Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

Aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

PLTA Batang Toru, Bagian dari Proyek Penyelamatan Bumi

Rangga Prakoso/Nurjoni, Jumat, 17 Januari 2020 | 15:08 WIB

JAKARTA, Investor.id – Saat ini semua negara di dunia sedang berjuang untuk "menjinakkan" perubahan iklim yang terjadi secara ekstrem. Perubahan pola cuaca, kenaikan permukaan air laut dan emisi gas rumah kaca (GRK) sekarang berada di level tertinggi dalam sejarah. Tanpa adanya aksi nyata, suhu bumi kemungkinan akan naik rata-rata di atas 3 derajat Celcius pada abad ini.

Penggunaan bahan bakar fosil secara masif untuk memenuhi kebutuhan industri dianggap sebagai "biang keladi" penyebab suhu di permukaan bumi lebih panas. Untuk itu, berbagai negara menyerukan agar penggunaan energi yang ramah lingkungan lebih digalakkan untuk "menyelamatkan" bumi.

“PLTA Batang Toru adalah proyek penyelamatan bumi," kata pengamat lingkungan Emmy Hafild, Minggu (22/12). Pasalnya, proyek tersebut menggunakan energi terbarukan (renewable energy).

Menurut dia, proyek PLTA Batang Toru sedang dikerjakan oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) itu bukanlah PLTA yang reservoir (waduk), tapi hanya berupa kolam penampung harian. "Itu bagus, apalagi sampai bisa menghasilkan listrik sebesar 510 megawatt,” tegas Emmy.

Emmy Hafild menegaskan, Indonesia memiliki peran untuk melindungi bumi dari sektor energi dengan menggalakkan penggunaan energi terbarukan (renewable energy). Peran tersebut  dapat dilakukan dengan membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang memanfaatkan aliran sungai (run-of-river). Salah satunya adalah PLTA Batang Toru.

"PLTA Barang Toru tidak membuat orangutan punah, karena lahan yang dibutuhkan hanya sedikit. PLTA Batang Toru punya kemampuan menurunkan 1,6 juta ton karbon atau setara dengan 12,3 juta pohon, atau 230 ribu hektare hutan primer,” ujarnya.

Ia mengingat, dampak dari perubahan iklim akan mendisrupsi ekonomi-ekonomi nasional dan mempengaruhi kehidupan, merimbulkan kerugian masyarakat, komunitas dan negara-negara di masa kini dan di masa mendatang.

Di Indonensia, dampak perubahan iklim bisa dilihat dari  banyaknya kasus bencana, seperti banjir, kebakaran hutan dan kekeringan di sejumlah daerah. Bahkan, Jakarta diramalkan bakal tenggelam akibat terus meningkatnya muka air laut.

Penggunaan energi terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memiliki peran menurunkan kadar emisi karbon sekaligus meningkatkan kualitas kelestarian lingkungan guna memitigasi dampak perubahan iklim. Sebagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dari sektor energi, Indonesia menghadirkan energi terbarukan berupa PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Salah satu sumber terbesar peningkatan emisi karbon di muka bumi berasal dari sektor energi. Sejak ratusan tahun lalu manusia terus menerus melepaskan (emisi) karbondioksida (CO2) ke atmosfer dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil, seperti batu bara, gas bumi, dan minyak bumi. Peningkatan emisi karbon berdampak buruk karena memerangkap panas sinar matahari. Akibatnya, suhu bumi naik sehingga terjadi pemanasan global dan iklim pun berubah.

Pembakaran bahan bakar fosil dinilai lebih cepat menyebabkan suhu di permukaan bumi lebih panas. Peningkatan emisi karbondioksida di atmosfer akan membuat permukaan bumi lebih panas. Dengan peningkatan suhu 1 derajat Celcius, dunia menghadapi gelombang panas yang semakin mematikan, kekeringan, banjir dan siklon tropis yang merusak serta permukaan air laut naik.

Perubahan iklim sekarang ini sudah mempengaruhi setiap negara di semua benua Masyarakat miskin yang paling rentan terkena dampaknya. Perubahan pola cuaca juga akan menyulitkan pola pertanian petani, dan pada akhirnya mengganggu sistem reproduksi tanaman dan hewan.

Komitmen Paris Agreement

 Sementara itu, Communications and External Affairs Director PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) Firman Taufick mengatakan, PLTA Batang Toru merupakan bagian dari pelaksanaan komitmen Pemerintah Indonesia dalam Paris Agreement untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% dengan usaha sendiri pada 2030.  “Proyek ini termasuk bagian dari upaya nasional untuk mengurangi emisi karbon. Kalau PLTA diberhentikan sama saja menebang 12,3 juta pohon,” kata Firman. 

 Perhitungan ini merujuk pada pengalaman pengoperasian PLTA Asahan 1 yang berada di Toba Samosir, Sumatera Utara. Pembangkit tersebut pernah mendapatkan kredit karbon melalui Clean Development Mechanism (Kyoto Protocol) di 2011. PLTA Asahan 1 menggunakan Grid Carbon Emission Factor sebesar 0,873. Apabila diasumsikan bahwa minimal PLTA Batang Toru mendapatkan CEF sama dengan PLTA Asahan 1 maka besarnya pengurangan emisi karbon adalah 0,873 x 2.124.000 = 1.550.520 atau lebih kurang 1,6 juta ton/tahun.

Pengurangan emisi karbon 1,6 juta ton/tahun atau setara kemampuan 12,3 juta pohon Saga menyerap emisi karbon sangat penting saat ini dan ke depan bumi menghadapi ancaman besar berupa perubahan iklim, yang dapat mengakibatkan kepunahan peradaban manusia. Penyebab utamanya adalah peningkatan emisi karbon.

PLTA Batang Toru berkapasitas 4x127,5 MW merupakan bagian dari Program Strategis Nasional untuk mencapai target pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. Proyek ini merupakan proyek Independent Power Producer (IPP) yang dibangun oleh PT North Sumatera Hydro Energy (PT NSHE) dan dapat memasok 15% dari beban puncak Sumatera Utara.

PLTA Batang Toru menggunakan run-of-river system, sehingga tidak membendung sungai, seperti yang terjadi pada PLTA reservoir. Oleh karenanya, proyek ini tidak membangun dam sebagai reservoir seperti bangunan PLTA pada umumnya untuk menampung air dalam jumlah banyak. Mekanisme run-of-river ini menggunakan kolam tandon harian yang menampung air. Tandon itu kemudian dialirkan melalui  terowongan bawah tanah menuju power house untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik 510 MW.

Dengan demikian, dampak terhadap aliran sungai di bagian hilir sangat minimal, fluktuasi aliran sungai hampir tidak berbeda dengan kondisi normal. Karena tidak membangun dam sebagai reservoir sehingga luas genangan PLTA Batang Toru irit lahan yaitu hanya 90 hekater (ha) yang terdiri atas badan sungai 24 ha dan tambahan genangan baru 66 ha. Lokasi proyek pembangkit pun berada di Area Penggunaan Lain (APL).

Pemakaian energi air untuk pembangkit listrik maka otomatis PLTA Batang Toru secara fundamental akan mempertahankan dan selalu berkomitmen untuk menjalankan program kelestarian kawasan Ekosistem Batang Toru yang menghasilkan air sebagai bahan baku operasinya. Karena itu, PLTA Batang Toru peduli program konservasi termasuk satwa liar seperti orangutan yang ada di dalamnya.

PLTA Batang Toru memerlukan lingkungan sebagai penyimpan air secara alamiah. Oleh karena itu,  selain Amdal, PLTA Batang Toru menjalankan Equatorial Principles sejak proses pembangunannya. Komitmen perusahaan untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dan biodiversitas melibatkan berbagai pihak serta sejalan dengan program pemerintah dalam mengantisipasi perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming).    

Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan yang bersumber dari Sungai Batang Toru untuk dikonversi menjadi energi listrik oleh PT NSHE merupakan contoh nyata dalam skema pemanfaatan jasa lingkungan yang bersumber dari air.

Aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara
Aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

PLTA Diperlukan     
Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sugeng Suparwoto mengatakan, proyek PLTA dibutuhkan untuk menambah daya listrik serta mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa proyek PLTA pun harus mengedepankan aspek kelestarian lingkungan. "Energi dan lingkungan harus berjalan seiring sebagaimana mestinya," kata Sugeng kepada Investor Daily, di Jakarta, belum lama ini.

Sementara itu, dalam peta jalan (roadmap) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pengembangan energi terbarukan hingga 2025 menempatkan PLTA dengan  porsi kapasitas terbesar, yakni mencapai sekitar 13.000 MW. Kemudian, disusul pembangkit listrik panas bumi (PLTP) dengan kapasitas 6.300 MW.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto menerangkan, PLTA dan PLTP yang dominan hingga 2025 mendatang. "Kalau sampai 2025, iya PLTA dan PLTP. Tapi proyek baru yang paling cepat (pembangkit) surya dan angin," terang dia.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), Pemerintah Indonesia menargetkan kontribusi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi pembangkitan tenaga listrik mencapai 23% pada 2025 dan naik menjadi 31% pada 2050. Sementara peran energi fosil yang berasal dari minyak bumi harus lebih kecil dari 25% pada 2025 menjadi 20% pada 2050,  batu bara 30% pada 2025 dan paling sedikit 25% pada 2050, dan gas alam dari  22% pada 2025 menjadi 24% pada 2050.

Target bauran energi nasional (energy mix) tersebut akan dicapai dengan membangun tambahan pembangkit EBT sebanyak 2.000 MW per tahun. Salah satu pembangkit EBT tersebut adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mengingat Indonesia memiliki potensi sumber energi dari air hingga 75.000 MW. Saat ini, sebanyak 10% dari 13% porsi penggunaan EBT dalam produksi listrik nasional, disumbang PLTA dan PLTP. Sementara itu, 3% sisanya bersumber dari pembangkit EBT lain seperti panel surya, angin maupun biomassa.

Dari total potensi 75.000 MW, Sumatera berpotensi menghasilkan listrik berkapasitas 15.600 MW dari PLTA. Salah satunya adalah aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sungai Batang Toru menyimpan potensi energi baru terbarukan yang besar. Sungai ini memiliki panjang kurang lebih 174 kilometer dengan lebar mencapai 40-60 meter dan kemiringan tebing sungai mencapai 45-60 derajat.     

Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2019-2028, Kementerian ESDM telah menginstruksikan kepada PLN agar terus mendorong pengembangan energi terbarukan. Untuk mencapai target bauran EBT minimum 23% pada tahun 2025, dibutuhkan penambahan kapasitas pembangkit listrik dari energi terbarukan sebesar 16.714 megawatt (MW) yakni masing-masing PLTP 4.607 MW (8%), PLTA 9.543 MW (17%), dan EBT Lain 2.564 MW (5%) dari total rencana pengembangan kapasitas pembangkit untuk 10 tahun ke depan sebesar 56.395 MW.

Hingga kurtal I-2019, realisasi bauran energi (energy mix) baru mencapai 13,42% dari target 25%. Rinciannya, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 1.924 MW,  pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 4.947 MW, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 75 megawatt (MW), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 42 MW.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA