Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperlihatkan uang rupiah di sebuah penukaran uang di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan memperlihatkan uang rupiah di sebuah penukaran uang di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sektor Finansial Masih Tangguh

Investor Daily, (elgor)  Selasa, 12 Mei 2020 | 20:32 WIB

Meski telah meluluhlantakkan sejumlah sektor usaha, pandemi corona tak sampai menggoyahkan sendi-sendi perekonomian nasional. Fundamental ekonomi domestik masih kokoh dan elastis (resilient). Sektor finansial masih relatif sehat, meski tak sebugar dulu.

Berdasarkan informasi terbaru yang disampaikan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), fungsi intermediasi perbankan terhadap sektor riil masih positif. Kredit, walau tak sederas masa-masa normal, tetap mengucur. Dana pihakketiga (DPK) masih tumbuh. DPK hingga April lalu tumbuh 7,98% secara tahunan (year on year/ yoy), melambat dibanding Maret 9,66%, tetapi lebih tinggi dibanding Februari 7,71%. Komponen DPK yang tumbuh paling tinggi adalah tabungan. Dana tabungan tumbuh 10,2% (yoy) dibanding 9,5% pada Maret dan 8,11% pada Februari 2020.

Penambahan DPK perbankan mungkin saja terjadi karena masyarakat tidak bisa menggunakan dananya untuk memutar roda usaha, investasi, atau konsumsi. Namun, hal itu tetap melegakan karena menjadi bukti bahwa kepercayaan terhadap perbankan nasional belum luntur.

Kita paham jika pandemi Covid-19 di Tanah Air baru ‘menggila’ pada pertengahan Mei atau awal April 2020. Tetapi kita juga tidakmenutup mata terhadap sejumlah indikator penting yang membuktikan bahwa perekonomian nasional masih cukup kokoh untuk menahan serangan corona.

Salah satu indikator penting itu adalah rupiah. Nilai tukar rupiah yang pada pertengahan April lalu sempat mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS, pada 11 Mei sudah bertengger di posisi Rp 14.936. Ke depan, mata uang Garuda diperkirakan stabil di bawah Rp 15.000.

Di pasar saham, kendati telah membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 21,05 triliun seiring pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 26,36% selama tahun berjalan (year to date/ ytd), investor asing tetap agresif memburu saham-saham unggulan (blue chips).

Di pasar surat berharga Negara (SBN), investor asing mulai menambah kepemilikannya. Jika pada pertengahan April kepemilikan asing di SBN tinggal Rp 919,41 triliun dibanding posisi 31 Desember 2019 sebesar Rp 1.061,86 triliun, maka pada 8 Mei naik menjadi Rp 920,17 triliun.

Hasrat korporasi untuk menggalang dana dari pasar saham pun masih besar. Buktinya, jumlah penawaran umum di pasar modal pada Januari-Mei 2020 naik 34,2% dibanding periode sama tahun silam. Hingga 5 Mei terdapat 61 emiten dalam pipeline yang melakukan penawaran umum dengan nilai indikasi Rp 29,1 triliun.

Tentu saja variabel-variabel tersebut bukan jaminan bahwa perekonomian Indonesia segera pulih. Namun, berbekal perkembangan positif itu, kita punya keyakinan kuat bahwa negeri ini, lambat atau cepat, akan terbebas dari Covid-19. Apalagi jumlah pasien corona yang sembuh terus meningkat.

Kita semakin yakin karena pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bekerja all-out untuk mengatasi Covid-19, sekaligus meredam dampaknyaterhadap perekonomian nasional.

Pemerintah telah menggelontorkan stimulus fiskal sebesar Rp 438,3 triliun. Sebagian besar stimulus digunakan untuk insentif tenaga kesehatan, penanganan Covid-19, jaring pengaman sosial, industri, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta untuk program pemulihan ekonomi. BI, selaku otoritas moneter, telah melakukan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/ QE) senilai Rp 503,8 triliun untuk menambah likuiditas perbankan. OJK hingga 8 Mei telah memfasilitasi restruktukturisasi kredit dan kontrak pembiayaan terdampak Covid-19 masing-masing senilai Rp 336,97 triliun dan Rp 43,18 triliun.

LPS juga telah merelaksasi aturan agar perbankan bisa survive. Berbekal keyakinan-keyakinan itu pula, kita mendukung pemulihan ekonomi yang disiapkan pemerintah setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir. Dalam skenario pemerintah, pada akhir Juli atau awal Agustus 2020, seluruh kegiatan ekonomi dibuka, dengan tetap mempertahankan protocol kesehatan yang ketat.

Suka atau tidak suka, pada akhirnya kita harus mengakui bahwa selama antivirusnya belum ditemukan, manusia harus rela ‘berdamai’ dan hidup berdampingan dengan Covid-19. Kita hanya perlu berupaya agar roda ekonomi bisa bergerak tanpa menimbulkan korban.

Kita percaya bahwa PSBB bisa mengundang krisis jika diterapkan berlarut-larut. Padahal, krisis ekonomi bisa mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan yang tak kalah mengerikan dibanding virus corona itu sendiri.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN