Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa Dana

Reksa Dana

NAB Reksa Dana

Investor Daily, Sabtu, 5 Oktober 2019 | 13:05 WIB

Nilai aktiva bersih (NAB) industri reksa dana menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Kondisi ini tak lepas dari makin dikenalnya instrumen investasi pasar modal ini di masyarakat. Implementasi teknologi digital dalam strategi pemasaran produk reksa dana oleh manajer investasi (MI) turut memberi andil peningkatan NAB reksa dana.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga September 2019 total NAB industri reksa dana mencapai Rp 548,90 triliun, naik 8,61% dibanding akhir Desember 2018 sebesar Rp 505,38 triliun. Hingga akhir 2019, nilai NAB reksa dana diperkirakan bisa bertumbuh 10% menjadi Rp 555 triliun.

Dalam 20 tahun terakhir, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana sudah bertambah Rp 543,76 triliun, dari hanya Rp 5,14 triliun pada 1999.

Kelolaan NAB Reksa Dana 1999-2019
Kelolaan NAB Reksa Dana 1999-2019

Penyumbang utama AUM berasal dari reksa dana terproteksi dengan total dana kelolaan sebesar Rp 153,91 triliun, atau naik 7,43% dibanding posisi Desember 2018 sebesar Rp 143,27 triliun.

Urutan kedua adalah reksa dana saham dengan kontribusi senilai Rp 146,82 triliun, turun -4,52% dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 153,77 triliun. Di urutan ketiga adalah NAB reksa dana pendapatan tetap (fixed income) sebesar Rp 117,57 triliun, tumbuh 9,79% dibanding per akhir Desember 2018 sebesar Rp 107,9 triliun.

Kemudian, reksa dana pasar uang tercatat sebesar Rp 70,43 triliun, naik 54,55% dibanding Desember 2018 Rp 45,57 triliun. Sementara reksa dana campuran Rp 30,59 triliun, naik 7,48% dibanding akhir Desember tahun lalu Rp 28,46 triliun. Reksa dana exchange traded fund (ETF) tercatat Rp 14,09 triliun dibanding periode tahun lalu sebesar Rp 11,59 triliun. Sedangkan reksa dana indeks mencatatkan dana kelolaan Rp 6,41 triliun, naik 15,50% dari akhir tahun lalu sebesar Rp 5,55 triliun.

Sementara itu, return indeks reksa dana secara year-to date (yoy) hingga September 2019 tertinggi ditempati reksa dana pendapatan tetap sebesar 7,01%, reksa dana pasar uang 3,96%, reksa dana campuran 2,17%, dan reksa dana saham -8,38%. Penurunan return reksa dana saham sepanjang sebagai respons pasar yang mengalihkan dananya dari saham ke fixed income, utamanya surat berharga Negara (SBN) karena momentum penurunan suku bunga acuan.

Top 10 Manajer Investasi dengan NAB Terbesar
Top 10 Manajer Investasi dengan NAB Terbesar

Pertumbuhan NAB industri reksa dana juga diikuti bertambahnya jumlah produk reksa dana konvensional. Per 13 September 2019, tercatat jumlah reksa dana konvensional sebanyak 1.924 produk, bertambah 51 produk dibanding Desember 2018 yang sebanyak 1.873. Sedangkan reksa dana syariah sebanyak 265 produk per September tahun ini, bertambah 40 dibanding akhir 2018 sebanyak 225.

Berdasarkan jenisnya, jumlah total produk reksa dana konvensional maupun syariah per September 2019 terdiri atas 345 produk reksa dana saham, 219 reksa dana pasar uang, 216 reksa dana campuran, 335 reksa dana pendapatan tetap, 988 reksa dana terproteksi, 36 reksa dana indeks, dan 30 reksa dana ETF.

Posisi puncak dalam industri manajemen investasi Tanah Air per Agustus 2019 ditempati oleh PT Mandiri Manajemen Investasi atau MMI dengan total dana kelolaan sebesar Rp 44,38 triliun.

Perkembangan jumlah investor di BEI
Perkembangan jumlah investor di BEI

Lalu, di urutan kedua hingga kelima ditempati masing-masing oleh PT Batavia Prosperindo dengan AUM sebesar Rp 43,65 triliun, PT Bahana TCW Investment Management atau Bahana dengan AUM Rp 41,79 triliun, PT Schroder Investment Management Indonesia atau Schroders Indonesia dengan AUM Rp 40,96 triliun, dan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) dengan dana kelolaan Rp 31,33 triliun.

Peningkatan dana kelolaan industry reksa dana tak lepas dari perkembangan positif pasar modal dalam negeri tiga tahun terakhir. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memproyeksikan jumlah investor di pasar modal dapat mencapai 2,5 juta single investor identification (SID) dalam waktu dekat.

Hingga pertengahan Maret 2019, jumlah investor pasar modal telah mencapai 1,7 juta SID, yang terdiri atas investor reksa dana, saham, dan surat utang. Padahal, pada 2014 KSEI mendata jumlah investor pasar modal baru sebanyak 281.256 SID.

Kepemilikan Asing di KSEI
KSEI. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Kemudian, pada 2017 mencapai 1,12 juta SID dan pada akhir 2018 naik menjadi 1,62 juta SID. KSEI memantau perkembangan terbanyak berasal dari investor reksa dana. Peluang untuk peningkatan jumlah SID yang signifikan sangat terbuka. Sebab, perkembangan jumlah investor cukup baik belakangan ini, antara lain turut dikontribusikan oleh pemasaran produk secara digital atau melalui perusahaan financial technology (fintech). OJK mencatat jumlah investor pasar modal berdasarkan SID terus meningkat terutama sejak empat tahun lalu dengan didorong oleh adanya digitalisasi.

Sekitar empat tahun lalu jumlah investor masih sekitar 350.000 orang. Angka tersebut terus bertambah seiring munculnya platform-platform digital yang menjual reksa dana.

Reksa dana dapat menjadi solusi bagi investor pemula. Investasi ini aman karena diawasi langsung oleh OJK, dikelola oleh manajer investasi yang profesional, imbal hasil yang menarik, sampai minimum investasi yang sangat terjangkau yaitu bisa beli mulai dari Rp 10.000. Dari karakter produk, reksa dana sangat cocok bagi anak muda. Ditambah lagi dari proses pembeliannya bisa dilakukan melalui aplikasi mobile, kaum milenial menjadi pasar potensial bagi produk reksa dana.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA