Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penduduk Indonesia

Penduduk Indonesia

Menikmati Bonus Demografi

Jumat, 22 Januari 2021 | 07:00 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Bangsa Indonesia sedang di persimpangan. Di satu sisi, negeri ini sedang memasuki bonus demografi, bonus berupa potensi pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat perubahan struktur usia penduduk. Dalam struktur populasi yang baru itu, proporsi usia kerja (15-65 tahun) lebih besar dari bukan usia kerja (0-14 tahun dan di atas 65 tahun).

Di sisi lain, Indonesia sedang masuk transisi menuju ageing population (penuaan populasi), yaitu era ketika persentase penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai lebih dari 10%. Populasi yang menua merupakan konsekuensi meningkatnya usia harapan hidup sebagai dampak positif pembangunan yang mampu menaikkan kualitas hidup masyarakat.

Bangsa Indonesia akan berlimpah berkah jika mampu mengelola dan memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan berlangsung hingga 2040-2050. Penduduk usia produktif bakal menggerakkan roda ekonomi secara lebih masif dan akseleratif. Ibarat mesin, mereka adalah mesin baru yang memiliki tenaga, daya dorong, daya putar, dan daya dongkrak lebih kuat.

Jika ekonomi tumbuh pesat, kesejahteraan rakyat bakal meningkat. Angka pengangguran dan kemiskinan berkurang signifikan. Indonesia bisa menjadi negara maju. Setelah sejahtera, rakyat Indonesia tak perlu khawatir saat memasuki era penuaan populasi. Mereka bisa menikmati hari tua dalam kondisi berkecukupan.

Sebaliknya, jika gagal memanfatkan bonus demografi, bangsa Indonesia bakal ditimpa malapetaka. Penduduk usia produktif akan menjadi beban pembangunan. Mereka bisa menjadi bencana demografi. Ekonomi akan tiarap. Angka pengangguran dan kemiskinan melonjak. Bayangkan, apa yang terjadi jika sebagian besar populasi berusia muda tidak punya pekerjaan, tidak memiliki penghasilan yang cukup, serta tidak punya pendidikan dan keahlian yang memadai?

Jika tidak diantisipasi, bonus demografi akan menjerumuskan Indonesia dalam perangkap negara berpendapatan menengah (middle income trap). Apalagi persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) terus meningkat sejak 1971. Pada 1971, proporsi penduduk usia produktif mencapai 53,39% dari total populasi. Angka itu melonjak menjadi 70,72% pada 2020.

Bonus demografi dan penuaan populasi tergambar jelas dalam hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 (SP2020) yang baru diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS). Penduduk Indonesia per September 2020 mencapai 270,20 juta jiwa. Generasi Z (Gen Z) mendominasi dengan jumlah 74,93 juta (27,94%), disusul generasi Milenial 69,38 juta (25,87%), Post Generasi X (Post Gen X) 58,65 juta (21,88%), Baby Boomer 31,01 juta (11,56%), Post Gen Z 29,17 juta (10,88%), dan pre-boomer 5,03 juta (1,87%).

Gen Z adalah generasi yang lahir pada 1997-2012 (sekarang berusia 8-23 tahun), sedangkan Milenial yaitu generasi yang lahir pada 1981-1996 (24-39 tahun). Selanjutnya Gen X adalah generasi yang lahir pada 1965-1980 (40-55 tahun). Kemudian Baby Boomer, yaitu generasi yang kini berusia 56-74 tahun (lahir 1946-1964). Terakhir, Pre-Boomer, adalah generasi yang lahir sebelum 1945 (75 tahun ke atas).

Dari sisi demografi, seluruh Generasi X dan Milenial merupakan penduduk yang berada dalam kelompok usia produktif (pada 2020). Sedangkan Generasi Z terdiri atas penduduk usia belum produktif dan produktif. Sekitar tujuh tahun lagi, seluruh Generasi Z berada pada kelompok penduduk usia produktif. Generasi Milenial dan Generasi Z itulah yang bakal menjadi aktor pembangunan nasional. Masa depan Indonesia ada di tangan mereka.

Bonus demografi hanya bisa dinikmati bangsa ini jika Generasi Z dipersiapkan secara matang dari sekarang. Bonus demografi hanya akan mendatangkan berkah bila Generasi Milenial diberi tambahan keahlian. Mereka harus benar-benar dipersiapkan menjadi generasi unggul, berdaya saing, inovatif, dan responsif terhadap kemajuan teknologi.

Pendidikan merupakan salah satu prasyarat utama bagi Generasi Z dan Generasi Milenial untuk bersaing. Karena itu, pemerintah harus banyak berbenah di bidang pendidikan, terutama untuk menciptakan koneksi yang kuat antara lembaga pendidikan dan lapangan kerja. Lembaga pendidikan harus mampu mencetak SDM unggul yang siap bersaing di segala medan. Generasi Z harus ditempa agar memiliki daya inovasi jempolan. Generasi Milenial harus digembleng agar punya kreativitas andal.

Kita justru prihatin saat menyaksikan fenomena yang melanda Generasi Milenial saat ini. Mereka banyak terjun dan gandrung pada konten-konten media sosial (medsos) yang sebagian tidak sesuai dengan norma-norma sosial dan kehidupan berbangsa. Generasi muda harus responsif terhadap kemajuan teknologi, namun mereka tidak boleh tercerabut dari akarnya sebagai anak bangsa.

Kita perlu terus mengingatkan bahwa bangsa Indonesia hanya akan menikmati bonus demografi jika di kalangan Generasi Z dan Milenial ditanamkan nilai-nilai pendidikan holistik. Dengan begitu, mereka tidak semata memiliki kemampuan akademik, tapi juga punya moralitas dan integritas tinggi. Nilai-nilai itulah yang akan membentuk mereka menjadi generasi emas Indonesia.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN