Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Ki-ka): Antonius Aris Sudjatmiko, Direktur Operasi dan Pengembangan EMI, Sarwono Kusumaatmaja, Komisaris Utama EMI, Miranti Serad, Miranti serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan, pemilik pabrik pelet kayu Dwi Sariningtyas, serta Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

(Ki-ka): Antonius Aris Sudjatmiko, Direktur Operasi dan Pengembangan EMI, Sarwono Kusumaatmaja, Komisaris Utama EMI, Miranti Serad, Miranti serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan, pemilik pabrik pelet kayu Dwi Sariningtyas, serta Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Industri Pelet Kayu di Subang Butuh Dukungan Pemerintah

Senin, 20 Januari 2020 | 19:03 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

SUBANG, investor.id – Industri wood pellet atau pelet kayu sebagai bahan energi baru dan terbarukan (EBT) di Subang, Jawa Barat membutuhkan dukungan pemerintah agar bisa berkembang dan semakin banyak pengusaha kecil dan menengah (UKM) terjun di bidang ini.

“Sebaiknya pemerintah mendorong industri ini lebih maju daripada terus melekukan subsidi untuk migas yang mencapai triliunan rupiah. Kenapa gak ke pelet kayu saja. Industri ini jika dirunut dari menanam, memroduksi, hingga memasarkan melibatkan masyarakat dalam jumlah yang banyak dan tanpa butuh skill tinggi,” kata Dwi Sariningtyas saat ditemui di PT Gemilang, pabrik pelet kayu miliknya di Subang, Jawa Barat, Senin (20/1/2020).

Pabrik pelet kayu di Subang, Jabar, Senin (20/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Pabrik pelet kayu di Subang, Jabar, Senin (20/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Sari, demikian ia akrab disapa, mengungkapkan bahwa membangun pabrik pelet kayu tidak memerlukan modal besar dan bisa dipelajari dengan cepat. Sari menceritakan untuk membangun pabrik pelet kayunya pada 2014, ia cukup mempelajari seluk beluk pembuatan pelet kayu selama 1-2 bulan.

“Dengan modal yang terbatas dan melakukan trial and error dengan mesin skala kecil dalam dua tahun usahanya berjalan dengan produksi mencapai 500 ton,” katanya.

Salah satu proses pembuatan pelet kayu di Subang. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Salah satu proses pembuatan pelet kayu di Subang. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Sari mengaku, dengan karyawan 12 orang kapasitas produksi pabrik pelet kayunya saat ini stabil di 300-400 ton per bulan. Seluruh produk pelet kayunya pun habis diserap pasar dengan harga Rp 2.500 per kg. “Sehingga total dalam sebulan omzet mencapai Rp 750 juta – 1 miliar/bulan,” ujarnya.

Sari berharap ke depan pemerintah concern terhadap industri pelet kayu mengingat penggunaan pelet kayu untuk industri lebih hemat.

“Penggunaan pelet kayu untuk penggilingan beras misalnya bisa menghemat hingga 70% dibanding menggunakan gas. Jika digunakan pada industri yang menggunakan kayu bakar penghematannya mencapai 20-30%,” katanya.

Selain efisien, sambung Sari, penggunaan pelet kayu sebagai bahan bakar tidak menghasilkan asap berlebihan, atau lebih ramah lingkungan. Usaha di bidang ini juga tidak memerlukan space yang terlalu besar dibandingkan kayu bakar belum lagi jika kehujanan.

Kajian Kadin

(ki-kanan): Antonius Aris Sudjatmiko, Direktur Operasi dan Pengembangan EMI, Sarwono Kusumaatmadja, Komisaris Utama EMI, Miranti Serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan, pemilik pabrik pelet kayu Dwi Sariningtyas, serta Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah. Foto: dok EMI
(ki-kanan): Antonius Aris Sudjatmiko, Direktur Operasi dan Pengembangan EMI, Sarwono Kusumaatmadja, Komisaris Utama EMI, Miranti Serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan, pemilik pabrik pelet kayu Dwi Sariningtyas, serta Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah. Foto: dok EMI

Menanggapi harapan Dwi Sariningtyas, Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah mengatakan, yang diperlukan saat ini di Subang dan wilayah lain sejenis adalah konsep industri terpadu.

Menurut dia, pabrik pelet kayu harus didukung pabrik-pabrik pendukung lainnya. Pabrik kayu, pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah seperti jerami, dan sebagainya bisa memasok pabrik pelet kayu.

“Pengaturan sektor terpadunya masih kurang di Subang ini. Kelemahan kita memang di sektor kebijakan. Padahal pabrik pelet kayu ini kan bagus sekali, tidak mencemari lingkungan. Renewable energy,” ujarnya didampingi Miranti Serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan.

Donny mengatakan bahwa pihaknya akan segera mengkaji feasibility industri pelet kayu ke depannya. Kadin akan bekerja sama dengan produsen atau pun pengguna pelet.

“Semua aspek harus diperhitungkan tidak cuma yang tampak. Keramah lingkungannya juga harus diperhitungkan, ongkos polusinya itu juga harus dihitung. Kajian yang kita lakukan nanti harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan,” ujarnya.

Kebijakan pemerintah, menurut Donni, harus mengadvokasi masyarakat industri ini. Kadin akan menjembatani sektor riil seperti ini.

“Kita akan melakukan berbagai kajian, tapi yang urgent adalah kajian awal dulu. Misalnya penggunaan kayu dibanding pelet kayu mana yang lebih efisien. Kita hitung juga biaya-biaya yang tidak ada rupiahnya seperti kenyamanan, kebersihannya, dan sebagainya ,” ujarnya.

Perubahan iklim

Bahan mentah pelet kayu di Subang. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Bahan mentah pelet kayu di Subang. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Seementara itu, sebagai BUMN yang bergerak di bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), PT Energy Management Indonesia (Persero) atau EMI akan menjadi mitra strategis Pemerintah untuk mensinergikan dan mengintegrasikan para pemangku kepentingan di sektor energi dan lindung lingkungan, mulai dari produsen, konsumen dan masyarakat luas dalam menghadapi perubahan iklim.

“Masyarakat kita banyak yang sudah sadar akan pentingnya solusi energi altenatif dari sumber setempat yang ramah lingkungan sekaligus membuka lapangan kerja khususnya di wilayah pedesaan. Kita menghimpun stakeholder terkait untuk mendiskusikan permasalahan mulai dari permasalahan energi, penggundulan hutan, pengolahan limbah, dsb. Misalnya kelompok diskusi Pojok Iklim. Kita sudah saling kenal. Sehingga suatu permasalahan lingkungan seperti kasus penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar bisa lekas mendapat usulan solusi karena dibahas bersama,” kata Sarwono Kusumaatmadja, Komisaris Utama PT EMI saat ditemui di tempat yang sama.

Sarwono Kusumaatmadja meninjau pabrik pelet kayu di Subang, Jabar, Senin (20/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Sarwono Kusumaatmadja meninjau pabrik pelet kayu di Subang, Jabar, Senin (20/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Menurut Sarwono, industri pelet kayu sangat baik bagi masyarakat. Karena bahan-bahannya ada di sekitar mereka, proses engineering-nya pun relatif sederhana demikian teknologinya. Tidak menyusahkan. masyarakat bisa dilatih untuk mengembangkan dan memanfaatkannya.

“Dibandingkan gas misalnya yang perlu infrastruktur dan sistem distribusi yang canggih dan sangat mahal, menyebabkan energi harus dijual ke penduduk dengan harga tinggi sehingga perlu ada subsidi. Kalau bahan bakar berbasis biomassa ini (pelet kayu), dari sononya sudah murah dan dimana-mana bahan bakunya ada. Kami akan duduk di EMI untuk membahas lebih lanjut bagaimana pelet kayu ini jadi memasyarakat,” ucapnya

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN