Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembentukan holding ultramikro

Pembentukan holding ultramikro

'Rights Issue' BRI

Selasa, 27 Juli 2021 | 11:00 WIB
Investor Daily

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) segera meraih tonggak pencapaian (milestone) baru. Jika tidak ada aral melintang, BRI akan menggelar rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) pada September 2021. Dengan target dana Rp 95,92 triliun, rights issue  BRI bakal menyalip rekor rights issue yang ditorehkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) senilai Rp 40,12 triliun pada 2008. 

Rights issue BRI dianggap sebagai milestone baru bukan karena dana jumbo yang bakal diraihnya, melainkan karena manfaat yang akan dihasilkannya. Dana hasil rights issue BRI akan memiliki daya dongkrak (leverage) sangat kuat terhadap perekonomian nasional. Dari dana hasil rights issue yang diprolehnya, bank pelat merah yang melantai di bursa dengan sandi saham BBRI itu bisa mengubah wajah ekonomi Indonesia.

Total rights issue sebesar Rp 95,92 triliun yang ditargetkan BRI berasal dari penyertaan modal nontunai (inbreng) berupa saham PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani/PNM (Persero) senilai 54,77 triliun. Sisanya berasal dari pelaksanaan hak investor publik dari penawaran umum terbatas (PUT) I sekitar Rp 41,15 triliun. BRI akan melepas 28,67 miliar saham. Dengan mempertimbangkan jumlah saham yang dilepas dan target dana, harga pelaksanaan rights issue BRI diproyeksikan di level Rp 3.346.

Untuk menjalankan aksi korporasi tersebut, BRI telah mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 22 Juli 2021. Bank dengan aset terbesar di Tanah Air ini ditargetkan mengantongi pernyataan efektif dari OJK pada 30 Agustus 2021. Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilakukan pada 13 September 2021, sedangkan perdagangan HMETD akan dilakukan pada 13-22 September 2021.

Dalam skenario rights issue BRI, pemerintah selaku pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 56,75% akan mengeksekusi seluruh haknya melalui inbreng yang terdiri atas 6,24 juta saham Seri B di Pegadaian dan 3,79 juta saham Seri B di PNM. Dengan memperhatikan nilai wajar, nilai inbreng saham Pegadaian dan PMN masing-masing mencapai Rp 48,67 triliun dan Rp 6,1 triliun.

Dana yang digalang BRI dari rights issue akan digunakan untuk mendukung pembentukan holding BUMN Ultramikro. Holding dibentuk agar BRI bisa menjangkau segmen pelaku usaha ultramikro di Tanah Air yang saat ini mencapai 63 juta unit usaha. Dana hasil rights issue BRI juga akan digunakan untuk modal kerja perseroan, khususnya bagi pembentukan ekosistem ultramikro.

Inilah alasan kenapa rights issue BRI dianggap memiliki leverage kuat dan diyakini mampu menghasilkan efek pengganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian nasional. Jika skenario itu terwujud, BRI bakal menjadi motor pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Para pengusaha ultramikro akan naik kelas menjadi pengusaha mikro, pengusaha kecil, pengusaha menengah, bahkan menjadi pengusaha besar.

Lebih dari itu, holding ultramikro yang mengintegrasikan ekosistem bisnis BRI, Pegadaian, dan PMN akan mendorong percepatan digitalisasi bisnis segmen usaha ultramikro. Dengan demikian, ekosistem bisnis ultramikro akan lebih terintegrasi, lebih kuat, dan lebih masif. Inilah hal paling esensial dari pembentukan holding ultramikro. Para pengusaha ultramikro mustahil bisa naik kelas jika mereka tak memilki ekosistem yang terintegrasi.

Segmen usaha ultramikro adalah sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat potensial. Jumlah segmen usaha mikro dan ultramikro saat ini mencapai 99% dari total unit usaha di Indonesia. Jika mereka diberdayakan, perekonomian nasional bakal maju pesat. Ekosistem yang andal bukan saja diperlukan untuk memperluas dan memperkuat jaringan pasar di kalangan pengusaha ultramikro, tapi juga memberikan lebih banyak pilihan produk dan akses keuangan secara lengkap dan terintegrasi.

Holding ultarmikro sejatinya adalah simbiosis mutualisme. Tak hanya kalangan pengusaha ultramikro, BRI, Pegadaian, dan PNM juga akan diuntungkan. Dengan memiliki ekosistem yang terintegrasi, mereka bakal memiliki pasar yang lebih masif dan pasti. Bisnis ketiga BUMN itu pun akan lebih efisien. Alhasil, mereka punya sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.

Tentu kita berharap keberpihakan pemerintah melalui BUMN terhadap para pengusaha ultramikro tak hanya berhenti pada pemberian akses pembiayaan dan pembentukan ekosistem. BRI, Pegadaian, dan PNM, dengan bantuan BUMN lain, juga harus memberdayakan para pengusaha ultramikro secara lebih intens melalui pelatihan dan pendampingan, baik dari sisi kewirausahaan, produk, pasar, maupun teknologi.

Itu sebabnya, holding ultramikro harus menjadi gerakan seluruh BUMN dan kementerian/lembaga (K/L), bukan hanya Kementerian BUMN atau BRI, Pegadaian, dan PNM. Semua BUMN dan K/L harus terlibat aktif mendorong kemajuan holding ultramikro. Apalagi selama ini hampir semua K/L ikut mengurus usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah melalui regulasinya, juga bisa mengajak korporasi swasta besar terlibat dalam program-program holding ultramikro.

Kita layak berharap banyak pada Holding BUMN Ultramikro. Jika menjalankan perannya secara konsisten, holding ultramikro bakal mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan kualitas nasabah usaha ultramikro dan UMKM dalam rangka menciptakan keuangan inklusif.***

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN