Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: pompa minyak beroperasi di Willow Springs Park di Long Beach, California, AS. (Foto: Apu GOMES / AFP)

Ilustrasi: pompa minyak beroperasi di Willow Springs Park di Long Beach, California, AS. (Foto: Apu GOMES / AFP)

Minyak Rebound, Respons OPEC+

Rabu, 28 April 2021 | 07:07 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Harga minyak rebound pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), ketika OPEC + setuju untuk tetap berpegang pada rencana sedikit meningkatkan produksi mulai 1 Mei, menunjukkan mereka tidak melihat dampak jangka panjang terhadap permintaan dari krisis virus Covid-19 di India.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni bertambah 77 sen atau 1,2% menjadi US$ 66,42 per barel setelah mencapai tertinggi pada level US$ 66,51 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melonjak US$ 1,03 atau 1,7% menjadi US$ 62,94 per barel.

OPEC+, sebutan sebagai kelompok produsen, telah membatalkan rencana untuk mengadakan pertemuan tingkat menteri penuh pada Rabu, kata sumber. Sebuah pertemuan teknis pada Senin (26/4/2021) telah menyuarakan keprihatinan tentang lonjakan kasus Covid-19 tetapi tetap mempertahankan perkiraan permintaan minyaknya tidak berubah.

Panel memutuskan untuk tetap berpegang pada kebijakan yang disepakati secara luas pada pertemuan OPEC+ 1 April sebelumnya, kata Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak setelah pembicaraan.

OPEC+ menetapkan untuk sedikit mengurangi pengurangan produksi minyak mulai 1 Mei, di bawah rencana yang disepakati sebelum lonjakan virus corona di India.

India, importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia, telah mencatat kenaikan harian lebih dari 300.000 kasus selama beberapa hari. India juga telah melaporkan total hampir 200.000 kematian.

"Kemungkinan peningkatan produksi OPEC+ dapat saling silang dengan melemahnya permintaan minyak Asia menunjukkan kemungkinan berakhirnya pengurangan surplus pasokan minyak global yang telah mendukung kompleks tersebut selama setahun terakhir," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.

Rekor pemotongan pasokan OPEC+ tahun lalu membantu mendorong pemulihan harga dari posisi terendah dalam sejarah. Sebagian besar pembatasan-pembatasan masih berlaku, bahkan setelah rencana untuk sedikit meningkatkan produksi mulai Mei.

“Dengan hanya sedikit peningkatan produksi di luar OPEC+, dan OPEC+ melakukan pendekatan yang hati-hati, kami memperkirakan pasar minyak akan kekurangan pasokan sebesar 1,5 juta barel per hari tahun ini dan memperkirakan Brent akan mencapai 75 dolar AS per barel pada paruh kedua tahun ini," analis GWM UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan.

Sementara itu, harga minyak melepaskan beberapa keuntungan dalam perdagangan pasca penyelesaian setelah stok minyak mentah AS naik sekitar 4,32 juta barel pekan lalu, kata sumber, mengutip data dari American Petroleum Institute.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN