Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Minyak mentah sedang dipompa ke permukaan di Monterey Shale, California, Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Lucy Nicholson.)

Minyak mentah sedang dipompa ke permukaan di Monterey Shale, California, Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Lucy Nicholson.)

Minyak Flat, Penurunan Produksi Libya Imbangi Kekhawatiran Permintaan

Jumat, 23 April 2021 | 06:57 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Harga minyak flat (datar) pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena kekhawatiran atas penurunan produksi minyak mentah di Libya mengimbangi ekspektasi bahwa meningkatnya kasus Covid-19 di India dan Jepang akan menyebabkan permintaan minyak menurun.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni, naik tipis delapan sen atau 0,1% ditutup pada US$ 65,40 per barel. Sedangkan, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI), juga naik delapan sen atau 0,1% menjadi US$ 61,43 dolar AS per barel.

Libya mengatakan produksi minyaknya turun menjadi sekitar satu juta barel per hari dalam beberapa hari terakhir dan bisa turun lebih jauh, karena masalah anggaran.

"Pasar menyadari bahwa kembalinya permintaan minyak secara global tidak dapat datang tanpa kembalinya ekonomi-ekonomi terbesar dunia," kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak di Rystad Energy, mencatat "India sedang menyelam semakin dalam dan semakin ke dalam krisis besar dengan infeksi membuat rekor baru setiap hari."

Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan lonjakan jumlah kasus baru Covid di India memicu keraguan tentang bagaimana permintaan di sana akan meningkat. Pasar juga mencermati peningkatan infeksi di Jepang. "India dan Jepang termasuk di antara konsumen dan importir minyak terbesar dunia," katanya.

India, pengguna minyak terbesar ketiga di dunia, pada Kamis (22/4/2021) melaporkan peningkatan harian tertinggi di dunia hingga saat ini dengan 314.835 kasus baru Covid-19.

Jepang, importir minyak nomor empat dunia, diperkirakan akan mengumumkan gelombang ketiga penguncian yang mempengaruhi Tokyo dan tiga prefektur barat, media melaporkan.

Sentimen bearish yang mendasari juga dipicu oleh kemajuan pembicaraan antara Iran dan kekuatan-kekuatan dunia untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015, kata analis minyak PVM, Tamas Varga. Analis mengatakan Iran memiliki potensi untuk menyediakan sekitar 1-2 juta barel per hari (bph) tambahan pasokan minyak jika kesepakatan tercapai.

Setiap peningkatan pasokan dari Iran akan berada di atas barel ekstra yang sudah diperkirakan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, yang berencana untuk mengembalikan sekitar dua juta barel per hari produksi selama tiga bulan berikutnya.

Anggota OPEC+ akan bertemu minggu depan, tetapi perubahan besar pada kebijakan produksi tidak mungkin terjadi, kata Wakil Perdana Menteri Rusia dan sumber OPEC+.

Dalam jangka panjang, permintaan minyak diperkirakan akan terpukul, karena lebih banyak negara mengadopsi kebijakan untuk memerangi perubahan iklim.

Amerika Serikat dan negara-negara lain menaikkan target mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada pertemuan puncak iklim global yang diselenggarakan oleh Presiden Joe Biden, sebuah acara yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali kepemimpinan AS dalam perang melawan pemanasan global.

Biden mengungkapkan tujuan untuk mengurangi emisi hingga 50-52% dari tingkat yang ada pada 2005. Jepang hampir menggandakan targetnya untuk mengurangi emisi karbon menjadi 46% pada 2030.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN