Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pertamina Tunggu Komitmen Pembayaran Utang TPPI

Senin, 1 Agustus 2011 | 16:50 WIB
Antara

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menunggu komitmen pembayaran utang yang dijanjikan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama hingga batas akhir 15 Agustus 2011.

Juru Bicara Pertamina M Harun di Jakarta, Senin mengatakan, pihaknya sudah terlalu lama menunggu pembayaran utang TPPI tersebut. "Utang ini sudah lama tertunggak," katanya.

Pada 9 Mei 2011, term sheet (lembar persyaratan) restrukturisasi utang TPPI bersama induk perusahaan, PT Tuban Petrochemical Industries dan anak perusahaan lainnya telah ditandatangani.

Sesuai term sheet itu, batas akhir pembayarannya adalah tanggal 26 Juli 2011. "Namun, mereka (TPPI) minta pembayaran diundur hingga 15 Agustus 2011," kata Harun.

Ia juga mengatakan, Pertamina sudah terlalu sering memberi kemudahan pembayaran utang kepada TPPI. Bahkan, lanjut Harun, Pertamina sudah membantu TPPI mengoperasikan kembali kilangnya.

"Kami tidak ingin hanya itikad baik saja, tapi juga realisasi pembayarannya sesuai kesepakatan," ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar, Dito Ganinduto juga meminta, pemerintah mempercepat restrukturisasi utang TPPI agar kilang bisa segera beroperasi secara optimal.

Opsi penyelesaiannya ada dua yakni melalui pembayaran utang atau pengambilalihan aset. "Intinya, harus ada penyelesaian. Jangan ditunda-tunda terus," ujarnya.

Menurut dia, Indonesia membutuhkan kilang untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) yang terus meningkat.

Saat ini, dari kebutuhan BBM baik subsidi maupun nonsubsidi sekitar 60 juta kiloliter, sekitar 60% dipenuhi kilang dalam negeri dan 40% impor.

Porsi impor itu, lanjutnya, akan makin bertambah karena kapasitas kilang dalam negeri tetap, sementara kebutuhan terus meningkat. "Karenanya, segera mengoptimalkan kilang TPPI menjadi krusial," katanya. (gor/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN