Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Menunggu IPO Unicorn dan Decacorn

Senin, 10 Mei 2021 | 12:45 WIB
Investor Daily

Tidak lama lagi, peringkat korporasi terbesar di Indonesia akan mengikuti jejak AS, negara adidaya yang hinggakini masih menjadi kiblat kemajuan sektor keuangan dan teknologi. Jika top tenberdasarkan market capitalization (market cap) atau kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama ini masih didominasi saham perbankan, dalam tiga-lima tahun ke depan, perusahaan teknologi akan merajai.

Sejumlah perusahaan teknologi yang disebut unicorn dan decacorn yang akan go public dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mematahkan dominasi perbankan.

Sejumlah unicorn dan decacorn Indonesia sudah menjajaki proses initial public offering (IPO) untuk memperdagangkan saham mereka di BEI, bahkan juga di Nasdaq. Pihak manajemen PT BEI mengakui ada tiga perusahaan unicorn atau decacorn yang telah menyerahkan dokumennya sebagai langkah mempersiapkan IPO.

Diharapkan, pada semester kedua 2021, minimal dua unicorn dan decacorn sudah melakukan penawaran umum di Indonesia dan awal tahun 2022 mulai diperdagangkan di BEI.

Selama ini, unicorn dimaknai sebagai perusahaan teknologi yang tidak lagi masuk kategori startup, melainkan sudah cukup matang dan meraih valuasi di atas US$ 1 miliar atau Rp 14,3 triliun pada kurs Rp 14.300 per dolar AS. Di antara sejumlah unicorn itu, ada yang bahkan sudah menjadi decacorn, yakni perusahaan teknologi dengan valuasi di atas US$ 10 miliar atau Rp 143 triliun.

Valuasi Gojek dan Tokopedia, ma singmasing, diperkirakan sudah di atas US$ 15 miliar. Jika merger kedua decacorn ini terwujud, valuasi akan menembus US$ 35 miliar atau Rp 500,5 triliun dan langsung menempati peringkat ketiga emiten di BEI setelah PT BCA Tbk dan PT BRI Tbk.

Dalam beberapa tahun ke depan, valuasi salah satu decacorn bisa jadi menempati peringkat teratas emiten dengan market cap terbesar di BEI. Perusahaan teknologi lainnya yang berencana IPO adalah Bukalapak dan Traveloka.

Saat ini, valuasi kedua perusahaan masing- masing US$ 5 miliar. Bila merger terwujud, decacorn baru akan lahir dan menambah khazanah korporasi Indonesia yang bergerak di bidang teknologi. Belum ada informasi yang cukup untuk mengetahui rencana IPO OVO dan Grab. Namun, yang pasti, banyak perusahaan, dalam dan luar negeri, yang mengincar unicorn dan decacorn di Indonesia.

Para pelaku pasar mengharapkan rencana IPO unicorn dan decacorn segera menjadi kenyataan, pada semester tahun ini atau selambatnya awal tahun 2022. Masuknya emiten berbasis teknologi akan membuat bursa domestik lebih atraktif. Investor lokal akan mendapatkan alternatif instrument investasi dan berkesempatan untuk menikmati return perusahaan teknologi.

Kehadiran unicorn dan decacorn akan menarik minat investor asing dan BEI akan lebih kompetitif di antara bursa emerging market dan kawasan Asean. Perusashaan start-up akan berlomba untuk menjadi unicorn dan decacorn.

Dengan masuknya unicorn dan decacorn, nilai kapitalisasi pasar di BEI yang saat ini baru Rp 7.000 triliun atau US$ 490 miliar akan melonjak menembus Rp 15.000 triliun atau US$ 1 triliun. Level ini pun masih jauh dibanding market cap di New Stock Exchange (NYSE) yang sudah mencapai US$ 25,6 triliun dan market cap Nasdaq yang sudah di atas US$ 19,5 triliun. Dalam waktu yang tidak lama lagi, tigalima tahun ke depan, top ten emiten di BEI berdasarkan market cap akan didominasi perusahaan teknologi.

Pada perdagangan saham di BEI, Jumat (7/5/2021), top ten di BEI berdasarkan market cap adalah PT BCA Tbk paling atas dengan market cap Rp 784 triliun, disusul PT BRI Tbk Rp 501,8 triliun, PT Telkom Tbk Rp 316 triliun, PT Bank Mandiri Tbk Rp 280,6 triliun, PT Astra International Tbk Rp 219,6 triliun, PT PT Unilever Tbk Rp 211,7 triliun, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk Rp 168,9 triliun, PT HM Sampoerna Tbk Rp 151,2 triliun, PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Tbk Rp 138,9 triliun, dan PT Bank Jago Tbk Rp 138,8 triliun.

Sudah ada dua perusahaan teknologi yang masuk top ten di BEI berdasarkan market cap pekan lalu, yakni Emtek dan Bank Jago. Meski bisnis intinya adalah perbankan, Bank Jago adalah bank digital, yakni bank yang 100% melayani nasabah secara digital. Kegiatan operasional sebagai bank digital tinggal menunggu legalitas dari OtoritasJasa Keuangan (OJK) yang kini sedang menyusun peraturan bank digital. Sedang top ten diNYSE didominasi perusahaan teknologi.

Pada akhir kuartal pertama 2021, emiten dengan market cap terbesar di NYSE adalahApple Inc US$ 2 triliun, disusul MicrosoftUS$ 1,8 triliun, Amazon.com US$ 1,6 triliun, Alpahabet (perusahaan internet) US$ 1,4 triliun, Facebook US$ 838,7 miliar, Tancent (perusahaan teknologi dari RRT) US$ 766,9 miliar, Tesla US$ 641 miliar, Alibaba US$ 615 mi liar, TSCM (perusahaan semikonduktor dari Taiwan) US$ 613 miliar, dan Berkshire Hathaway, perusahaan investasi US$ 590 miliar.

Hanya ada satu perusahaan investasi yang masuk top ten di NYSE, lainnya adalah perusahaan teknologi. Unicorn dan decacorn Indonesia berencana dualisting, di BEI dan Nasfdaq. Go-To, nama yang bakal disematkan pada perusahaan teknologi hasil merger Gojek dan Tokopedia, akan dualisting.

Saat ini, pemilik dan manajemen kedua perusahaan sedang mempertimbangkan: IPO terlebih dahulu atau merger yang menjadi prioritas. Kemungkinan besar merger dilakukan setelah Tokopedia IPO dengan target dana masyatakat US$ 18 miliar atau Rp 257 triliun. Morgan Stanley dan Citi akan bertindak sebagai penasihat IPO.

Proses IPO akan memanfaatkan sejumlah perusahaan cek kosong (blank check company) atau special purpose acquisition company (SPAC) yang tercatat di Bursa Nasdaq (AS). Perusahaan teknologi ini dikabarkan berminat mengakuisisi atau menggabungkan sejumlah unicorn dan decacorn di Indonesia, termasuk Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Cara ini dimaksudkan untuk memuluskan langkah unicorn dan decacorn Indonesia menuju Wall Street.

Untuk mengakomodasi unicorn dan decacorn Indonesia, manajemen PT BEI perlu segera merevisi peraturan pencatatan bagi perusahaan new economy, yakni perusashaan berbasis teknologi.

Peraturan pencatatan bagi old economy atau perusahaan konvensional berbeda dengan perusahaan teknologi, yang antara lain lebih mengandalkan valuasi dan prospek, bukan angka penjualan dan laba bersih yang sudah dibukukan periode sebelumnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN