Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presentasi Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, dalam diskusi Zoom with Primus bertajuk

Presentasi Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, dalam diskusi Zoom with Primus bertajuk "Fenomena Milenial Investasi Saham" live di Beritasatu TV, Kamis (4/2/2021). Sumber: BSTV

Milenial Motor Bursa

Jumat, 5 Februari 2021 | 07:07 WIB
Investor Daily

investor.id


 

Tak perlu menunggu tua untuk menjadi kaya, bukan lagi sekadar candaan antarkawula muda. Kaum milenial dan kini di bawahnya, gen Z yang masih SMA atau habis kuliah, ramai-ramai masuk bursa saham untuk mengapai cita-cita cepat kaya. Tak heran, kelompok ini menjadi motor pertumbuhan investor Bursa Efek Indonesia yang menembus rekor tertinggi, sepanjang sejarah.

BEI mencatat, penambahan investor baru pasar modal tahun lalu menembus 1,4 juta SID, melonjak 61% dibandingkan akhir 2019. Jumlah investor meningkat menjadi 3,88 juta di akhir 2020, dengan sebanyak 1,7 juta SID saham. Total investor pun masih terus melaju, melampaui 4,1 juta SID per 4 Februari 2021.

Jika dibedah, sebanyak 72,9% merupakan investor muda di bawah 40 tahun, atau kaum milenial dan gen Z. Datangnya 'darah segar' ini menjadi penopang ketahanan pasar modal kita pada 2020, di luar ekspektasi para pelaku pasar yang semula dibayangi-bayangi kekhawatiran tekanan krisis pandemi Covid-19 akan berkepanjangan.

BEI menjadi saksi utama pertumbuhan investor ritel yang sangat luar biasa dari kelompok dengan energi dan semangat besar tersebut. Investor ritel ini menjadi kekuatan utama yang membuat indeks harga saham cepat kembali ke level psikologis 6.000, meski pada Maret lalu sempat merosot dalam di bawah 4.000, akibat shock pecahnya pandemi virus baru yang merebak pertama kali di Wuhan itu.

Jadi, animo besar kaum muda berinvestasi tentu saja bagus, patut disyukuri. Jika semula kaum milenial atau sekitar umur 25-40 tahun yang ramai-ramai masuk bursa saham, kini bahkan lebih muda yakni generasi Z atau usia 18-25 tahun.

Hal ini tak lepas dari maraknya tren gaya hidup dan ajakan berinvestasi dari para influencer di media sosial, yang menjadi keseharian follower jutaan bahkan puluhan juta kaum muda. Berbagai komunitas investor muda pun bermunculan, baik yang berdiri sendiri maupun yang berafiliasi dengan perusahaan sekuritas dan institusi lain.

Di lain pihak, para pelaku pasar modal juga mau tak mau semakin intensif masuk platform digital, setelah merebaknya pandemi membuat kontak fisik harus dibatasi dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kini Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Platform digital ini adalah dunia keseharian kaum milenial dan gen Z, sehingga tren baru investasi saham pun meluas dan cepat menular di kalangan muda.

Alhasil, kini investor domestik ritel mendominasi bursa kita, menggeser asing yang cepat kabur dari bursa Indonesia begitu ada krisis atau gejolak global. Dominasi kepemilikan investor domestik sekarang sekitar 50,9% dan trennya terus naik.

Fenomena investor milenial dengan kekuatan komunitas yang besar ini juga telah menciptakan sejarah spektakular di bursa Wall Street, Amerika Serikat. Dominasi hedge fund yang sering semena-mena berhasil dilawan gerakan masif investor ritel yang tergabung dalam grup online WallStreetBets di Reddit, yang berhasil menerbangkan kembali harga saham GameStop yang di-bully oleh bandar dengan posisi jual kosong (short sell).

GameStop ini sebenarnya memang sunset industry, sehingga banyak hedge fund, termasuk yang raksasa, melakukan short sell, atau transaksi dengan penjualan saham tanpa memiliki sahamnya terlebih dahulu. Ini dengan harapan si bandar kemudian dapat membeli saham di harga murah ketika harga sahamnya ambruk lebih dalam untuk diserahkan ke pembeli, sehingga meraup untung besar tanpa keluar modal.

Alhasil, saham perusahaan ritel video game tersebut melonjak hingga 1.625% bulan lalu dan bandar rugi Rp 339 triliun. Fenomena semacam ini menjalar ke berbagai negara, dan bukan tidak mungkin terjadi di Indonesia.

Hal ini pun bisa berdampak positif, asal aksi kaum milenial dilandasi pengetahuan dan pemahaman yang benar terhadap prospek saham-saham yang diincar. Fundamental saham yang digerakkan memang saham yang benar, yang berkinerja baik secara bottom line dan cukup likuid perdagangan sahamnya. Jangan sampai bisa membeli tapi nggak bisa keluar, alias nyangkut.

Itulah sebabnya, para kawula muda yang masih sering emosional dan belum berpengalaman ini harus segera dibekali dengan informasi, pemahaman, dan skill yang memadai untuk berinvestasi saham yang benar. Jangan sampai pasar modal kita justru menjadi ladang pembantaian (killing field) milenial dan gen Z yang menjadi masa depan bursa kita.

Kaum muda ini harus dimampukan untuk memilih saham yang benar, walau mungkin di awalnya bisa salah menempatkan harga. Dengan demikian, seiring bertambahnya pengalaman dan keahlian, maka mereka pun bisa berinvestasi dengan benar dan menguntungkan, sekaligus menjadi penyeimbang kekuatan bandar yang sewenang-wenang. Mereka akan menjadi motor penggerak pengembangan bursa saham kita, yang lebih teratur, fair, dan berprospek gemilang.

 

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN