Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Syariah Inclusion

Kamis, 9 Agustus 2012 | 08:10 WIB
Antara

Berlimpah potensi yang dimiliki semestinya mampu membuat perkembangan bisnis syariah     di Indonesia melesat. Namun apa yang diimpikan para pelaku bisnis     syariah di Indonesia belum mencapai seperti yang diharapkan. Negeri ini memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, sebanyak 205 juta jiwa. Namun, 25 top bank syariah dengan aset terbesar di dunia justru tersebar di Timur Tengah, Malaysia, bahkan Inggris.

Malaysia yang jumlah penduduk muslimnya tak sampai sepersepuluh Indonesia, total aset syariahnya menempati peringkat ketiga dunia, sebesar US$ 133 miliar. Indonesia hanya US$ 10,5 miliar.

Meski sudah hampir dua decade lembaga keuangan berbasis syariah beroperasi di Indonesia, ambisi agar omzet bisnis syariah menguasai 5% omzet seluruh lembaga keuangan, tak kunjung terwujud. Padahal, keuangan syariah saat ini berada dalam fase pertumbuhan yang impresif.

Rata-rata pertumbuhan aset bank syariah dalam lima tahun terakhir mencapai 40,2%, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan aset industri perbankan nasional sebesar 16,7%. Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan asset perbankan syariah dunia yang mencapai kisaran 10-20% per tahun.

Namun dari sisi pangsa pasar, bank syariah di Indonesia baru menggaet 3,85%. Asuransi syariah juga baru berkontribusi 4% terhadap industri asuransi nasional. Demikian pula pangsa pasar reksa dana syariah disbanding total reksa dana baru sekitar 2,92%, sedangkan obligasi syariah (sukuk) baru 3,92% terhadap total obligasi korporasi.

Khusus bank, saat ini terdapat 11 bank umum syariah, 24 unit usaha syariah, dan 156 BPR syariah dengan total asset sebesar Rp 147,5 triliun. Bila diselisik lebih mendalam, persoalan yang menyelimuti bisnis syariah tak beranjak dari masalah klasik yang itu-itu saja.

Di antaranya adalah minimnya SDM syariah, baik secara kualitas maupun kuantitas, kurangnya sosialisasi dan edukasi, serta langkanya inovasi produk syariah sehingga kurang menarik minat masyarakat. Sebagai gambaran, saat ini hanya terdapat 50 produk reksa dana syariah, relatif tak bertambah dari tahun lalu sebanyak 48 produk.

Dengan lingkup masalah yang relative stagnan, mestinya para pelaku bisnis keuangan syariah mampu mencari solusi dan strategi yang lebih baik. Potensi bisnis syariah yang sangat menjanjikan mesti dioptimalkan. Selain jumlah penduduk muslim yang besar dan pertumbuhan bisnis perbankan yang pesat, banyaknya proyek infrastruktur dan berlimpahnya sumber alam merupakan peluang bagi penerbitan obligasi syariah (sukuk).

Saat ini setidaknya terdapat minimal 100 juta penduduk muslim Indonesia yang bankable. Namun, penetrasi produk syariah hanya mencapai 2,2%. Kita jauh tertinggal dengan Malaysia, yang meski jumlah penduduk muslim bankable hanya 11 juta jiwa, tingkat penetrasi produk syariahnya mencapai 19,9%.

Sebagai upaya untuk mendongkrak pangsa pasar syariah, pemerintah harus memiliki keberpihakan lebih besar. Misalnya melalui kebijakan konversi aset, yakni dana-dana milik pemerintah dan BUMN yang ada di bank-bank konvensional sebagian perlu dikonversi ke dalam produk syariah. Bahkan bila perlu dibentuk bank syariah BUMN, baik berupa bank baru atau konversi dari lembaga BUMN yang sudah ada.

Keberpihakan pemerintah bisa juga diwujudkan lewat aturan perpajakan, misalnya dengan menghilangkan pajak ganda transaksi ijarah. Lembaga keuangan mikro syariah (BMT) yang selama ini dikenakan pajak sama dengan perseroan terbatas sebaiknya ditinjau ulang untuk memperoleh pengurangan pajak.

Intinya, perlu perlakuan yang adil antara institusi keuangan syariah dan konvensional. Bahkan, penerbitan sukuk perlu memperoleh insentif. Selain itu, lembaga keuangan syariah dituntut lebih kreatif dan inovatif menciptakan produk atau instrument syariah yang bisa memikat masyarakat.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bakal membawahkan lembaga keuangan syariah bersama pelaku industri syariah mesti lebih gencar menggelar sosialisasi dan edukasi secara kontinu di semua lapisan masyarakat agar mereka semakin sadar syariah.

Kita optimistis institusi syariah di Indonesia bakal menjadi kekuatan luar biasa dan menjadi salah satu pilar keuangan yang kokoh. Bahkan, bukan mustahil Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Saat ini mungkin syariah masih bisa dikatakan sebagai bisnis yang ekslusif, bukan inklusif, karena cakupan dan penetrasi yang terbatas. Perlu kerja keras dan kreatif untuk memperluas keterjangkauan dan akses masyarakat ke produk-produk berbasis syariah.

Meminjam istilah yang sedang ‘in’ sekarang, syariah (sharia) inclusion perlu agresif dikampanyekan, parallel dengan financial inclusion, program yang tengah digelorakan pemerintah maupun negara-negara G-20. (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN