Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
5 langkah preventif yang harus dilakukan dunia usaha, harga minyak bumi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.

5 langkah preventif yang harus dilakukan dunia usaha, harga minyak bumi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Merespons Cerdas Isu Resesi

Investor Daily, Senin, 7 Oktober 2019 | 12:03 WIB

Sekecil apa pun, bahaya yang akan menimpa harus diantisipasi. Resesi ekonomi dunia bukan lagi sekadar isu. Sejumlah negara sudah mengalaminya. Laju pertumbuhan ekonomi dunia sudah beberapa kali direvisi turun. Seperti cuaca, jika seluruh dunia mendung dan hujan, Indonesia akan terkena.

Resesi ekonomi yang tengah menggulung dunia perlu diantisipasi dengan cerdas meski tahun ini atau tahun keenam, ekonomi Indonesia tumbuh 5%. Pengerutan ekonomi datang begitu cepat. Kenaikan maupun penurunan laju pertumbuhan ekonomi tidak selamanya seperti anak tangga. Naik atau turun satu persen dan seterusnya.

Pada tahun 1998, ekonomi Indonesia yang tahun sebelumnya positif langsung minus 13,1%. Pada tahun 1999, pertumbuhan ekonomi bisa kembali positif. Ketika semua sumber pertumbuhan ekonomi melemah dan tidak ada kebijakan yang jitu untuk mendongkrak pertumbuhan, laju pertumbuhan ekonomi akan merosot.

Dana Moneter Internasional (The International Monetary Fund/IMF) sudah beberapa kali memangkas lalu pertumbuhan ekonomi global, mulai dari 3,7% hingga 3,2%. Terakhir, lembaga ini memperkirakan ekonomi global tahun ini hanya bisa tumbuh 3%. Laju pertumbuhan ekonomi AS dan RRT, dua mesin pertumbuhan ekonomi dunia, di bawah ekspektasi awal tahun. Di Eropa, Jerman yang selama ini menjadi lokomotif, menunjukkan tanda-tanda resesi.

Pertumbuhan ekonomi RI, pertumbuhan ekonomi AS, dan perkembangan suku bunga BI dan the Fed.
Pertumbuhan ekonomi RI, pertumbuhan ekonomi AS, dan perkembangan suku bunga BI dan the Fed.

Dalam dua pekan ke depan, kita tak bisa mengharapkan banyak dari kabinet yang praktis dalam posisi demisioner. Namun, untuk kabinet baru, jumlah langkah berikut perlu menjadi pertimbangan untuk mencegah ekonomi Indonesia dari resesi. Sebaliknya, dengan kebijakan yang tepat, Indonesia mampu bertumbuh lebih cepat hingga di atas 7%.

Pertama, all out menarik minat investasi asing mampu lokal dengan memudahkan perizinan. Program pelayanan satu pintu diterapkan dengan benar, cepat, dan tanpa ada biaya siluman. Tidak ada biaya tambahan yang mengada-ada untuk memperkaya dari pegawai dan pejabat.

Kedua, meski realisasi penerimaan pajak selama ini di bawah target, pemerintah tak perlu ragu memberikan insentif pajak pada korporasi. Penurunan tarif PPh badan memberikan kemampuan pada korporasi untuk melakukan ekspansi.

Untuk investasi baru, pemerintah perlu memberikan pembebasan PPh beberapa tahun. Bea impor bahan baku dan komponen untuk pabrik baru yang dibangun di kawasan industri diberikan pembebasan selama beberapa tahun.

Insentif pajak juga diberikan kepada perusahaan menengah dan kecil. Kesan menguber-uber dan menakut-nakuti perusahaan menengah dan kecil harus dihapus.

Jumlah usaha kecil dan menengah di Indonesia sekitar lima juta dan usaha kecil belasan juta. Ketiga, dalam kondisi ekonomi yang terancam resesi, pengawasan terhadap korporasi dan lembaga keuangan perlu lebih ketat. Kredit perbankan tetap harus terukur walau Bank Indonesia memberikan kelonggaran lewat penurunan suku bunga.

Selain kredit, pinjaman baru, terutama dalam dolar AS, perlu lebih berhati-hati. Risiko gagal bayar acap mengintai perusahaan dengan utang luar negeri besar.

5 Langkah Preventif yang perlu dilakukan pemerintah cegah resesi
5 Langkah Preventif yang perlu dilakukan pemerintah cegah resesi

Keempat, memberikan stimulus kepada masyarakat bawah lewat penaikan pendapatan tidak kena pajak (PTKP). Dengan kebijakan ini, daya beli masyarakat bisa ditingkatkan. Dalam konteks ini, pemerintah perlu menunda penaikan iuran BPJS Kesehatan

Kelima, untuk menutup defisit neraca perdagangan, impor harus dikurangi dengan meningkatkan pembelian produk lokal. Penggunaan produk lokal harus menjadi prioritas BUMN maupun swasta. Masyarakat pun diimbau mengonsumsi produk lokal.

Sedangkan dunia usaha diimbau lebih pruden. Tidak jorjoran melakukan ekspansi. Pengelolaan perusahaan harus lebih memperhatikan penerapan good corporate governance (GCG). Pastikan bahwa setiap pinjaman dalam valas sudah dilakukan hedging.

Dalam situasi dunia yang tidak menentu dan cenderung bergerak ke resesi, para penyelenggara harus memiliki sense of crisis. Kebijakan pemerintah dan produk hukum yang sesuai sangat mendukung kemajuan dunia usaha. UU yang bagus dan kebijakan pemerintah yang tepat tak sekadar mencegah Indonesia dari resesi, melainkan mampu mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA