Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Selasa (31/3/2020). Dok. Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Selasa (31/3/2020). Dok. Bank Indonesia

Rezim Bunga Rendah

Rabu, 20 Januari 2021 | 06:46 WIB
Investor Daily

investor.id

 

Suku bunga acuan saat ini 3,75% merupakan rekor terendah, sepanjang sejarah Bank Indonesia. Merespons krisis pandemi yang menekan berbagai sektor, mau tak mau bunga memang harus diturunkan untuk menyelamatkan ekonomi.

Daya beli masyarakat pun hingga kini masih lemah di tengah kucuran massal bansos, yang tercermin pada inflasi masih rendah. Inflasi Indeks Harga Konsumen per 31 Desember 2020 hanya 1,68% secara tahunan (year on year), dan tahun ini diprediksi juga masih bergerak 2-4%.

Meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah kicked off implementasi vaksinasi gratis di Tanah Air, namun perjalanan masih panjang untuk pemulihan dari krisis pandemi virus baru Covid-19. Program yang dimulai 13 Januari lalu itu juga dijadwalkan baru rampung Maret tahun depan. Padahal, vaksinasi ini menjadi game changer pemulihan perekonomian yang terpukul ganasnya penyebaran pandemi, plus kebijakan penanggulangan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kini Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Jadi, memang tak ada alasan suku bunga naik. Inflasi toh tidak akan melonjak dalam beberapa tahun ke depan, mengingat Covid-19 yang pertama kali merebak di Wuhan itu masih akan lama tinggal bersama manusia. Artinya, tak ada pula imported inflation yang mendongkrak harga barang-barang impor atau yang bahan bakunya masih dari luar.

Apalagi, foreign capital inflow diproyeksikan kencang dalam setidaknya 1-2 tahun ke depan, terutama terkait faktor global Amerika Serikat masih akan mengguyur stimulus besar-besaran. Jadi, tren kurs rupiah kita pun aman.

Dalam hal fungsi Bank Indonesia menjaga nilai tukar rupiah, praktis hanya dua faktor yang bisa mendorong BI rate. Bisa dikatakan suku bunga naik hanya diperlukan jika ada tekanan inflasi dan kurs yang mengancam rupiah kita.

Jika rupiah melemah, tentunya tak menarik untuk investasi, sehingga dana asing tak masuk, atau bahkan ramai-ramai keluar. Inilah yang sering mesti direspons bank sentral dengan memberi insentif suku bunga lebih tinggi.

Namun, rupiah kini aman-aman saja. Yang diperlukan adalah tambahan insentif untuk menggerakkan ekonomi, dengan mempertahankannya suku bunga murah.

Dengan bunga murah di tengah kondisi yang membaik pascavaksinasi Covid-19, maka orang akan terdorong untuk mengincar berbagai investasi yang berprospek cerah. Apalagi, sebentar lagi rampung aturan pelaksana Undang-Udang Cipta Kerja, omnibus law pertama yang digadang-gadang menjadi game changer dunia investasi kita.

Survei BI juga menunjukkan, permintaan kredit korporasi dipastikan mulai meningkat kuartal I tahun ini, setelah tahun lalu terpuruk. Para bankir juga optimistis kredit mulai bergulir lagi, setelah tahun lalu realisasi penyaluran kredit perbankan terkontraksi 2,41%.

Berdasarkan survei perbankan yang dilakukan BI, para bankir melihat prioritas utama dalam penyaluran kredit baru triwulan I-2021 adalah kredit modal kerja, diikuti kredit investasi, kemudian kredit konsumsi. Pada jenis kredit konsumsi, penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA) masih menjadi prioritas utama, dibuntuti penyaluran kredit multiguna dan kredit kendaraan bermotor.

Demikian pula para debitur sudah siap-siap mengambil kredit lagi. Di awal tahun ini, terlihat tren permintaan kredit modal kerja tumbuh dari para debitur untuk memulai aktivitas bisnisnya, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi yang banyak menyerap tenaga kerja dan memiliki multiplier effect tinggi. Artinya, ada titik temu antara permintaan dan penawaran pembiayaan yang bakal menjadi titik balik pemulihan kinerja perbankan maupun ekonomi nasional.

Jadi, rezim bunga rendah masih tetap perlu dipertahankan Bank Indonesia. BI 7-Day Reverse Repo Rate 3,75% sudah tepat bila dipertahankan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari ini.

Dengan dipertahankannya rezim suku bunga yang rendah, maka dunia usaha yang membutuhkan dana untuk ekspansi atau beroperasi kembali pascapandemi dapat terpenuhi, di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan. Upaya pemerintah untuk vaksinasi dan mendorong ekonomi bergerak dengan stimulus fiskal pun tak menjadi sia-sia. Ada titik temu antara perbaikan iklim investasi dan kecukupan kredit yang dibutuhkan untuk memutar kembali roda perekonomian.

Dengan demikian, kredit tidak hanya akan tumbuh hingga 8,5% sebagaimana diperkirakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun ini, tapi bisa kembali double digit. Lebih dari itu, struktur ekonomi kita ke depan juga makin kokoh dengan masuknya investasi baru di industri pengolahan dan teknologi, yang akan menyerap kembali banyak tenaga kerja yang kini jutaan ter-PHK.

Selain itu, simpanan dana yang masih banyak ditumpuk di bank juga perlu didorong mengalir untuk investasi. Lihat saja, OJK memproyeksikan dana pihak ketiga (DPK) tahun ini masih tumbuh tinggi, 10-12%.

Artinya, seiring perbaikan penanganan kesehatan dan stimulus ekonomi, maka bunga yang rendah nantinya mendorong dana masyarakat diinvestasikan kembali, mengalir menggerakkan semua sektor. Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah 5% pun berpeluang terlampaui, setelah tahun lalu dipastikan minus.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN