Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana

Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana

Gunakan Pelet Kayu, San San Produksi Tahu Higienis dan Hemat

Senin, 20 Januari 2020 | 14:39 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

SUBANG, investor.id – Sentra produksi tahu di Subang, Jawa Barat kembali mendapat sorotan. Kali ini karena kiatnya memproduksi tahu yang higienis dan hemat dengan menggunakan wood pellet (pelet kayu).

 

Adalah San San Group yang terletak di Kampung Susukan Girang, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pagaden - Kabupaten Subang, Jabar patut berbangga, karena hari ini (Senin, 20/1) pabrik tahu yang dikelolanya menjadi lokasi benchmark untuk penggunaan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan, berupa pelet kayu.

Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana
Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana

Dani Kusdani, 44, pemilik San San Group mengaku sudah dua bulan ini menggunakan pelet kayu sebagai bahan bakar di pabrik tahunya. Hasil yang didapat sangat signifikan, yaitu lingkungan yang higienis tidak tercemar asap. Tahu yang diproduksinya pun lebih jernih, yang tentu saja menjadi lebih sehat, di samping itu penghematan dari bahan bakar sebelumnya.

Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana
Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana

Sebelum menggunakan pelet kayu, sejak tahun 2011 Dani menggunakan kayu bakar sebanyak 2 mobil pick up per hari dengan biaya per hari sebesar Rp 700.000 untuk melakukan 80 kali jirangan untuk menghasilkan 1 ton tahu.

“Dengan jumlah produksi yang sama, saya cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 600.000 untuk bahan bakar pelet kayu sejumlah 240 kg dimana harga per kg nya Rp 2.500,” jelas Dani yang pabrik tahunya mampu memproduksi 60-70 ribu potong/ hari untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Subang dan Indramayu.

Selain kayu bakar, Dani sempat menggunakan gas elpiji 3 kg selama satu tahun. Namun penggunaan gas masih kurang cepat dalam produksi. Bahkan ia sempat ditawari untuk menggunakan limbah plastik. Beruntunglah sebelum menggunakannya ia sudah mendengar berita buruk soal limbah plastik maka tanpa pikir panjang ia tolak tawaran pengunaan limbah plastik.

Kunjungan EMI, dan Kadin ke Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana
Kunjungan EMI, dan Kadin ke Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana

Baru dua bulan lalu, ia bertemu Sari, seorang produsen pelet kayu di Subang. Setelah diujicoba ia mengaku cocok. Selain lebih murah, dari sisi tenaga kerja juga lebih meringankan. “Dulu karyawan saya kerja berat angkat-angkat sekarang tinggal menuangkan pelet kayu,” katanya

Hadir dalam kegiatan benchmark tersebut Sarwono Kusumaatmadja selaku Komisaris Utama PT Energy Management Indonesia (EMI) didampingi Antonius Aris Sudjatmiko, Direktur Operasi dan Pengembangan EMI, serta Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah, dan Miranti Serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan.

Energi bersih

Kunjungan EMI, dan Kadin ke Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana
Kunjungan EMI, dan Kadin ke Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: Investor Daiy/Gora Kunjana

Antonius Aris Sudjatmiko, Direktur Operasi dan Pengembangan PT Energy Management Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rintisan EMI untuk menyediakan energi bersih bagi masyarakat.

"EMI merupakan BUMN EBTKE, sebagai mitra strategis Pemerintah untuk penyediaan dan pemanfaatan pelet kayu sebagai energi terbarukan dari sumber energi setempat yang ramah lingkungan", kata Antoni.

Burner pelet bersih di Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: dok. EMI
Burner pelet bersih di Pabrik tahu San San Group di Subang. Foto: dok. EMI

EMI berupaya mensinergikan para pemangku kepentingan untuk mendukung program pemanfaatan biomassa ini untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat, khususnya sektor UKM, Industri kecil dan rumah tangga di pedesaan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN