Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi reksa dana. IST.

Ilustrasi investasi reksa dana. IST.

Tingkatkan Perlindungan Investor

Minggu, 13 Juni 2021 | 06:12 WIB
Investor Daily

Perlindungan investor di pasar modal sudah ada regulasinya. Namun dalam praktiknya masih saja muncul kasus yang merugikan para pemodal akibat kesalahan pihak manajer investasi yang mengelola dana investor. Hak-hak investor belum sepenuhnya terlin dungi. Bahkan dalam beberapa kasus, berbagai upaya yang dilakukan para investor untuk pengembalian dana me reka seringkali jauh dari harapan.

Sebagai contoh, meski sudah berjalan hampir dua tahun, hingga kini pengembalian dana nasabah PT Minna Padi Asset Management (MPAM) masih tidak jelas. Karena itu, sejumlah nasabah MPAM kembali menyuarakan untuk dibukanya ruang mediasi guna menyelesaikan masalah likuidasi sejumlah produk reksa dana yang masih terkatung-katung.

Perwakilan nasabah meminta ada iktikad baik dari pihak manajer investasi dan tindakan tegas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai wasit pasar modal. Ini karena dari nilai investasi sebesar Rp 4,8 triliun di enam produk reksa dana yang dijual Minna Padi belum semuanya kembalikepada nasabah.

Sejauh ini baru 20% yang dibayar pada Maret 2020. Keenam reksa dana tersebut adalah Amanah Saham Syariah, Hastinaputra Saham, Pringgodani Saham, Pasopati Saham, Properti Plus Saham, dan Keraton II.

Belum tuntasnya penyelesaian kasus tersebut menjadi keprihatinan banyak pihak. Dalam kasus seperti ini dibutuhkan tindakan nyata manajer investasi, bukan hanya janji belaka. Manajer investasi sebaiknya berani bertanggung jawab untuk menjaga kehormatan mereka dan juga demi kemajuan pasar modal Indonesia.

Nasabah meminta MPAM bertanggungjawab atas segala kerugian yang timbul akibat kesalahannya berdasarkan UU No 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan POJK Nomor 1/ POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan. Bahkan, dewan komisaris wajib ikut bertanggung jawab secara pribadi karena lalai menjalankan pengawasan.

Dewan komisaris wajib bertanggung jawab secara pribadi karena kelalaian dalam menjalankan tugas pengawasan terhadap MPAM sebagaimana diatur dalam Undang-undang No 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan POJK Nomor 10 / POJK.04/2018 Perlindungan Investor. Direksi juga harus bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian manajer investasi apabila lalai menjalankan tu gasnya berdasar kedua aturan tersebut.

Dana investor yang diinvestasikan di pasar modal sudah selayaknya mendapatkan jaminan perlindungan selama para investor menanamkan dananya di instrumen investasi yang tepat dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Karena itu, OJK sebagai regulator bisa bertindak lebih tegas menjalankan kewenangan besar yang dimilikinya untuk melindungi investor. Jumlah investor pasar modal yang saat ini mencapai lebih dari 5 juta mayoritas adalah investor kecil atau ritel (individu), butuh perlindungan regulator.

Tidak hanya Minna Padi, OJK juga mesti menyelesaikan berbagai kasus investasi yang terjadi agar investor mendapatkan haknya. Jika satu kasus saja tidak selesai, akan muncul banyak persoalan lain mengingat banyaknya jumlah investor yang menuntut haknya. Dengan selesainya kasus-kasus ini, maka kepercayaan investor tetap terjaga dan pasar modal dapat terus berkembang. Karena itu, regulator tak boleh kendur. Munculnya beberapa kasus menjadi pelajaran bagi otoritas pasar modal untuk memperbaiki tata kelola, pengawasan, dan penegakan hokum di pasar modal.

Dengan semakin baiknya tata kelola dan pengawasan serta adanya penegakan hukum akan memunculkan persepsi baru di benak para investor bahwa regulator sangat serius dalam melindungi investor yang telah punya andil membesarkan pasar modal.

Sementara bagi investor, sebaiknya tetap mencari solusi dalam koridor hukum atau secara legal. Investor bisa menempuh jalur musyawarah dan mediasi dalam proses pengembalian dananya. Jika tidak tercapai kesepakatan, bisa menempuh jalur arbitrase sebagaimana tertuang dalam kontrak investasi yang tertulis di prospektus reksa dana. Sedangkan jalur pidana bisa saja ditempuh tetapi harus menjadi opsi paling akhir.

Sedangkan untuk mencegah terulangnya kasus serupa, bagi investor atau calon investor perlu mengetahui seluk-beluk produk apa yang akan dibeli sebelum mulai investasi. Ini karena setiap investasi selain memberikan keuntungan (return) juga mengandung risiko. Investor jangan hanya tergiur pada keuntungan yang dijanjikan tapi mengabaikan rekam jejak dan reputasi manajer investasi yang menjual produknya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN