Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
nikel

nikel

Saham Emiten Tambang

Kamis, 21 Januari 2021 | 07:00 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Saham emiten pertambangan sedang menjadi primadona. Berkat saham-saham emiten tambang pula, indeks harga saham gabungan (IHSG) makin kencang melaju di zona hijau. Sempat terjerembab 67,97 poin pada perdagangan Selasa (19/1), IHSG pada Rabu (20/1) kemarin melesat 107,90 poin (1,7%) ke level 6.429,75.

Kenaikan IHSG kemarin dimotori saham pertambangan yang naik paling tinggi, rata-rata 5,6%. Dari 10 saham sektoral, saham sektor pertambangan mencetak penguatan paling tajam selama tahun berjalan (year to date/ytd), yaitu 14,31%, jauh lebih tinggi dari kenaikan IHSG sebesar 7,54%.

Dari 47 saham emiten di BEI, yang paling membetot perhatian investor tiada lain saham PT Aneka Tambang/Antam Tbk (ANTM), emiten yang 65% sahamnya dikuasai PT Inalum (Persero) dan 35% lainnya dimiliki masyarakat. Kemarin, harga ANTM melesat 17,7%. Dalam sebulan, ANTM melonjak 63%. Selama tahun berjalan dan setahun penuh, ANTM melambung masing-masing 64,9% dan 279,8%.

Meski tak sefantastis ANTM, saham emiten tambang lainnya yang memiliki kinerja amat meyakinkan adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Kemarin, saham INCO naik 11,7%. Dalam sebulan, INCO menguat 23,7%. Selama tahun berjalan dan setahun penuh, INCO melesat 30,4% dan 90%. Pemilik Vale Indonesia adalah Vale Canada Limited (43,79%), Sumitomo Metal Mining Co Ltd (15,03%), PT Inalum (Persero) 20%, dan masyarakat 21,18%.

Kenaikan harga saham pertambangan cukup masuk akal. Harga komoditas tambang, seperti nikel, tembaga, timah, dan bauksit mengalami rally sejak beberapa bulan terakhir, dipicu ekspektasi perekonomian global segera pulih sejalan dengan dilakukannya vaksinasi di berbagai negara. Jika ekonomi pulih, kebutuhan terhadap produk-produk tambang bakal meningkat.

Khusus untuk Antam dan Vale, kinerja saham kedua emiten penghasil nikel tersebut lebih banyak terdorong oleh target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pemain utama mobil listrik dunia. Sebagai pemilik sekitar 30% cadangan nikel dunia, Indonesia disiapkan menjadi pusat industri sel baterai kendaraan listrik.

Target pemerintah bukan isapan jempol. Pada semester I-2021, Indonesia akan memulai pembangunan pusat industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi pertama di dunia senilai Rp 142 triliun di Maluku Utara dan Batang, Jawa Tengah. Megaproyek itu dibangun konsorsium BUMN, Indonesia Holding Battery, bersama LG Group. Konsorsium Indonesia Holding Battery terdiri atas MIND ID sebagai holding BUMN tambang, Antam, PLN, dan Pertamina. Perusahaan asingnya antara lain LG Chem dan pabrikan Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL).

Tak berhenti sampai di situ, Indonesia tengah menjajaki kerja sama pembangunan industri baterai kendaraan listrik dengan produsen mobil listrik AS, Tesla Inc. Di luar itu sudah ada pabrik mobil listrik yang sedang dibangun produsen mobil Korea Selatan, Hyundai, di Cikarang, Bekasi. Pabrik mobil senilai Rp 21 triliun itu berproduksi mulai 2022.

Selain itu, pabrikan otomotif Jepang, Toyota, berencana investasi US$ 2 miliar di Indonesia untuk pengembangan mobil kendaraan ramah lingkungan hingga 2025. Toyota menargetkan produksi 10 jenis kendaraan listrik bagi konsumen Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan.

Melihat fakta-fakta tersebut, kita berbesar hati bahwa Indonesia sangat mungkin menjadi pemain utama kendaraan listrik global. Indonesia punya segala-galanya. Selain ditopang populasi yang besar --280 juta jiwa, nomor empat terbesar di dunia-- Indonesia dikaruniai cadangan nikel yang melimpah.

Indonesia bahkan diprediksi menjadi produsen nickel pig iron (NPI) terbesar di dunia tahun ini, mengalahkan Tiongkok, seiring berlakunya larangan ekspor bijih mentah (ore) nikel mulai 1 Januari 2020. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diperkirakan tak hanya menjadi produsen NPI (bahan baku stainless steel) nomor satu, melainkan seluruh jenis nikel, seperti feronikel, nikel matte, dan nikel sulfat.

Produksi nikel dunia tahun ini diprediksi tumbuh 5% menjadi 2,6 juta ton. Dari jumlah itu, Indonesia dan Tiongkok berkontribusi 50%. Konsumsi nikel dunia diestimasikan mencapai 2,52 juta ton, yang 67%-nya digunakan untuk memproduksi stainless steel.

Bisa dipahami jika para produsen nikel, khususnya dari Tiongkok, berbondong-bondong membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Morowali (Sulawesi Tengah), Bantaeng (Sulawesi Selatan), dan Konawe (Sulawesi Tenggara). Masuk akal pula jika Uni Eropa (UE) menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) karena larangan ekspor bijih nikel akan mengganggu industri mereka.

Kita meminta pemerintah konsisten melarang ekspor bijih nikel, sambil menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk melawan gugatan UE. Dengan dalih apa pun, larangan itu tidak boleh dicabut. Mencabut larangan ekspor bijih nikel sama saja dengan menyia-nyiakan peluang yang sudah di depan mata. Jika larangan ekspor dicabut, para investor yang sudah masuk bakal balik kanan. Pencabutan larangan ekspor akan membuyarkan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pemain utama kendaraan listrik dunia.

Sudah lama kita mengurut dada karena hampir seluruh sumber daya alam, terutama hasil tambang, diekspor dalam bentuk mentah, dengan alasan untuk memenuhi target penerimaan negara. Akibat mengejar kebutuhan sesaat, bangsa ini tidak memperoleh nilai tambah ekonomi yang optimal dari hasil tambang.

Pengolahan bahan tambang di dalam negeri tidak saja menaikkan harga produk tambang hingga puluhan, bahkan ratusan kali lipat saat diekspor dalam bentuk jadi, tapi juga menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang sangat besar. Kecuali membuka lapangan kerja, melipatgandakan penerimaan negara, dan melahirkan banyak industri ikutan, mengolah bahan tambang di dalam negeri akan mendatangkan gengsi nasionalisme dari merek yang dihasilkannya.

Itu sebabnya, kita berharap, kelak, kenaikan harga saham emiten tambang di BEI bukan semata dipicu kenaikan harga bahan tambang, tapi juga oleh kenaikan harga produknya yang memiliki nilai tambah tinggi terhadap perekonomian nasional.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN