunia tahun 2018, setelah Iran dan Arab Saudi. Berikutnya adalah Uni Emirat Arab, Kuwait, dan barulah Indonesia di posisi keenam, dengan aset US$ 86 miliar.

Namun demikian, Indonesia yang merupakan satu-satunya Negara Asean yang masuk G20 (20 negara dengan produk domestic bruto terbesar di dunia), ibaratnya sedang mengisi kolam renang, yang meski sekarang baru sedikit namun dengan berjalannya waktu akan menjadi luar biasa besar, bisa untuk berenang banyak orang. Sedangkan Malaysia mengisi akuarium yang terlihat lebih cepat penuh, namun hanya untuk berenang ikan koi.

Di antara negara G20 yang mayoritas penduduknya Islam – Arab Saudi, Turki, dan Indonesia – juga hanya Indonesia yang diprediksi di masa mendatang berpotensi berkembang menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Artinya, potensi syariah di Indonesia luar biasa besar untuk terus dikembangkan.

Untuk mendorong pengembangan keuangan syariah di Tanah Air, kita harus mengambil kesempatan baik saat ini. Ketika bank, asuransi, dan sektor keuangan konvensional lain semua lagi susah, justru ada kesempatan buat syariah lewat sejumlah langkah penting. Yang per tama, memacu literasi keuangan syariah lewat program pemerintah keuangan inklusif (KI).

Ada empat program kerja utama KI, yakni peningkatan literasi keuangan dan perlindungan konsumen; peningkatan rekening dan penggunaan produk keuangan formal; optimalisasi agen bank dan titik layanan nonbank; serta peningkatan layanan keuangan digital dan transaksi nontunai.

Banyaknya BPD yang konversi dan spin off unit syariah juga menjadi tambahan bagi asuransi syariah misalnya, untuk bisa diintegrasikan ke program literasi dan perluasan pemasaran ke seluruh Indonesia. Apalagi kondisi pandemi memudahkan digitalisasi yang kini menjadi kebutuhan masyarakat.

Kedua, pada program yang diwajibkan negara harus ditawarkan produk syariah dan konvensional ber barengan, misalnya dalam penyelenggaraan jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan dan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Beberapa program pemerintah yang kini mulai mengikutsertakan asuransi misalnya, juga harus disertai syariahnya. Ini seperti asuransi barang milik negara (ABMN) yang belum ada syariah, serta asuransi pertanian dan peternakan.

Ketiga, bank maupun layanan keuangan syariah yang lain juga harus mempercepat pemanfaatan era digital. Di tengah pandemi pun sudah terbukti, bank konvensional besar pun harus masuk ke digitalisasi agar layanannya dapat meningkatkan kepuasan dan sesuai kebutuhan nasabah di era new normal. Cara ini bisa ditiru untuk menambah jumlah nasabah syariah baru, termasuk memanfaatkan digital marketplace yang mempunyai ratusan juta pengguna.

Keempat, melakukan merger agar bisa bersaing di pasar nasional, regional, maupun global. Di Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNKS) sudah ada inisiatif world class takaful yang skala internasional, di mana diharapkan setelah merger 3 bank BUMN syariah sekarang, selanjutnya dibentuk world class asuransi syariah.

Kelima, dengan memanfaatkan undang-undang yang sudah ada. Misalnya pasal 87 Undang-Undang No. 40 Ta hun 2014 tentang Perasuransian Yang  mengama natkan pemisahan unit syariah asuransi atau unit syariah asuransi sudah harus berdiri sendiri pada 17 Oktober 2024. Swasta sebagai pemain utama asuransi konvensional sudah sangat agresif terkait penyiapan spin off, yang cukup menggenjot ekonomi syariah.

Keenam, literasi pasar modal syariah pun harus digenjot. Tanpa edukasi, calon investor tidak akan bergerak dari deposito, atau dari deposan menjadi investor. Fungsi edukasi ini mengenalkan cara berinvestasi dan mengenali risiko yang dihadapi. Risk return profile diajarkan dengan baik, misalnya apakah sanggup mendapat hingga return 14% tapi volatilitas 20%.

Di sisi lain, dengan terjadinya pandemic justru menjadi opportunity, literasi bisa dipacu secara online yang menjangkau investor lebih banyak.

Ketujuh, memanfaatkan media sosial. Di platform ini bisa dilakukan dengan memberikan edukasi kepada calon investor maupun investor agar paham kebutuhan mereka di masa depan dan apa fungsi investasinya secara tepat.

Jadi, kini saatnya kita harus mengambil kesempatan bagus untuk mengintegrasikan ekonomi syariah ke konvensional di semua lini. Ekonomi dan keuangan syariah harus ditempatkan sebagai pilihan yang rasional bagi masyarakat. Ekonomi syariah bukan merupakan hal yang eksklusif tapi bersifat universal, sesuai ajaran agama Islam rahmatan lil ‘alamin, kemaslahatan untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN