Menu
Sign in
@ Contact
Search

Januari, Harga Energi Nonsubsidi Turun

Senin, 4 Januari 2016 | 20:32 WIB

JAKARTA – Per Januari, harga produk-produk energi yang tidak disubsidi turun signifikan menyusul melemahnya harga minyak mentah. Beberapa produk energi nonsubsidi yang turun harga yakni listrik, bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertalite, serta gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG).


Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, pihaknya akan menurunkan harga BBM nonsubsidi dan LPG nonsubsidi pada Januari ini. Harga turun lantaran melemahnya harga minyak mentah di pasar global hingga di kisaran US$ 30 per barel.


Penurunan harga akan diterapkan pada semua jenis BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, Pertalite, Pertamina Dex, dan lainnya. “Pertalite jadi Rp 7.930 per liter dan Pertamax jadi Rp 8.450 per liter,” kata dia dalam pesan singkatnya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.


Saat ini, Pertalite dijual pada harga Rp 8.200 per liter dan Pertamax Rp 8.650 per liter. Harga baru BBM nonsubsidi ini disebutnya akan diberlakukan bersamaan dengan perubahan harga Premium dan Solar, yakni mulai besok (5/1).


Namun, jika akhirnya pemerintah menunda pemberlakukan harga Premium dan Solar lantaran belum ada dasar hukum pungutan dana ketahanan energi, Pertamina tetap akan menurunkan harga produk BBM nonsubsidi. “Tidak (ditunda) lah, tetap saja tanggal 5 Januari,” kata Bambang.


Pertamina, lanjut Bambang, juga akan menurunkan harga LPG nonsubsidi. Selain didorong oleh melemahnya harga minyak mentah, penurunan harga LPG juga lantaran perseroan berhasil melakukan efisiensi dari kegiatan pengadaan dan distribusi. Efisiensi ini meliputi penghematan biaya pengangkutan LPG dengan menggunakan kapal sendiri ketika membeli pasokan serta membangun tangki penyimpanan LPG lebih dekat dengan daerah konsumsi. Salah satunya tangki timbun LPG baru di Tanjung Sekong, Cilegon. Namun, pihaknya belum bisa memastikan berapa besar penurunan harga produk ini. “Jadi (turun), masih dihitung (penurunannya),” tuturnya.


Selain masih dihitung, tutur Bambang, pihaknya juga masih menunggu kepastian kebijakan harga LPG bersubsidi 3 kilogram (kg) yang akan diputuskan oleh pemerintah. Pasalnya, sesuai APBN 2016, besaran subsidi LPG ditetapkan dengan asumsi adanya kenaikan harga Rp 1.000. “Kami masih menunggu harga LPG 3 kg dari pemerintah,” jelasnya.


Produk LPG yang kendali harganya di bawah Pertamina adalah LPG nonsubsidi, seperti LPG 12 kg dan Bright Gas. Saat ini harga jual rata-rata LPG 12 kg di agen yakni Rp 11.833 per kg. Sebelumnya Bambang pernah menyebutkan, harga LPG nonsubsidi ini bisa turun sekitar Rp 300 per kg.


Listrik Turun

PT PLN (Persero) juga mengumumkan penurunan tarif listrik nonsubsidi yang cukup signifikan mulai Januari ini. Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun menuturkan, tarif listrik bisa diturunkan berkat keberhasilan perseroan melakukan efisiensi operasi yang memangkas biaya pokok penyediaan (BPP) listrik.


Selain itu, tarif yang lebih rendah ini juga didorong oleh melemahnya harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) dan menguatnya nilai tukar Rupiah pada November 2015. Rincinya, ICP turun menjadi US$ 41,44 per barel, nilai tukar menguat menjadi Rp 13.673, dan inflasi naik menjadi 0,21%. Sementara pada Oktober 2015, ICP tercatat sebesar US$ 43,68 per barel, nilai tukar kurs Rp 13.796, dan deflasi 0,08%.


“Tarif listrik yang mengikuti mekanisme tarif adjustment pada 2016 turun banyak dibanding tarif listrik Desember 2015,” kata Benny.


Dia mengungkapkan, tarif listrik di tegangan rendah untuk pelanggan Rumah Tangga, Bisnis skala menengah, dan Kantor Pemerintah skala menengah, turun dari Rp 1509,38 per kilowatt hour (kWh) menjadi Rp 1409,16 per kWh. Berdasarkan tiga faktor tarif adjusment, tarif golongan ini turun Rp 12,3 per kWh, sementara dari pemangkasan BPP Rp 87,92 per kWh. Dengan begitu total penurunan tarif untuk golongan pelanggan tegangan rendah sebesar Rp 100,22 per kWh.


Sedangkan untuk tarif listrik di tegangan menengah bagi pelanggan Bisnis skala besar, kantor Pemerintah skala besar, industri skala menengah turun dari Rp 1104,73 per kWh menjadi Rp 1007,15 per kWh. Penurunan sebesar Rp 9,01 per kWh lantaran perubahan tiga faktor tarif adjustment, sementara Rp 88,75 per kWh dari efisiensi BPP. Sehingga total penurunan tarif yakni Rp 97,58 per kWh.


Untuk tarif listrik di tegangan tinggi bagi pelanggan Industri skala besar, turun dari Rp 1059,99 per kWh menjadi Rp 970,35 per kWh. Penurunan tarif merujuk tiga faktor tarif adjustment sebesar Rp 8,64 per kWh, sedangkan dari efisiensi BPP Rp 81,0 per kWh. Dengan begitu total penurunan tarif bagi pelanggan tegangan tinggi sebesar Rp 89,64 per kWh. (ID)

Editor :

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com