Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Satelit di angkasa luar. Foto ilustrasi: IST

Satelit di angkasa luar. Foto ilustrasi: IST

Percepat Bangun Infrastruktur TIK

Rabu, 17 Maret 2021 | 14:02 WIB
Investor Daily

Pemerintah wajib mempercepat pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), jangan setengah hati. Pasalnya, transformasi digital kini makin urgen dilakukan, tak bisa ditunda lagi, kalau kita ingin survive di era pandemi Covid-19.

Transformasi digital yang sudah dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak bakal bisa jalan, kalau infrastruktur vital ini belum dibangun hingga ke desa-desa tertinggal, terluar, dan terdepan (3T).

Tak boleh ada satu desa pun yang ditinggalkan. Kalau bangsa ini terlambat melakukan transformasi digital, dipastikan ekonomi nasional maupun sumber daya manusia (SDM) kita bakal makin jauh tertinggal. Di seluruh dunia, semua berlomba-lomba mempercepat transformasi digital seiring datangnya pandemi Covid-19, yang seketika membatasi pertemuan fisik, face to face.

Tak hanya bekerja, belajar, dan belanja mesti dilakukan secara online, namun juga kegiatan sosial, ibadah bersama, hingga konser akbar. Semuanya itu tentu saja membutuhkan koneksi internet cepat yang stabil, yang disediakan oleh jaringan broadband kabel serat optik maupun satelit.

Sebenarnya, jauh sebelum pandemi pemerintah pun menyadari pentingnya konektivitas telekomunikasi ini, untuk menyongsong era revolusi industri ke empat, Industry 4.0. Itulah sebabnya, pe me rintah membangun jaringan 'tol' broadband Palapa Ring, yang diharapkan bisa menghadirkan akses internet cepat dan stabil yang menjangkau semua wilayah di Indonesia.

Namun demikian, banyak desa yang kini bermasalah, kelabakan karena belum terjangkau internet cepat. Padahal, untuk meredam penularan pandemi ada pemberlakuan study from home maupun work from home, seiring penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Meski Palapa Ring rampung tahun 2019, merujuk data Kemkominfo, hingga kini masih ada 12.548 desa/kelurahan yang belum terjangkau jaringan internet 4G LTE. Ini berarti ada 15,07% dari total 83.218 desa/kelurahan yang masih tertinggal.

Desa yang dipastikan tertinggal akses ekonomi digitalnya ini bukan hanya tidak dilayani jaringan kabel serat optik, tapi juga oleh satelit. Kemkominfo, dalam rencana aksi 2020-2024, telah mengagendakan peluncuran dua satelit Satria.

Rencananya, Satria-1 digunakan untuk penyediaan akses internet dan transformasi digital bagi 150.000 titik layanan publik yang belum terjangkau internet, dari total 501.112 titik di Tanah Air. Sekitar 30% titik layanan yang belum mendapat akses internet itu mencakup fasilitas kesehatan, sekolah/pesantren, kantor desa/ kelurahan, dan layanan lainnya.

Masih banyaknya desa yang belum terlayani internet cepat ini karena jaringan kabel serat optik Palapa Ring cuma sampai kabupaten. Itulah sebabnya internet masih banyak mengandalkan satelit, dari jasa para operator layanan telekomunikasi selama ini.

Jaringan backbone Palapa Ring ini mencapai 12.229 km, yang terdiri atas 4.156 km kabel darat (inland) dan 8.073 km kabel laut (SKKL). Namun, hingga Februari lalu, utilisasi Palapa Ring Barat yang tertinggi pun baru mencapai 36,67% (serat optik).

Untuk Palapa Ring Tengah sekitar 20,33% (serat optik), sedangkan Palapa Ring Timur 17% (serat optik) dan 47,27% (microwave). Utilisasi kabel serat optik backbone itu bahkan diperkirakan baru sekitar 50-60% pada 2024. Pasalnya, ada tiga syarat utama agar masyarakat bisa menikmati internet cepat dan stabil, yakni adanya backbone, backhaul, dan jaringan akses.

Mengingat Palapa Ring merupakan jaringan backbone, artinya masih membutuhkan sambungan jaringan distribusi ke daerah (backhaul) dan jaringan akses seperti kabel optik atau Base Transceiver Station (BTS) agar bisa sampai ke rumah rakyat.

Sedangkan hingga kini, pemerintah hanya sekadar menyediakan infrastruktur backbone atau 'jalan tol' sampai ke kota, tanpa membangun penghubung sampai desa, apalagi ke rumah penduduk. Belum lagi persoalan biaya pemanfaatannya. Biaya sewa Palapa Ring ini sangat mahal, sehingga susah dimanfaatkan oleh operator.

Untuk itu, pemerintah perlu melibatkan swasta maupun BUMN dalam membangun infrastr uktur penyambungnya hingga ke desa-desa. Sebagai kompensasinya, sewa Palapa Ring digratiskan atau minimal bebas sewa hingga 10 tahun pertama.

Dalam hal ini bisa ditiru langkah pemerintah yang memberi sewa gratis la han BUMN selama 5 tahun untuk menarik investor asing masuk ke kawasan industri Batang. Insentif dan kemudahan lain juga perlu diberikan oleh pemerintah pusat dan da e rah kepada investor yang bersedia men dukung percepatan pembangunan infrastruktur jaringan akses tersebut hingga ke desa.

Selain keringanan Biaya Hak Penggunaan (BHP) Telekomunikasi, insentif lain bisa berupa keringanan BHP Frekuensi dan Universal Service Obligation (USO). Selain itu, pemberian insentif fiskal untuk investasi penggelaran jaringan TIK, khu susnya di wilayah yang nonkomersial (3T).

Pemerintah pusat hingga daerah juga wajib memberi kemudahan bagi pelaku industri telekomunikasi, untuk efisiensi pembangunan jaringan TIK di seluruh wilayah Indonesia. Pasalnya, ekspansi ini tak hanya perlu dana investasi besar, namun biaya operasionalnya juga besar. Hanya dengan kolaborasi pemerintah pusat, pemda, dan semua pelaku industri telekomunikasi, maka pembangunan infrastruktur TIK ke semua desa bisa dipercepat.

Dengan demikian, transformasi ekonomi digital bisa diwujudkan, yang menjadi salah satu prasyarat pemulihan ekonomi di tengah pandemi. Tanpa ada transformasi ini, pemulihan ekonomi hanyalah mimpi.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN