Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo mendapat suntikan vaksinasi Covid-19 perdana, Rabu (13/1/2021). Sumber: BSTV

Presiden Joko Widodo mendapat suntikan vaksinasi Covid-19 perdana, Rabu (13/1/2021). Sumber: BSTV

Presiden Berikan Optimisme

Senin, 18 Januari 2021 | 16:34 WIB
Investor Daily

Pandemi Covid-19 belum segera berakhir. Hingga saat ini, angka positif baru terus meningkat dengan positivity rate yang terus membesar. Pandemi di Indonesia belum mencapai gelombang pertama. Tapi, Presiden Jokowi menegaskan, tidak ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk pesimistis. Sebaliknya, banyak faktor yang membuat kita optimistis mengarungi 2021 dan tahuntahun ke depan.

"Kita semua harus optimistis, awal tahun 2021 ini akan menjadi sebuah titik balik permasalahan pandemi," kata Presiden Jokowi pada pidatonya yang disampaikan secara virtual pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan, Jumat (15/1/2021).

Seperti disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, tema pertemuan tahunan kali ini adalah "Momentum Reformasi Sektor Jasa Keuangan Pasca Covid-19 dalam Percetakan Pemulihan Ekonomi yang Inklusif".

Disebut titik balik permasalahan pandemic karena dalam waktu setahun ke depan, Covid-19 sudah bisa dikendalikan meski warga tetap diminta menerapkan protokol kesehatan. Ini bukan sebuah harapan kosong. Sejak Rabu, 13 Januari 2021, vaksinasi di Indonesia dimulai dengan suntikan pertama kepada Presi den Jokowi.

Dalam waktu kurang dari setahun, 182 juta atau 70% penduduk harus sudah divaksinasi. Diharapkan, dengan jumlah penduduk yang divaksin sebesar itu akan tercipta herd immunity atau imunitas kelompok. Setiap orang dua kali divaksinasi dengan internal waktu dua pekan.

Dengan mayoritas penduduk yang divaksin, secara keseluruhan, pandemic bisa dikendalikan. Vaksinasi adalah game changer bagi berbagai sektor, terutama ekonomi.

Oleh karena itu, semua pihak wajib mendukung suksesnya vaksinasi. Vaksin Sinovac sudah terbukti manjur. Masyarakat tidak perlu percaya berbagai narasi sesat yang menggiring opini public untuk menolak vaksinasi. Faktor kedua yang membangkitkan optimisme adalah stimulus ekonomi yang terus diberikan pemerintah.

Presiden menegaskan, pemerintah akan melanjutkan pemberian stimulus ekonomi baik dana kesehatan untuk memerangi Covid-19 maupun dana pemulihan ekonomi nasional. Jika pada tahun 2020, total stimulus sebesar Rp 695,2 triliun, pada tahun 2021 sebesar Rp 403,9 triliun. Baru memasuki pertengahan Januari 2021, sejumlah bencana datang silih ber ganti.

Selain gempa bumi di Sulawesi Barat, ada letusan Gunung Semeru di Jawa Timur, dan banjir besar di Kalimantan Selatan akibat kerusakan lingkung an. Pemerintah harus menambah dana bantuan bencana untuk membantu para pengungsi di tahap tanggap darurat hingga pemulihan dan pembangunan kembali permukiman yang rusak.

Pemerintah menegaskan, berapa pun dana yang dibutuhkan untuk bantuan sosial dan penanggulangan bencana akan disiapkan. Yang terpenting adalah kesigapan petugas dan kepastian bahwa dana bantuan sampai ke tujuan dengan tepat jumlah dan tepat waktu.

Lebih dari itu, pemerintah sudah memastikan untuk tetap menggelontorkan dana pembangunan berbagai jenis infrastruktur. Meski ada saran pihak ter tentu semua dana pembangunan in fra struktur dialihkan ke dana bantuan so sial untuk membantu mereka yang jatuh miskin dan kehilangan pekerjaan, pemerintah tetap bergeming.

Jika pada tahun 2020 dana infrastruktur sebesar Rp 281 triliun, pada tahun 2021, dana infrastruktur ditingkatkan menjadi Rp 417,8 triliun. Pengembangan ekonomi banyak terkendala oleh minimnya infrastruktur yang memadai.

Bukan hanya infrastruktur transportasi seperti jalan, pelabuhan, dan bandara, emainkan juga infrastruktur enrgi, telekomunikasi, infrastruktur pertanian seperti bendungan, wduk, dan irigasi. Indonesia bahkan masih jauh tertinggal di bidang infrastruktur dasar seperti air berish dan sanitasi.

Dengan kondisi riil seperti ini, kita mengapresiasi kebijakan pemerintah yang tidak mau melakukan trade off dana bantuan sosial dan pembangunan infrastruktur. Pemerintah memilih untuk tersu memberikan bantuan sosial sesuai kebutuhan dan membangun infrastruktur yang salama ini menjadi kendala pembangunan ekonomi dan sosial.

Satu contoh di masa pandemi baru terungkap betapa infrastruktur telekomunikasi kita masih terbatas, sehingga menyulitkan belajar jarak jauh bagi para siswa.

Para bankir menyambut positif kebijakan pemerintah untuk tetap melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur dan mengalokasikan dana infrastruktur dalam jumlah signifikan. Selain itu para bankir juga menyambut positif keputusan pemerintah untuk tetap memberikan stimulus, terutama bansos dan dukungan terhadap UMKM yang masih terpuruk, pemerintah diharapkan mengalokasikan tambahan dana bagi UMKM dan BUMN.

Karena 64 juta atau 99% pelaku bisnis di Indonesia adalah UMKM, khususnya UMK yang mencapai 63 juta. Dengan dana bantuan stimulus yang lebih besar, kredit macet UMKM di perbankan bisa dihapusbukukan, hingga mereka bisa mendapatkan kredit baru, Jika kebijakan ini diambil, pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan lebih cepat.

Faktor ketiga, OJK akan memberikan status hokum bagi sovereign wealth fund yang sedang dalam proses pembentukan dengan nama Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Dengan modal Rp 15 triliun, LPI akan beroperasi April 2021. BUMN akan ikut menyertakan modal Rp 50 triliun. Saat ini sudah ada sejumlah Negara yang berkomitmen menanamkan dana di LPI senilai US$ 20 miliar.

Relaksasi kebijakan akan berlanjut hingga akhir 2021. Dengan relaksasi kredit, debitur diharapkan bisa terus beroperasi dan melakukan ekspansi tanpa merugikan pihak perbankan. Debitur yang memiliki prospek tidak dikenakan biaya berlebihan yang memberatkan.

Faktor keempat, laju pertumbuhan ekonomi sudah menunjukkan perbaikan sejak kuartal ketiga 2020. Seiring dengan pergerakan manusia yang semakin baik, ekonomi akan terus bertumbuh dan akan mencapai positif 4,5%-5,5% tahun ini. Neraca perdagangan yang selama beberapa tahun terakhir negative, pafa tahun 202 surplus US$ 21,7 miliar.

Banyak tantangan yang dihadapi dan banyak pekerjaan yang harus kita selesai. Optimisme adalah modal penting untuk memperbaiki keadaan. Tanpa optimism, kita tidak akan mempu menghadapi masalah yang akan datang silih-berganti. Dan kita punya banyak alasan untuk optimistis.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN