Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Rally yang Tertahan

Selasa, 1 Desember 2020 | 22:17 WIB
Investor Daily

Rally indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terhenti. IHSG, kemarin, tergerus 171 poin (2,96%) ke level 5.612,41 setelah menguat 3,8% selama sepekan. Dengan pelemahan tersebut, rapor IHSG selama tahun berjalan (year to date/ytd) masih minus 10,91%.

Setidaknya ada tiga faktor yang membuat IHSG terjun bebas. Faktor pertama, investor panik karena kasus Covid-19 di Tanah Air naik tajam. Lonjakan kasus Covid bisa mengganggu pemulihan ekonomi, terutama jika pemerintah memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Faktor kedua, harga saham di bursa domestik sudah jenuh beli (overbought). Selama sebulan terakhir, indeks menguat 5,3%. Para investor, terutama investor asing, melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap). Investor asing kemarin membukukan jual bersih (net sell) saham senilai Rp 3,27 triliun.

Faktor ketiga, para manajer investasi melakukan penyesuaian (rebalancing) por tofolio pada saham-saham yang masuk indeks Morgan Stanley Capital International   (MSCI). Saham yang terdepak dari indeks MSCI praktis banyak dilepas investor.

Dari ketiga faktor pemicu anjloknya IHSG, yang paling menyita perhatian investor tentu lonjakan kasus Covid-19. Para investor khawatir peningkatan kasus Covid akan menyulitkan ekonomi Indonesia keluar dari resesi. Padahal, pasar selama ini punya ekspektasi besar bahwa perekonomian nasional sedang dalam tren pemulihan.

Kekhawatiran investor sangat wajar. Perkembangan kasus Covid akan menentukan nasib ekonomi ke depan. Bila kasus Covid terus meningkat, pemerintah mau tidak mau harus memperketat kembali PSBB untuk menghambat penyebaran corona. Itu artinya, pemulihan ekonomi yang sudah menemukan momentumnya bakal tertunda lagi.

Meningkatnya kasus Covid juga mendapat perhatian serius dari Presiden Jokowi. Presiden kecewa karena kasus aktif corona di Indonesia pada awal pekan ini meningkat sampai 13,41% dibanding pekan sebelumnya 12,78%. Adapun angka kesembuhan pekan ini mencapai 83,44%, turun dari pekan lalu 84,03%.

Pemulihan ekonomi dan penanganan Covid memang bak dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan harus dijalankan secara simultan. Jika PSBB diterapkan secara masif untuk mencegah penyebaran corona, ekonomi akan surut ke belakang. Korporasi bakal tiarap. PHK karyawan merebak. Angka kemiskinan dan pengangguran membengkak.

Sebaliknya, jika PSBB dilonggarkan, dunia usaha akan kembali menggeliat. Korporasi yang sahamnya tercatat di bursa (listed company) bakal kembali bangkit, berekspansi, dan mencetak keuntungan. Roda ekonomi akan berputar lebih kencang. Di luar itu, kita percaya kepanikan investor terhadap lonjakan angka Covid hanya bersifat temporer. Apa lagi Presiden Jokowi sudah menunjukkan komitmennya untuk mena ngani pandemic Covid dan pemulihan ekonomi nasional secara simultan.

Tak ada dikotomi antara menangani Covid (kesehatan) dan menangani ekonomi. Lagi pula, para investor mafhum bahwa pasar saham domestic ke depan sangat prospektif. Tahun depan, IHSG bisa r a l l y ke level 6.800. Faktor pendorongnya an tara lain dampak penyaluran dana stimulus, kenaikan harga komoditas, kredit perbankan yang tumbuh lebih pe sat, derasnya aliran masuk modal asing (capital inflow), dan program vaksinasi.

Jangan lupa, pasar saham Indonesia termasuk yang paling seksi di kawasan Ase an. Hingga saat ini, misalnya, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah pe nawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham tertinggi di Asia Tenggara. Hingga akhir pekan lalu, sebanyak 46 perusahaan telah melangsungkan IPO saham. Di Malaysia dan Thailand hanya 14 perusahaan yang melaksanakan IPO. Bahkan di Singapura dan Filipina masing-masing hanya ada lima dan dua perusahaan yang melangsung kan IPO saham.

Harus diingat pula, ekonomi Indonesia, menurut Dana Moneter Internasional (IMF), merupakan yang terbaik setelah Tiongkok. Resesi yang dialami Indonesia tidak separah negara- negara lain. Menilik faktor-faktor tersebut, tidak ada alasan bagi para investor, termasuk investor asing, untuk angkat kaki dari lantai bursa Indonesia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN