Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
mari pangestu

mari pangestu

Mari Pangestu: Proyek Energi Fosil Sulit Dapatkan Pinjaman Internasional

Jumat, 17 Januari 2020 | 15:37 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id -  Transformasi penggunaan energi fosil menjadi energi baru terbarukan atau ramah lingkungan saat ini  menjadi syarat lembaga keuangan internasional  dalam meminjamkan dana ke berbagai negara.

Mantan Menteri Perdagangan yang kini beraktivitas di Global Commission on the Geopolitics of Energy Transformation of International Renewable Energy Agency (IRENA) Mari Elka Pangestu mengatakan, mulai 2050 beberapa lembaga  internasional seperti Bank Dunia dan juga bank komersial internasional seperti Standard Chartered tak lagi meminjamkan dana kepada proyek-proyek yang berbasis energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara.

Oleh karena itu, ia mengatakan, Indonesia juga perlu bersiap karena puncak energi fosil akan terjadi tahun 2030. Kemudian yang perlu menjadi catatan bagi Indonesia. Apalagi, energi tradisional itu masih menjadi sumber utama pada pendapatan pajak dan ekspor.

"Untuk Indonesia yang ketergantungan pada minyak bumi dan batu baranya tinggi, bukan hanya itu, tapi pajak dan ekspor, ini mungkin terjadi 5-10 tahun ke depan. Pick-nya di 2050 lah akan berubah,” jelasnya dalam diskusi di Jakarta, Jumat (17/1).

Perubahan energi juga didasarkan, oleh perubahan kebiasaan masyarakat yang mulai sadar akan lingkungan sehingga kegiatan atau produk-produk yang menggunakan energi fosil mulai ditinggalkan.

"Yang perlu disadari bahwa negara-negara termasuk di Indonesia akan terjadi transformasi penggunaan energi dari tradisional atau minyak bumi dan batu bara dan puncak penggunaan fosil fuel terjadi tahun 2030, setelah itu akan kembali turun dan semua beralih ke energi terbarukan" ucap dia.

Dia pun mencontohkan perusahaan perabotan rumah asal Swedia, IKEA, juga mulai mengurangi konsumsi energi batu bara dan minyak.

Ia mengatakan bahwa  Bank Dunia juga mulai selektif dalam menyalurkan kredit untuk pembangunan proyek energi. Sikap ini juga sudah disampaikan ke pemerintah Indonesia beberapa waktu lalu. "Jadi ada syarat-syarat sustainability-nya," kata dia.

Menurut Mari, situasi ini terjadi karena adanya tekanan dari pihak swasta dan konsumen yang menggunakan energi. Oleh karena itu,  penggunaan EBT ini tak hanya gebrakan baru atau inovasi, tapi juga akan menjadi tren.

"Dan banyak juga equity investment, private investment juga tidak mau mendanai yang berbasis fossil fuel. Jadi ini tren dunia. Ini tren menyeluruh yang terjadi di dalam energy space yang saat ini terjadi," pungkas Mari. 

Pada kesempatan yang sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan akan terus  mengembangkan energi bersih ke depannya. Hal ini didorong oleh langkah pemerintah yang memulai  penerapan Biodiesel 30% atau B30. Kemudian, itu akan berlanjut ke B100.

"Tidak semuanya menggunakan sawit, tapi juga pohon lain yang bisa menghasilkan energi," kata dia.

Di sisi lain, ia mengatakan tengah mendorong energi panas bumi atau  geotermal untuk mendorong competitiveness.

"Kita sangat membutuhkan energi selain terbarukan juga bisa memberikan competitiveness dengan industri kita. Karena dengan adanya electricity cost yang sangat kompetitif, ini industri tambang kita menjadi smelther akan berkembang dengan memberikan nilai tambah sendiri" jelasnya.
 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN